
Sekarang hanya tinggal Nora dan Ervin di dalam mobil. Suasana sunyi menyelimuti keduanya. Nora terlihat menginjak gas dengan kencang, seolah ingin segera menyelesaikan perjalanan ini. Ervin merasakan gelisah yang tak tertahankan. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada gadis yang baru saja menjadi saudara tirinya.
“Er… Kak Nora, gue ... aku minta maaf dan makasih, ya. Aku nggak nyangka kalau mama ngincar ayah kamu. Kalau kamu mau aku rahasiain pernikahan orang tua kita, aku bisa bohong sama yang lain,” ucap Ervin dengan suara lirih. Ia menoleh ke arah Nora yang tetap fokus menyetir.
“Ngomong kayak biasa aja, Vin. Kita nggak usah pura-pura karna berita pernikahan mereka pasti udah tersebar,” jawab Nora sambil mengerem mobilnya saat lampu merah menyala. “Lagian, aku nggak masalahin mau nyokap kamu rebut ayahku. Asal nyokap sama adek cowok kamu nggak ganggu atau menghina bunda.”
Nora tersenyum tipis. Ia mencoba bersikap sabar dan baik terhadap Ervin. Ia tahu bahwa Ervin bukanlah orang yang bersalah dalam masalah ini. Ia juga tahu bahwa Ervin adalah anak yatim piatu yang hidup susah bersama ibu dan adiknya. Itulah mengapa ia dan bundanya dengan rela memberikan uang saku kepada Ervin tanpa sepengetahuan ayah Nora dan mama Ervin.
Ervin menghela napas. Ia merasa bersalah dan berterima kasih kepada Nora. Ia tahu bahwa Nora adalah anak yang pintar dan populer di sekolah. Ia juga tahu bahwa Nora adalah anak yang baik hati dan penyayang terhadap bundanya. Itulah mengapa ia selalu menghormati dan menjaga Nora dari gosip-gosip jahat.
Mereka berdua terlibat dalam percakapan panjang sepanjang jalan. Mereka bercerita tentang sekolah, keluarga, dan cita-cita mereka. Mereka mencoba mengenal satu sama lain lebih dekat sebagai saudara tiri walaupun di dalam hati mereka tidak menginginkan hal itu.
Setelah 20 menit berkendara, mereka sampai di sekolah. Di luar, banyak murid yang sudah berdatangan. Mereka menatap dengan heran dan sinis ke arah mobil Nora.
Ervin merasa takut dan ragu untuk keluar dari mobil bersama Nora. Ia tahu bahwa banyak murid yang membencinya karena ibunya adalah seorang pelakor. Ia tahu bahwa banyak murid yang iri padanya karena ia bisa dekat dengan Nora.
Nora melihat raut wajah cemas Ervin. Ia merasa kasihan dan sayang kepada Ervin. Ia tahu bahwa Ervin adalah korban dari keegoisan orang tua mereka. Ia tahu bahwa Ervin adalah teman yang setia dan baik padanya bahkan lebih dari itu.
Nora menggenggam tangan Ervin dengan lembut. Ia memberikan senyuman manisnya kepada Ervin dan mengajaknya untuk keluar bersamanya.
“Ayo, Vin. Jangan peduli sama omongan orang-orang. Kita harus tetap semangat dan bahagia,” kata Nora dengan penuh semangat.
Ervin tersentak mendengar kata-kata Nora. Ia melihat wajah cantik Nora yang bersinar di bawah sinar matahari pagi. Ia merasakan hangatnya tangan Nora yang memegang tangannya erat.
Ervin mengangguk pelan. Ia memberanikan diri untuk keluar dari mobil bersama Nora.
Di luar banyak tatapan mata kebingungan oleh para murid. Namun, lebih banyak yang menggunjing Ervin karena lagi-lagi kasus pernikahan mamanya. Mereka semua bagaikan sebuah api sedangkan Ervin sebuah sumbu. Mereka terlihat sangat ingin membuat Ervin marah, tetapi sayangnya lelaki itu terlihat sangat penyabar bukan tipe orang yang emosinya layaknya selembar tisu dibagi 10.
Nora yang melihat seketika mencengkeram tengkuk Ervin. Ia mengarahkan kepada murid-murid menunjukkan bahwa lelaki itu harus tidak peduli dan bersikap cuek. Ia menggenggam tangan Ervin dengan mengajaknya berjalan menuju kelas.
“Nora baik banget.”
“Iya, kalau gue jadi dia tuh cowok bakal gue ulek-ulek. Bisanya Nora sabar banget hadapi anak pelakor!”
“Kalau gue sakit hati, sih. Orang yang akhir-akhir ini deket taunya jadi saudara tiri.”
Ervin mendengar semua omongan itu dengan pasrah. Ia sudah terbiasa dengan hinaan dan cemoohan dari murid-murid lain. Ia hanya bisa berharap agar semua ini cepat berakhir.
Ervin diam dengan melepaskan genggaman tangan. Namun, hal itu membuat Nora dan murid-murid lain terkejut. Waktu Ervin dengan berani dan percaya diri merangkul pundak Nora.
Nora tertegun menatap raut wajah tenang milik Ervin. Jantungnya dirasa ingin lepas dari tempatnya bahkan tanpa sadar ia sedikit terbatuk kecil dengan wajahnya yang panas. Namun, tidak tahu saja ada seseorang yang lebih bisa menahan ekspresi gugup.
