The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Nora Cemburu



Keesokan harinya Nora sama sekali tidak melihat keberadaan Ervin sama sekali. Ia justru melihat wajah bundanya yang duduk di samping ayahnya. Bunda dan wanita busuk itu terlihat beradu mulut. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keributan yang tengah terjadi ini.


Matanya menatap anak remaja dengan pakaian putih-biru. Anak gadis itu terlihat mengajak saudaranya berbicara. Anak kembar itu sangat lucu sayangnya dilahirkan oleh wanita busuk yang tidak tahu rasa kemanusiaan.


"Daisy dimana kakak kamu?" tanya Nora yang menghentikan aktivitas makannya.


Daisy tidak menjawab melainkan menunjuk wajah Rama, sedangkan remaja cowok itu tengah tertawa melihat tingkah polos adik kembarnya. Rama menunjuk raut wajah Nora yang terlihat tersenyum melas. Satu remaja yang terus membuatnya kesal dan satu remaja yang terlihat sangat polos.


"Kakak tau dia itu kakak kamu juga, tapi yang kakak maksud itu Ervin. Dimana kakak kamu yang satu itu?" tanya Nora yang mencoba untuk tenang. Gadis itu terlalu baik dan polos membuatmu tidak bisa menggunakan bahasa gaul ke teman sebaya.


"Bang Ervin bukannya udah pergi sekolah lebih awal? Bang Ervin nggak ngasih tau?" cecar Daisy dengan menjilat es-krim di pagi hari.


Nora yang melihat seketika mengerutkan keningnya. Gadis itu memakan es-krim di pagi hari ingin mencari penyakit namanya. Ia melihat Rama yang agak santai dengan menyantap makanannya.


Nora yang melihat seketika tertawa miris dengan berkata, "Mama macam apa itu? Mama yang seharusnya melindungi dan menjaga anaknya justru cuek. Begini Mama yang menganggap keluarga sebagai sumber uang. Sama sekali tidak tahu malu!"


"Iya, putriku bahkan wanita licik itu sangat tidak tahu malu menggunakan benda milik Bunda. Sangat tidak mempunyai etika mengambil milik Bunda tanpa izin," timpal Rayna dengan berdecak kesal. Ia menatap tas kesayangannya diambil wanita busuk itu, bahkan dengan berani duduk di singgasana miliknya.


Nora hanya tertawa saja dengan menggelengkan kepalanya. Wanita itu selalu saja memberikan cerita lawak kepada ia dan bundanya. Benar-benar tidak ada etika sama sekali di matanya jika bukan karena orang tua dirinya akan mengucapkan kata-kata yang pedas kepada wanita itu.


Waktu itu berdiri dari kursinya. Rahangnya menjadi sakit dan ujungnya bibirnya mengeluarkan sedikit darah, ia meletakkan telapak tangan di pipi kiri. Ia menatap ke arah Rama yang tengah ditahan oleh adik kembarnya.


"****! Sakit juga pukulan lo," ucap Nora dengan tertawa mengejek.


Nora berdecak kagum melihat Gendis, wanita busuk yang berlari menuju putranya. Wanita itu mencoba menenangkan putranya dengan menatap Satria dengan ketakutan. Wajah ayahnya terlihat datar dengan menatap Rama penuh benci.


"Gendis sebaiknya kamu jaga anak-anakmu agar tidak rusuh. Jika perlu harus membanggakan saya dan kamu nantinya. Jangan cuma bisanya berantem dan membuat masalah! Jika tidak saya pastikan pihak sekolah pun tidak akan bisa membantunya untuk meringankan hukuman," ucap Satria dengan menatap sinis Rama.


Rama yang mendengar sontak mengeluarkan ucapan kasar. Gendis memeluk putranya dengan menatap takut Satria. Daisy yang melihat keadaan sekarang juga merasa agak ketakutan, bahkan ia berhenti memakan es-krim miliknya.


"Mas mohon maafkan kelakuan Rama. Dia memang seperti ini karena tidak mempunyai ayah dari kecil dan kekurangan harta tidak seperti anak-anak lain," pinta Gendis dengan tatapan memohon.


"Rama cepat minta maaf ke ayah kamu!" lanjut Gendis dengan mencengkeram tengkuk putranya agar menatap mata Satria.


Rama justru berdecih dengan menatap tajam ayah tirinya. Lelaki itu sangat tidak sudi mempunyai ayah tiri seperti Satria. Jika tahu begini mungkin lelaki itu akan menolak habis-habisan mamanya menikah dengan Satria.


