
Nora mengecek jam tangannya dengan gelisah. Sudah pukul empat sore, tapi ruangan musik masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang sudah datang untuk rapat pertama kepengurusan ekstrakurikuler musik tahun 2023/2024. Nora merasa kesal dengan keterlambatan anggotanya. Ini menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab dan semangat mereka.
Nora berjaga-jaga di depan pintu ruangan musik. Ia melihat satu per satu anggotanya yang masuk dengan santai, seolah-olah tidak peduli dengan waktu. Nora menahan diri untuk tidak marah. Ia memutuskan untuk memberi batas waktu sampai pukul 16.25 lagi. Jika ada yang belum datang, ia tidak akan mengizinkan mereka mengikuti rapat.
“Semua duduk melingkar di sini!” perintah Nora dengan tegas. “Jangan ada yang berkerumun di tempat lain!”
Anggotanya bergegas memenuhi perintahnya. Mereka duduk melingkar di tengah ruangan, tanpa berbicara. Nora memandang mereka dengan tajam. Ia menghitung jumlah mereka dengan cepat.
“Baru 32 orang yang hadir,” gumam Nora dengan tidak senang. “Padahal kita punya 37 orang di kepengurusan ini. Koordinator masing-masing divisi, cek kehadiran anggota kalian!”
Nora membuka buku catatan di tangannya. Ia menulis nama-nama anggota yang hadir dan yang tidak hadir. Ia berencana untuk memberi sanksi kepada mereka yang tidak hadir tanpa alasan.
“Oke, waktu diskusi kalian sudah habis,” kata Nora setelah beberapa menit. “Sekarang kita mulai rapatnya. Kita akan mendengar laporan dari divisi alat musik, vokal, penampilan, humas, dan dokumentasi secara bergantian. Jelaskan alasan keterlambatan atau ketidakhadiran anggota kalian dengan jelas. Jika tidak, saya anggap mereka tidak ada keterangan.”
Nora mendengarkan laporan dari koordinator tiap divisi dengan seksama. Ia mencatat alasan-alasan yang mereka berikan. Ada yang sakit, ada yang ada urusan keluarga, ada yang lupa, dan ada yang malas. Nora merasa kesal dengan alasan terakhir itu. Ia memutuskan untuk memberi kesempatan kali ini saja, karena ini rapat pertama. Tapi jika terulang lagi, ia tidak akan memberi sertifikat kepada mereka yang tidak aktif.
“Baiklah,” kata Nora setelah semua laporan selesai. “Koordinator tiap divisi, tolong atur anggota kalian dengan baik. Rapat ini penting untuk merancang program kerja ekstrakurikuler musik kita untuk tahun ini. Ini bukan rapat panitia lomba, tapi rapat kepengurusan.”
Nora menoleh ke sekretaris umumnya yang sedang mengoperasikan laptop di dekatnya. Ia memberi isyarat kepadanya untuk mempersiapkan presentasi.
Nora berdiri dan menggeser papan tulis ke tengah ruangan. Ia menulis ‘Program Kerja Ekstrakurikuler Musik tahun 2023/2024’ di atas papan tulis dengan spidol hitam.
“Ini adalah program kerja kita untuk tahun ini,” kata Nora sambil menunjuk tulisan itu. “Kita akan membahas apa saja kegiatan yang akan kita lakukan selama kepengurusan ini.”
Nora tersenyum tipis dan melanjutkan, “Selamat sore, teman-teman sekalian. Terima kasih sudah datang ke rapat pertama kita. Hari ini kita hanya akan membahas program kerja kita untuk tahun ini. Ada yang punya saran atau usulan?”
Tangan Rian terangkat. Ia adalah anggota divisi alat musik yang pandai bermain gitar. Ia tersenyum dan berkata, “Aku punya saran, Nora. Gimana kalau kita adain workshop musik? Kita bisa belajar lebih banyak tentang cara bermain alat musik dan menyanyi. Kita bisa undang instruktur profesional atau musisi yang berpengalaman.”
Nora mengangguk-angguk. Ia suka dengan ide Rian. Ia bertanya kepada anggota yang lain, “Siapa yang setuju dengan ide Rian? Workshop musik bisa jadi salah satu program kerja kita.”
Nora tersenyum. Ia sudah memikirkan hal itu. Ia menjawab, “Itu juga yang harus kita pikirkan, Tara. Kita harus bikin anggaran dan cari sumber dana buat workshop musik. Mungkin kita bisa ajukan proposal ke sekolah atau cari sponsor dari pihak luar.”
