
Di tempat yang lain di sekolah, Ervin sedang berhadapan dengan Giovanni di depan kelas. Tatapan keduanya terlihat tajam meskipun mereka sekarang masih dalam jam pembelajaran. Mereka berdiri di depan kelas dan awalnya murid-murid serta guru tidak tahu perseteruan keduanya.
“Lo maunya aja dibodohi! Dia nggak sebaik yang kita kira, Vin!” kata Giovanni dengan mengguncang pundak Ervin agar membuat lelaki itu sadar.
“Itu urusan gue, Bang. Lagipula gue percaya dia nggak kayak gitu,” balas Ervin dengan menepis tangan Giovanni yang masih berada di pundaknya.
Giovanni yang mendengar hanya bisa tertawa miris. Lelaki itu mungkin mengira jika Ervin terlalu bodoh dan selalu saja baik kepada orang. Ia tidak bisa lagi berkata apapun, karena tahu waktu itu ia merekam Pembicaraan ketiga orang itu.
“Karna cewek lo jadi bodoh dan nggak percaya sama gue. Ervin lo bego banget,” ejek Giovanni dengan menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
Ervin terdiam dengan menatap kepergian Giovanni. Kata-kata yang diucapkan oleh Giovanni tampak berputar di dalam kepalanya. Ia bukannya tidak mempercayai Giovanni yang merupakan sahabat juga saudara baginya. Namun, ia juga tidak mempercayai jika gadis itu akan melakukan hal tidak penting seperti itu.
Nora adalah gadis yang dimaksudkan oleh Giovanni sebagai orang yang bakal mengkhianati dirinya. Gadis yang baik dengan segala bakat yang dimilikinya. Gadis yang selalu menjadi dewi Prestige juga contoh baik buat murid-murid sekolah.
Ervin hanya tersenyum tipis dengan bergumam, “Walaupun beneran terjadi gue bakal nerima rasa sakit itu karna gue udah jatuh dalam pesona Nora.”
Kemudian, Ervin berjalan masuk ke dalam kelasnya. Ia memikirkan bagaimana caranya dia jatuh cinta kepada gadis populer itu. Dimana gadis itu sudah menjadi kakak tirinya. Ia tidak bisa melupakan hari-hari itu dimana sebuah pertemuan pertama mereka.
Pada tanggal 18 Juli 2023 yang merupakan hari kedua sekolahnya melakukan MPLS. Ervin duduk di aula sekolah bersama murid baru lainnya. Duduk dengan kursi empuk juga AC dinyalakan sehingga tidak ada kata panas terucap dimulut murid-murid.
Ervin mendengarkan penjelasan dari guru yang menjelaskan pembagian jadwal nantinya. Ia menyimak dengan baik dan kadangkala menggunakan ponsel untuk memfoto layar di depannya.
“Vin, nanti gue minta foto itu, ya. Gue males foto,” bisik Joy dengan tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
Ervin mengangguk kepalanya. Ia memperhatikan pergerakan yang dilakukan kakak-kakak kelas. Kemudian terdengar suara langkah kaki masuk ke atas panggung aula.
Ia mengamati pakaian PDH ekstrakurikuler yang terlihat sangat bagus. Namun, ada satu orang yang membuatnya tertarik. Seorang gadis yang merupakan orang yang melakukan pidato sebagai perwakilan siswa waktu pembukaan MPLS. Ia dapat memastikan gadis itu sangat pintar sehingga diminta mewakili sekolah sebagai siswa menyambut pembukaan di hari pertama MPLS.
“Coba lo liat cewek yang pakai PDH biru malam. Itu siswa perwakilan sekolah, kan?” tanya salah satu siswa kepada salah satu siswi di sampingnya dengan penasaran.
“Oh, itu. Cewek itu namanya Nora , anak kebanggaan SMA kita. Dia populer banget apalagi kalau urusan akademik sama seni,” jawab salah satu siswi dengan kagum.
“Haha, kalau gue ngincar dia gimana?” goda salah satu siswa dengan santai.
“Cih, coba aja nggak bakal mempan dia sama godaan buaya maut kayak lo,” sahut salah satu siswi dengan sinis.
Ervin yang mendengar seketika merasa kagum. Ia sangat menantikan gadis bernama Nora itu berasal dari ekstrakurikuler apa dan hal apa yang mereka tampilkan. Jika dia berteman dengan gadis seperti itu pasti akan tambah pintar juga ambisius.