"Cuih, gue nggak sudi punya Ayah kayak lo! Lo itu cuman beban. Awalnya gue nerima lo jadi ayah karna ngira kehidupan gue bakal nyaman. Taunya sama aja! Lo cuman pria yang bergantung pada gaji istri!" teriak Rama dengan menunjuk wajah Satria.


Nora dan Rayna berdiri dengan berdekatan. Mereka memperhatikan drama dramatis dari keluarga baru itu. Nora bahkan sampai menghabiskan minumannya tanpa sadar. Di sini padahal yang awalnya mencari masalah itu Nora, tetapi yang bertengkar justru adik tirinya dengan ayahnya. Drama yang sangat menarik untuk tidak ditinggalkan.


"Pipi kamu masih sakit?" tanya Rayna yang mengelus pipi putrinya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


Mereka berdua kembali menatap perseteruan yang tidak selesai. Nora menggelengkan kepalanya dengan menatap jam yang menunjukkan pukul 06.40 dimana sudah cukup telat menuju ke sekolah nantinya. Ia menatap Daisy yang ketakutan, sepertinya dirinya harus membuat kedua orang itu berhenti.


"Rama lo mau ikut gue pakai mobil atau enggak? Kalau enggak gue tinggal!" seru Nora dengan melambaikan tangannya.


Pada akhirnya perseteruan itu selesai juga. Mereka sangat diam seolah tidak ada apapun yang terjadi. Akhirnya Nora, Rama, dan Daisy pergi menuju sekolah sedangkan bundanya pergi menuju kantornya.


...****************...


Waktu sampai di sekolah, sekolah tampak sangat ramai. Sekarang ia harus buru-buru menemui seseorang yang tampak menghindari dirinya. Ia tidak tahu alasan lelaki itu menghindar dari pandangannya.


Di lorong kelas sepuluh terlihat banyak murid-murid lain yang menongkrong di depan kelas mereka. Beberapa ada juga yang menyapa dirinya. Ia juga membalas sapaan dengan senyumannya.


Waktu ingin masuk ke dalam kelas Ervin. Ia berpapasan dengan seseorang yang baru dikenalnya semalam. Orang yang dipinta memainkan akting bersamanya. Anak Paskibra yang meminta diajarkan main gitar olehnya.


"Loh, lo masih kelas sepuluh? Gue kira udah kelas sebelas," sapa Nora lebih awal.


Lelaki itu cuman tertawa kecil dengan berkata, "Nggak gue emang kelas sebelas. Gue lagi temuin pacar dan kebetulan ketemu sama lo."


"Lo punya pacar? Waktu akting pacar lo nggak marah, kan?" cecar Nora yang seketika merasa tidak enak. Ia kira orang yang dibawa main akting itu tidak mempunyai pacar.


"Aman, gue udah izin sama pacar gue. Dia ngerti, kok."


Nora menghela napas panjang. Ia bersyukur setidaknya tidak membuat hubungan orang lain hancur karena rencananya. Ia tersenyum waktu lelaki itu pamit pergi. Akhirnya juga ia memasuki kelas Ervin dengan tersenyum.


Waktu masuk ke dalam kelas semua mata menuju dirinya. Ervin juga menatapnya menggunakan kacamata miliknya, tetapi tidak lama mengalihkan pandangannya. Ia berjalan mendekat kepada Ervin.


Tiba-tiba saja tubuhnya terdorong ke samping. Ia menatap tidak percaya ke arah Joy yang berlari lalu duduk di kursi samping Ervin. Murid-murid lain yang ada di sana seketika bertanya kepada Nora.


Setelah kejadian dirinya melaporkan masalah perundungan dan menghilangkan citra buruk sekolah. Ia menjadi lebih dikenal oleh anak-anak lain. Namun, ia juga agak kesal sekarang ada gadis yang berani menempel kepada Ervin. Dulu saja waktu Ervin dirundung gadis itu tidak ada sama sekali menolong.


"Ervin kenapa lo ngehindar dari gue?" tanya Nora tanpa basa-basi.


"Nggak ngehidar, Kak. Pagi tadi gue kena giliran piket," jawab Ervin tanpa menatap wajahnya sama sekali justru menatap wajah Joy dengan berbincang-bincang.


Nora mempertahankan senyuman miliknya. Ia mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah. Ia meletakkan uang itu di atas meja milik Ervin cukup keras sehingga menyita perhatian murid-murid kelas.


"Ini uang saku lo buat hari ini. Kalau kurang bilang sama gue," ucap Nora dengan berjalan meninggalkan ruangan kelas.