Nora melihat anggota yang lain mengangguk-angguk. Mereka sepertinya tertarik dengan ide workshop musik. Nora merasa senang. Ia berharap rapat ini bisa berjalan lancar dan produktif.
Nora menutup rapat berkas-berkas yang sudah dibahas dalam rapat ekstrakurikuler musik. Ia menatap wajah-wajah anggota yang hadir dengan senyuman hangat. “Terima kasih, Dika. Saya sangat mengapresiasi bantuannya. Ada lagi yang mau menambahkan?” ucapnya dengan nada ramah.
Tiba-tiba, sebuah tangan terangkat tinggi-tinggi di antara kerumunan. Seorang cewek berambut panjang dan berwajah ceria melompat-lompat dari kursinya. “Aku ada saran, Nora. Selain workshop musik, aku juga punya ide untuk membuat festival musik antar sekolah. Kita bisa mengundang sekolah-sekolah lain yang punya ekstrakurikuler musik untuk berpartisipasi dalam festival musik. Kita bisa menampilkan karya-karya musik kita dan juga melihat karya-karya musik dari sekolah lain.” Ia berbicara dengan penuh semangat.
Nora mengangguk-angguk sambil mendengarkan usulan dari Lia, salah satu anggota paling aktif dan kreatif di ekstrakurikuler musik. Ia terkesan dengan ide festival musik antar sekolah yang diajukan oleh Lia. Namun, ia juga sadar bahwa ide tersebut tidak mudah untuk direalisasikan. “Wah, ide keren, Lia. Festival musik antar sekolah bisa jadi ajang silaturahmi dan apresiasi musik. Tapi, tentu saja, festival musik juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apakah kita sanggup mengadakannya?” sahutnya dengan nada ragu.
Lia tidak kehilangan semangatnya. Ia yakin bahwa festival musik antar sekolah adalah ide yang brilian dan bermanfaat. Ia punya beberapa solusi untuk mengatasi masalah biaya yang mungkin timbul. “Aku rasa kita bisa, Nora. Kita bisa bekerja sama dengan sekolah-sekolah lain yang ikut festival musik untuk berbagi biaya dan tanggung jawab. Kita juga bisa mencari sponsor atau donatur yang mau mendukung festival musik,” jawabnya dengan tersenyum lebar.
Nora merasa yakin dengan jawaban Lia. Ia melihat bahwa Lia sudah mempersiapkan ide festival musik antar sekolah dengan matang dan detail. Ia pun memutuskan untuk menyetujui usulan tersebut dan mengajak anggota lain untuk memberikan pendapatnya. “Baiklah, Lia. Aku suka ide festival musik antar sekolah ini. Siapa yang setuju?” tanyanya sambil mengacungkan tangannya.
Tak lama kemudian, tanggan-tangan lain ikut terangkat ke udara sambil berseru-seru.
“Aku setuju, Nora. Festival musik antar sekolah pasti seru dan menyenangkan. Kita bisa berbagi pengalaman dan belajar dari sekolah lain.” Itu suara Dika, ketua ekstrakurikuler musik sebelum Nora.
“Aku juga setuju, Nora. Festival musik antar sekolah pasti menambah wawasan dan motivasi kita dalam berkarya musik.” Itu suara Rani, salah satu anggota senior yang paling jago main gitar.
“Sama, aku juga setuju, Nora. Festival musik antar sekolah pasti meningkatkan prestasi dan reputasi ekstrakurikuler musik kita.” Itu suara Rizky, salah satu anggota junior yang paling rajin latihan vokal.
“Oke, teman-teman. Sepertinya kita semua setuju dengan ide workshop musik dan festival musik antar sekolah sebagai program kerja lanjutan ekstrakurikuler musik kita untuk tahun pengurusan ini. Sekarang, mari kita buat rencana pelaksanaan dan anggaran untuk kedua program kerja tersebut.” Nora menuliskan beberapa hasil rapat yang ada kali ini dengan puas, setidaknya ada hasil yang pasti.
Rapat berjalan dengan lancar walaupun ada kendala dalam menunggu anggota yang datang tidak sesuai pukul yang dijanjikan. Saat ingin pulang, Nora melihat sebuah pemandangan yang membuatnya tertarik. Di depan gerbang sekolah, ada beberapa orang yang sedang merundung seorang siswa. Nora mengambil ponselnya dan mulai merekam kejadian itu dengan diam-diam. Ia punya rencana untuk menggunakan rekaman itu sebagai bahan investigasi.
“By the way, you guys are going to get in trouble,” gumam Nora dengan senyum misterius di bibirnya.