
Nora membuka pintu ruangan adik kelasnya dengan hati-hati. Ia mencari sosok yang ingin ia temui di antara para siswa yang sibuk dengan urusan masing-masing. Matanya berhenti pada Ervin, seorang lelaki yang duduk di pojok ruangan, asyik menulis sesuatu di buku catatannya. Nora tersenyum dan berjalan mendekatinya.
Ervin memiliki rambut hitam yang terpotong rapi, menambah kesan tegas dan cerdas pada wajahnya yang kabur. Meskipun wajahnya kabur, Nora bisa merasakan tatapan matanya yang tajam dan menembus. Apalagi saat lelaki itu mengenakan kacamata putih, tatapannya semakin serius dan memikat.
“Ervin,” panggil Nora lembut.
Ia mengangkat tangannya dan meletakkannya di samping wajah Ervin. Ervin menoleh ke arahnya, sehingga pipinya menyentuh jari Nora. Nora melihat ekspresi terkejut di wajah lelaki itu.
“Kak Nora?” Ervin bertanya dengan nada bingung.
Nora tertawa kecil melihat wajah lucu Ervin. Ia tidak bisa melupakan hal lucu yang terjadi sebelumnya.
“Kantin, yuk! Gue traktir lo. Anggap aja rasa terima kasih dari gue karena lo udah bantu gue tadi,” ajak Nora dengan menarik tangan Ervin.
Ervin tidak bergerak dari tempatnya. Ia menggenggam tangan Nora dengan erat dan menggelengkan kepalanya. Ia berkata dengan suara lirih, “Gue bantu Kak Nora nggak ada niat dibalas apa-apa, Kak. Lagian Kak Nora juga udah bantu gue waktu itu. Akhir-akhir ini mereka nggak ganggu gue lagi di sekolah.”
Nora tersenyum manis dan menepuk pundak Ervin. “Ya, santai aja kali. Berarti baguslah lo nggak dibully sama mereka lagi,” ucapnya dengan nada menghibur. “Jadi lo nggak perlu khawatir tentang yang lain, kan? Yuk, kantin!”
Nora menarik tangan Ervin lagi tanpa mendengarkan penolakan dari lelaki itu. Baru saja mereka keluar ruangan, orang-orang mulai berbisik-bisik menatap ke arah mereka. Namun, berbeda dengan sebelumnya, tatapan mereka lebih mengarah ke rasa kagum.
Ervin melepaskan kacamata miliknya. Ia menyimpannya ke saku bajunya. Seketika murid-murid cewek mendesah karena kecewa. Mereka hanya bisa melihat Ervin dalam hitungan detik saja.
“Yahh, dilepas dia, dong!”
“Cakep banget, njir! Kayak beda aura kalau dia pakai kacamata!”
Nora mendengar komentar-komentar itu dan merasa heran. Ia bertanya kepada Ervin, “Kamu minus juga, Vin? Kenapa dilepas? Emangnya masih bisa liat?”
Nora berjalan dengan mundur. Ia menatap wajah Ervin dengan mengangkat alisnya. Ia menangkup wajah Ervin dengan menatap mata lelaki itu serius.
Ervin hanya tersenyum dengan menggenggam tangan Nora agar berhenti menangkup dari wajahnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Ervin masih saja memegang satu tangan Nora bertanya, "Kakak minus? Kok, nggak pakai kacamata. Nanti tambah parah, Kak."
"Loh, malah nanya balik. Iya, gue minus tapi aman gue pakai softlens. Lalu juga lo kenapa nggak pakai, huh?" sungut Nora memicingkan matanya dengan menunjuk wajah lelaki itu.
Ervin menarik tangan Nora dengan kuat begitu saja. Nora yang terkejut dan belum siap menjaga keseimbangan dirinya, terjatuh ke arah Ervin dengan satu tangannya memegang pundak lelaki itu.
Semua mata menatap ke arah mereka, bahkan ada yang sampai menutup mulut. Beberapa lelaki pengagum bidadari SMA Prestige International tampak menatap sinis Ervin. Mereka tampak dikejutkan oleh kejadian kedekatan bidadari mereka dengan sosok sampah SMA Prestige International.
