The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Keegoisan Gendis



"Nih, kunci motor Nora. Gue balik ke sekolah dulu," ucap Giovanni dengan memberikan kunci mobilnya.


"Makasih, Bang. Mau masuk dulu nungguin ojek online," ajak Ervin melihat Giovanni berdiri di pekarangan rumah Nora.


Giovanni cuman menggelengkan kepalanya. Ia hanya diam di sana dengan melihat ponselnya. Di sana ia tampak memesan ojek di aplikasi ojek online. Ia terlihat ogah masuk ke dalam rumah gadis itu. Ia tidak tahu apakah gadis itu benar-benar sakit atau bagaimana.


Ervin yang melihat hanya menghela napas. Lelaki itu tidak percaya dengan Nora, sepertinya memang Giovanni yang salah paham atau bagaimana. Akhirnya ia membawa masuk Nora dalam gendongan tubuhnya.


Waktu masuk ke dalam rumah mereka disambut oleh Satria dan Gendis yang duduk di ruang keluarga. Pria paruh baya itu mendekati tubuh Nora dengan raut wajah tidak diketahui. Terlihat cuek juga tidak bisa dibilang begitu karena pria itu menatap tubuh Nora sangat lama.


"Putri saya kenapa?" tanya Satria dengan menatap datar Ervin.


Ervin hanya tersenyum tipis sebagai tanda hormat. Ia tahu jika pria paruh baya itu terlihat membenci dirinya juga adiknya. Ia menentang berat pernikahan ini karena pria itu hanya mencintai mamanya, pria itu sama sekali tidak menyayangi anak-anak dari istri mudanya. Apalagi waktu tahu pria itu sudah menyakiti dua wanita yang begitu menyayangi juga hanya memanfaatkan uang istri tua tanpa memberikan nafkah.


Ervin cuman menatap mama dan ayah tirinya yang sama sekali tidak tahu malu. Mereka tidak bekerja dan mengandalkan bunda dari Nora. Padahal sudah jelas secara terang-terangan bunda Nora mengatakan mereka tidak akan pernah mendapatkan uang sedikit pun.


"Kak Nora tiba-tiba saja Tirotoksikosis membuat dia seperti ini. Itu saja yang saya tahu Om," jawab Ervin seadanya


Satria cuman menganggukkan kepalanya perlahan. Ia berjalan mengarahkan kepada anak tirinya menuju kamar putrinya. Ia sudah lama tidak masuk ke dalam kamar putrinya.


Satria dan Ervin yang tengah menggendong Nora tampak naik tangga. Gendis juga mengikuti langkah suami dan putra sulungnya. Wanita itu terlihat menahan senyumannya tatkala tahu Nora jatuh sakit. Wanita itu berpikir ini adalah kesempatan dirinya untuk mengelola keuangan rumah.


Namun, tidak tahu saja Nora mengintip tidak sepenuhnya memejamkan matanya. Ia cuman menyeringai kecil tanpa diketahui oleh siapapun. Pikirnya wanita itu pasti sangat senang karena dirinya sakit.


Waktu mereka masuk di dalam kamar Nora. Mereka di sambut dengan harum pewangi kamar milik gadis itu. Kamar itu tampak seperti mimpi yang indah. Warna pink dan putih mendominasi ruangan, menciptakan suasana yang lembut dan manis. Tempat tidur yang nyaman dengan selimut bergaris-garis dan bantal berwarna pink menawarkan tempat beristirahat yang sempurna. Di samping tempat tidur, ada meja putih dengan kursi putih dan lampu putih di atasnya. Meja itu bersih dan rapi, menunjukkan kepribadian yang terorganisir dan disiplin. Di dinding, ada lemari dan rak yang tertanam. Rak-rak itu dipenuhi dengan boneka, buku, dan barang-barang lucu lainnya. Mereka mengungkapkan minat dan hobi yang beragam. Di jendela, ada tirai abu-abu yang menutupi cahaya matahari. Lantai kayu terang dan karpet bintik-bintik pink dan putih melengkapi tampilan kamar yang menggemaskan. 


Ervin cuman tersenyum melihatnya kamar gadis itu yang identik dengan nuansa ceria dan manis. Sebenarnya itu sama sekali tidak mencerminkan sikap Nora yang dewasa dan anggun. Namun, satu kata yang menggambarkan Nora dari kondisi kamarnya. Gadis itu pintar dan berpendidikan dilihat dari banyaknya buku sejarah, sains, psikologi, desain, dan macam-macam.