Murid-murid lain juga dirinya memperhatikan penampilan dari beberapa ekstrakurikuler. Suara gelak tawa kadangkala bergema di aula. Namun, hanya satu ekstrakurikuler yang menyita hatinya. Ekstrakurikuler fotografi yang sudah digeluti dirinya sejak SMP. Ervin melihat dengan penuh minat bagaimana anggota ekstrakurikuler fotografi menampilkan karya-karya mereka di layar besar. Ada foto-foto alam, hewan, manusia, benda, dan lain-lain yang terlihat sangat indah dan profesional. Ervin merasa terinspirasi dan ingin bergabung dengan ekstrakurikuler itu.
Penampilan terakhir merupakan ekstrakurikuler musik. Kemunculan gadis bernama Nora membuat para murid anggota OSIS juga murid yang sedang ada jam kosong sebagai penonton mereka bertepuk tangan dan berteriak heboh. Nora dan anggota musik lainnya berpegangan tangan lalu membungkuk ke hadapan para penonton.
“Selamat siang menuju sore semuanya! Perkenalkan nama saya Nora Rachel Shopia sebagai ketua ekstrakurikuler musik beserta anggota yang lain mengucapkan selamat datang kepada siswa baru SMA Prestige International. Nantikan kami mengalunkan musik yang indah , selamat menikmati!” kata Nora dengan tersenyum lebar dan mengangkat tangannya ke atas.
Suara alunan musik band terdengar dengan jelas. Murid-murid yang mendengar suara instrumen musik yang familiar seketika berteriak. Alunan musik dari girlgroup K-Pop yang terdengar di telinga mereka. Percampuran musik band dan klasik mereka muat dalam satu alunan musik.
“Woah, lagu Blackpink Ice Cream, anjir!” jerit seorang murid dengan antusias.
“Instrumen lagunya jadi lebih keren! Hebat banget Kak Nora sama anggota musik lainnya!” puji murid lain dengan kagum.
Satu aula seketika berdiri dan bernyanyi bersama bahkan sampai tidak sadar lagunya masuk di reff. Suara lembut terdengar di tengah-tengah alunan musik. Suara itu merupakan milik gadis yang menjadi ketua ekstrakurikuler musik.
Ervin kagum dengan bertepuk tangan , walaupun tidak tahu makna lagu tersebut. Ia membuka kamera ponselnya dengan mengambil foto Nora yang berada di tengah-tengah panggung juga di bawah cahaya. Pemandangan yang tidak bisa dilewatkan. Setelah kejadian hari itu ia tidak pernah melihat keberadaan Nora.
Namun, pada tanggal 27 Juli 2023 ia kembali melihat dan berbicara dengan gadis itu , dalam keadaan tidak baik-baik saja. Rasanya ia malu, tetapi itu merupakan pertemuan pertama mereka sehingga sampai sekarang mereka masih berhubungan.
“Ervin!”
Ervin terbangun dari melamun. Ia menatap ke samping kursinya dimana Joy, sahabatnya dari SMP. Gadis itu menatapnya dengan khawatir mungkin karena dirinya yang diam saja waktu dipanggil.
“Lo sakit? Kalau sakit gue antar ke UKS,” ajak Joy dengan memegang tangan Ervin.
Ervin menggelengkan kepalanya. Ia menatap ke arah pintu dengan diam begitu saja. Namun, ia kembali menatap ke arah guru lalu beralih kepada Joy.
“Joy menurut lo Nora itu gimana?” tanya Ervin yang begitu tiba-tiba.
“Nora? Lo manggil dia nggak pakai embel kak?” cecar Joy yang bertanya balik bukannya menjawab.
“Iya, jawab aja dulu.” Ervin menatap ke arah Joy dengan harap.
Joy menatap Ervin dengan heran. Lelaki itu tidak biasanya bertanya tentang gadis kepadanya. Biasanya justru itu dirinya yang bertanya tentang cowok lain.
“Kak Nora itu baik, cantik, ramah, pintar, dan banyak lagi. Pokoknya Kak Nora itu paket komplit bagi kaum cewek juga populer di kalangan anak cowok. Banyak orang yang ngejar Kak Nora dan deketin dia dengan embel mau berteman padahal cuman modus saja!” jawab Joy dengan mengatakan seadanya yang ia dengar dari teman-temannya.
“Menurut lo kalau dia itu mainin perasaan orang lain mungkin nggak?” tanya Ervin sekali lagi.
“Kayaknya nggak mungkin, deh. Kak Nora itu baik banget waktu gue liat, kecuali mungkin aja kalau ada sesuatu keadaan yang ngebuat dia berubah.” Joy menjawabnya dengan tidak yakin.
Ervin yang mendapatkan jawaban hanya mengangguk pelan. Ia tidak yakin jawaban tersebut bisa membuat pikirannya berubah tentang dunianya bersama Nora. Dari sini ia mengetahui dirinya sudah jatuh ke dalam pesona kakak tirinya sendiri.