“Apa-apaan ini? Kalau mau bikin anak jangan di sekolah,” sindir Giovanni yang ternyata ada di belakang tubuh Nora.
Ervin merasa kesal mendengar sindiran itu. Ia melepaskan pelukan Nora dari tubuhnya dan berdiri untuk menghadapi Giovanni. Ia membela diri dengan berkata, “Nggak gitu, Bang. Pikiran lo kacau bener. Tadi Kak Nora hampir aja jatuh karena lo yang muncul di belakang dia.”
Nora hanya diam dengan menundukkan wajahnya. Ia merasa tidak pernah malu seperti ini di dalam hidupnya. Ia mengangkat wajahnya dengan tersenyum mencoba sabar melihat keberadaan Giovanni.
Nora menarik tangan Ervin dengan menundukkan tubuhnya sebelum meninggalkan Giovanni. Giovanni yang melihat seketika mengumpat beberapa kata kasar. Ia segera menyusul Nora dan Ervin dengan memutar bola matanya.
***
“Maafkan gue, Gis. Gue harus nyeret nih adkel yang bandel ini.” Nora menarik Ervin dengan kasar dan memaksanya duduk di samping Yudha. Ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak Yudha dengan penuh kasih sayang karena tidak pernah merasakan mempunyai adik.
Ervin merasa tidak nyaman dengan tatapan dingin dari Giselle. Ia tahu gadis itu tidak menyukainya sejak awal. Ia berusaha memberi isyarat dengan tangannya agar Giselle mau mendekatinya.
“Kak Nora, gue rasa gue lebih baik pergi ke meja Bang Gio aja. Gue nggak pengen ganggu kalian bertiga. Lagipula, mereka murid lain ngeliat gue sinis,” bisik Ervin dengan suara lirih. Ia tidak ingin menjadi sasaran perundungan lagi seperti sebelumnya.
Nora menoleh ke arah Ervin dan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang membenci Ervin yang baik hati itu. Apakah mereka iri karena Ervin memiliki bakat dan prestasi yang luar biasa?
Di meja lain, Giovanni sedang sibuk mencatat sesuatu di notes kecilnya. Ia adalah ketua MPK yang terkenal tegas dan disiplin. Ia melihat ke arah meja Nora dan teman-temannya dengan sinis.
"Agen perubahan program Roots nggak kerja dengan baik cuman manfaatin jabatan buat pamer," timpal Giovanni menutup notes kecilnya sembari menatap penjuru kantin. "OSIS tahun ini juga nggak ngelakuin perubahan baru. Kecewa gue sama kepengurusan tahu ini."
Yudha yang sedari tadi diam juga ikut terkena imbas. Ia yang merupakan bendahara utama OSIS juga turut terhina di dalam perkataan kakak dari pacarnya. Namun, ia tidak bisa menyalahkan juga karena kali perkataan lelaki itu benar.
Giovanni berjalan menuju meja Nora dan teman-temannya. Ia menarik tangan Ervin agar duduk bersama dirinya. Bersama dengan Nora dan Yudha akan membuat temannya itu tersiksa oleh bisikan jahat oleh penghuni sekolah mereka.
"Baguslah, Bang. Bawa aja dia pergi dari meja Giselle. Di sini dia itu ngerusuh, tapi kalau abang yang mau duduk di sini boleh banget gabung," ucap Giselle dengan nada manja yang membuat Giovanni merasa jijik juga muak.
“Lo itu nggak pantas duduk satu meja sama gue, Giselle. Lo itu cuman beban bagi gue dan peganggu kebahagiaan gue. Asal lo tau kenapa nggak ada yang ngehina lo karna lo itu dijodohin sama Yudha lalu sahabatan sana Dewi Prestige. Tapi lo nggak bakal pernah berada ditingkat kayak mereka karna lo manja sama jelek,” balas Giovanni dengan dingin.
Yudha mendengar perkataan Giovanni itu dan langsung tersulut emosinya. Ia tidak terima pacarnya dihina begitu saja oleh kakak dari pacarnya sendiri.
“Apa maksud lo, bangsat?! Gue sama yang lain nggak pernah ngehina Ervin! Lo aja yang mikir kayak itu!” bentak Yudha dengan keras.