Mereka berdua berjalan menuju kelas sepuluh dengan tangan saling mengait. Mereka tidak memperdulikan tatapan dan bisikan dari murid-murid lain. Mereka hanya menikmati momen ini bersama.
Di koridor kelas sepuluh, mereka mulai melepaskan rangkulan mereka dengan malu-malu. Nora mengeluarkan dompetnya dengan cepat.
“Nih, uang saku lo! Gue pergi dulu!” kata Nora sambil Menyelipkan selembar uang ke dalam saku seragam Ervin. Ervin belum sempat berkata apa-apa, tetapi bayangan Nora sudah menghilang di depan matanya.
“Padahal nggak perlu,” gumam Ervin sambil menatap lorong sekolah dengan perasaan tidak enak.
...****************...
Nora berlari kecil menuju kelasnya. Waktu masuk ke dalam kelas, ia tanpa sengaja mendorong pintu terlalu keras. Hal itu membuat beberapa teman sekelasnya mengumpat dan mengelus dada.
Giselle yang melihat segera berlari dengan memeluk erat tubuh sahabatnya. Beberapa hari ini ia tidak melihat keberadaan sahabatnya. Waktu acara pesta pernikahan pun, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Nora beserta bundanya.
“Selama ini lo kemana aja? Gue khawatir,” ucap Giselle yang masih memeluk tubuh Nora.
Nora tersenyum tulus begitu saja. Ia melepaskan pelukannya dengan mencubit kedua pipi Giselle karena gemas. Sahabat lucunya ini kadangkala membuatnya menjadi baik walaupun terkesan agak manja dan mulutnya yang seperti selalu makan cabe level 100. Giselle terlihat mirip dengan kakak kandungnya jika berbicara.
“Aduh, sakit, Ra! Nangis, nih!” rengek Giselle dengan menghentakan kakinya.
Nora tertawa kecil mendengar keluhan sahabatnya itu. Ia menarik tangannya dan menunjuk ke arah lantai sekolah yang dingin. “Maaf cantikku. Ayo kita duduk di lantai! Jangan lupa ajak Yudha ke sini! Ada yang mau gue ceritain,” ucap Nora dengan lebih awal duduk di lantai.
Giselle mengangguk dengan antusias. Ia berteriak memanggil pacarnya yang sekaligus teman kecilnya. Murid-murid yang melihat hanya bisa mengelus dada padahal mereka itu satu kelas, tetapi memanggil pakai teriakan.
“Apa, sih?” tanya Yudha dengan duduk di samping Giselle.
Nora hanya bisa tersenyum begitu saja. Ia merasa menjadi nyamuk di antara dua pasangan sudah biasa. Murid-murid kelas pun juga sudah terbiasa dengan semua hal bucin.
“Gue mau cerita dan lo pada harus diam. Jangan ada yang potong pembicaraan gue!” ucap Nora dengan menatap kedua sahabatnya.
Yudha dan Giselle diam seribu bahasa. Mereka baru tahu waktu kejadian di pesta perusahaan papa Yudha. Jadi mereka memilih untuk diam saja mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Nora.
Nora menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. Ia *******-***** rok sekolahnya dengan gelisah. “Jadi lo berdua tau masalah pernikahan bokap gue sama nyokap Ervin. Sebenarnya disini gue mau terangin kalau yang salah itu mama tiri gue bukan anak-anaknya. Tapi bokap gue juga emang hidung belang dan beban keluarga dari lama ini cuman keluarga gue yang tau. Keluarga gue nggak harmonis yang kalian pikirkan. Jadi gue tekanin itu tiap keluarga pasti ada masalah,” lanjut Nora dengan tersenyum tipis.
Yudha dan Giselle mengangguk-angguk paham. Mereka merasa kasihan dengan nasib Nora yang harus menghadapi masalah keluarga yang rumit. Mereka berusaha untuk memberikan dukungan dengan menepuk-nepuk bahu Nora.
“Tapi permasalahannya ada di Ervin. Gue kaget kalau gue sama dia jadi saudara tiri. Jadi kalau gue ngejar dia sekarang boleh nggak, sih?” ungkap Nora dengan tersenyum canggung menatap kedua sahabatnya.
Yudha dan Giselle saling pandang dengan bingung. Mereka tidak mengerti maksud dari Pertanyaan Nora. Mereka berpikir bahwa Nora bercanda atau serius.
“Maksudnya, Ra?” tanya Yudha yang merasa bingung dan salah dengan pertanyaan Nora.
Giselle berpikir keras menatap sahabatnya. Ia menatap sahabatnya dengan berbinar. Ia menatap sahabatnya dengan tidak percaya. “Lo juga, sih. Kan, gue udah ngasih tau kalau jangan deketin Ervin. Kasus nyokap dia itu pelakor emang beneran karna ada siswa sekolah kita juga keluarganya jadi korban. Lo dikasih tau itu nggak dengerin, sih. Lo terlalu baik jadi orang,” tegur Giselle dengan mengelus punggung Nora.
“Jadi gimana rencana lo? Lo mau balas dendam sama nyokap dia dengan manfaatin tuh cowok. Pertama lo buat dia jatuh cinta lalu buat dia jatuh sedalam dan buang gitu aja. Emang pintar lo balas dendam dengan nyakitin jiwa dia,” tambah Giselle dengan tertawa jahat.
Namun, di depan pintu ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Orang itu tampak mengepalkan tangannya. Di tangannya terdapat selembar uang berwarna merah. Wajahnya dingin dan matanya berapi. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jahat banget kalian."