"Vin, tunggu di sini. Gue nggak mau sama mereka di dalam kamar," bisik Nora dengan nada lemah.


Ervin mengangguk pelan. Ia meletakkan tubuh Nora secara perlahan-lahan di atas kasur gadis itu. Ia berdiri di depan gadis itu sembari memegang tangan Nora dengan lembut.


Nora dan Ervin cuman melihat tingkah Satria yang mengobrak-abrik isi lemari putrinya. Pria itu menemukan satu strip obat dengan mengerutkan keningnya. Ia menunjukkan obat itu di depan putrinya dengan berdecak kesal.


"Kamu tidak lagi stok obat? Ini obatnya sudah tidak kedaluwarsa putriku," ucap Satria yang memperlihatkan expired date pada obat.


Satria hanya diam dengan memberikan satu strip obat itu kepada Ervin. Ia meninggal kamar putrinya tanpa mengatakan sepatah kata. Di kamar hanya tersisa Nora, Ervin, dan Gendis yang terlihat menatap Nora.


"Mama ngapain masih di sini?" desis Ervin tengah merasakan sesuatu yang salah pada mamanya.


"Tidak apa-apa, Ervin. Mama cuman mau bantu kamu rawat kakakmu itu," jawab Gendis dengan tersenyum lebar.


Ervin dan Nora yang mendengar cuman mengerutkan keningnya. Mereka sedang tidak salah dengar bukan. Wanita itu ingin merawat Nora yang notabene anak dari istri tua suaminya.


"Ervin kamu yang jaga Nora. Mama akan beli obatnya jadi ... Mama pinjam kartu debit dari Nora buat beli," ucap Gendis dengan menatap Nora penuh harap. Senyuman licik juga terpampang jelas di wajahnya.


Ervin yang mendengar itu seketika merasa malu akan sikap mamanya. Mamanya sama sekali tidak tahu malu memanfaatkan orang yang sedang sakit untuk dikuras uangnya. Ia menjadikan tubuhnya tameng waktu mamanya ingin mendekat kepada Nora.


"Misi Ervin! Mama mau ambil kartu debit dari kakakmu itu!" seru Gendis yang mencoba menjauhkan tubuh putranya dari depannya.


"Mama! Mama apa tidak punya malu? Kak Nora lagi sakit, Ma! Mama justru ingin mengambil kartu debit yang merupakan hak dari Nora. Mama tidak punya hati! Mama harus berapa kali Ervin nasehati jikalau perbuatan Mama tidak baik. Mama selalu saja mencari karma buat diri sendiri. Perbuatan ini sangat tidak baik, Ma!" murka Ervin dengan menatap tajam mamanya.


Gendis terlihat diam dengan menatap marah putranya. Ia menatap ke arah Nora yang melihatnya dengan raut wajah tenang. Gadis itu membuatnya merasa muak sama sekali.


"Apa yang salah, sih? Mama cuman mau bantu kamu belikan obat. Jika kamu pergi lalu siapa yang jaga kakakmu itu?" jelas Gendis dengan tersenyum.


"Mama tidak mau bantu Kak Nora! Mama cuman mau ambil dan kuras habis uang keluarga dia. Tangan dan mata Mama pasti gatal ingin belanja ke mall bukan?" desis Ervin yang mencoba sabar kepada mamanya.


"Kamu ..."


Nora yang mendengar perdebatan seketika menjadi agak tambah pusing. Ia menatap ibu dan anak itu dengan geram. Ia pun berkata, "Nyonya Gendis ... Anda tidak perlu khawatir karena saya akan membeli menggunakan ojek online. Jika tidak ada urusan lagi saya harap Anda pergi dari kamar saya dan tidak mengganggu istirahat saya."


Gendis yang mendengar seketika merasa kesal. Ia lagi-lagi dipermainkan oleh gadis itu dan bundanya. Ia berjalan pergi dan menutup pintu kamar dengan keras sehingga menimbulkan bunyi.


"Ervin lo di sini aja sambil nunggu obat gue," pinta Nora dengan tersenyum manis.


"Iya, Kak." Ervin berjalan lalu duduk di ujung kasur dengan tersenyum canggung.