"Nggak ada yang hina maksud lo! Itu pacar lo kalau nggak ngehina adek gue trus ngomong apa?! Ngomong sama tembok, hah!" balas Giovanni yang tidak kalah keras.
Nora menatap ke arah sahabatnya dengan menghela napas gusar. Akhirnya ia mengelus punggung Giselle yang sudah menangis tersedu-sedu. Ia tidak akan menyalahkan Giovanni lagi karena adik lelaki itulah yang sudah memancing emosi Giovanni.
"Udah jangan nangis, ya. Kak Gio pasti nggak bermaksud kayak gitu," ucapnya dengan mengelus air mata yang berjatuhan. Ia membawa gadis yang lemah terhadap bentak itu ke dalam pelukannya. Tangannya juga menutup kedua telinga gadis itu agar tidak mendengarkan ucapan kasar.
Ervin menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah. Ia merasa ia adalah penyebab dari semua masalah ini. Ia tidak tahan lagi mendengar perkataan-perkataan yang menyakitkan hatinya.
"Udah kalian berdua! Gue bisa hidup sendiri tanpa bantuan kalian. Makasih untuk waktu juga hal baik yang udah kalian lakuin selama ini. Terutama Bang Gio juga Kak Nora kalian baik tapi gue nggak pengen hubungan rusak karna nolong gue. Gue nggak ganggu kalian lagi!" teriak Ervin yang tersulut emosi bukan karena kesal tapi karena merasa bersalah atas pertengkaran mereka. Memang benar ia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dan orang sekitarnya akan terkena masalah juga.
Kepergian Ervin membuat hening kantin beberapa menit. Namun, tidak berlangsung lama Giovanni mulai berjalan cepat menuju meja mereka bertiga. Ia mengambil secangkir es teh dengan raut wajah marah.
Tangannya menarik rambut Giselle yang masih berada di pelukan Nora. Gadis itu berteriak kesakitan dengan memohon ampun. Ia mendorong tubuh gadis itu hingga terduduk di lantai. Kemudian siraman air mengenai wajah Giselle. Kejadian itu terjadi dalam sangat cepat, sehingga membuat Nora tidak bisa bertindak.
“Lo udah buat gue muak, Giselle. Lo nggak ada gunanya, hanya pengganggu hidup gue. Kenapa lo harus ada di dunia ini? Kenapa?” teriak Giovanni sambil menunjuk-nunjuk wajah Giselle yang basah dan pucat. “Gue nggak pengen punya adek kayak lo. Adek gue cuma Ervin.”
Yudha yang sudah marah ingin membalas perbuatan Giovanni. Namun, anggota OSIS yang lain menahan tubuh Yudha agar tidak ikut campur atas urusan keluarga mereka. Guru-guru juga hanya diam tanpa berbuat apapun dengan alasan itu merupakan urusan keluarga mereka sehingga tidak ada yang berani menegur.
Nora yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam. Ia mendorong Giovanni dengan sekuat tenaga dan memeluk Giselle yang terguncang. Ia menatap Giovanni dengan tatapan tajam.
“Lo udah kelewatan, Kak. Giselle emang salah, tapi lo sebagai kakak harusnya bisa nasehati dia dengan baik, nggak pakai kekerasan,” ujar Nora dengan suara lantang.
Giovanni mengejek. “Omongin hal ini dengan baik? Haha, percuma. Dia itu orang yang manja juga keras kepala. Nanti juga dia bakalan ngadu ke mereka,” katanya sambil berbalik dan meninggalkan kantin.
Nora menghela napas panjang. Ia melihat Yudha yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman anggota OSIS yang mencegahnya ikut campur. Ia berteriak, "Lepasin Yudha sekarang atau gue bakal ambil tindakan lebih jauh."
Anggota OSIS itu terkejut dan segera melepaskan Yudha. Yudha langsung berlari ke arah Nora dan Giselle. Ia menggendong Giselle yang masih menangis dan mengajak Nora untuk pergi dari kantin.
...****************...
Jangan lupa vote dan komen 😗
Jahat banget Gio🥲👑
Next