The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Nora Sakit



Nora cuman menatap Joy yang tampak mengompres telapak kakinya menggunakan es batu yang dilapisi oleh kain. Ia memeluk erat lengah Ervin waktu kakinya agak nyeri karena dinginnya es batu. Ia menatap wajah Ervin yang menunduk memainkan ponselnya.


Lagi-lagi Ervin bersikap cuek dan tidak peduli. Ia mendengus kesal dengan melepaskan pelukannya di lengan lelaki itu. Namun, kini tangannya memeluk pinggang lelaki itu dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher adik tirinya itu.


Ervin sangat terkejut apalagi merasakan hembusan napas yang terasa hangat di ceruk lehernya. Ia menoleh ke samping melihat Nora yang makin dekat dengannya. Ia meletakkan telapak tangannya di kepala gadis itu.


Ervin menatap ke arah Joy dengan bingung. Ia mengucapkan 'Kak Nora kenapa?' kepada sahabatnya tanpa bersuara hanya ada gerakan bibir saja. Namun, ia juga mendapatkan sebuah jawaban geleng kepala oleh Joy.


"Kak Nora ... kakak baik aja, kan?" tanya Ervin dengan mengguncang pundak Nora secara perlahan-lahan.


Giselle yang melihat pun seketika ingin menangis lagi, tetapi seseorang mendorong tubuhnya sehingga ia terduduk. Air matanya sudah keluar dengan menatap ke arah Nora. Ia takut melihat keadaan sahabatnya seperti sekarang.


"Cih, nangis mulu!" decak Giovanni yang baru saja datang. Ia segera membantu adik kandungnya itu berdiri. Ia melakukannya hanya karena tidak ingin gadis itu membawanya dalam masalah.


Gissel berjalan dengan menggenggam jari-jari kakaknya. Ini kesempatan langka karena kakaknya peduli kepada dirinya walaupun dengan alasan tertentu. Ia berjalan ke arah Nora dengan langkah perlahan.


Giselle berlutut di depan sahabatnya yang terlihat berkeringat banyak dengan tubuhnya agak tremor. Ia memegang tangan sahabatnya dengan khawatir. Ia samar melihat senyuman yang diberikan oleh Nora.


"Jangan nangis, ih! Nggak parah juga," lirih Nora dengan tertawa kecil.


"Hueee, gimana gue nggak khawatir kalau lo gini?! Penyakit lo itu bikin gue khawatir tau nggak!" bentak Giselle dengan mengusap air matanya yang terus keluar.


Nora cuman tersenyum dengan menatap bingung sahabatnya. Ia sama sekali tidak mempunyai penyakit parah sehingga membuat sahabatnya kembali menangis. Perkataan Giselle membuat yang lain menatap dirinya dengan bingung juga khawatir.


"Tenang, jangan ngeliat gue kayak gitu! Gue nggak punya penyakit parah cuman Tirotoksikosis aja. Gue kaget kena bola jadi demam nanti juga sembuh," jelas Nora tanpa basa-basi agar tidak ada kesalahpahaman.


Nora berdiri ingin pergi dari UKS. Ia sama sekali tidak ingin dianggap lemah dan ditatap dengan penuh rasa kasihan. Kakinya sedikit lebih nyaman walaupun tetap agak nyeri.


Namun, berbeda dengan pandangan Ervin. Ia segera berjalan dengan mengangkat tubuh Nora. Ia menggendong tubuh gadis itu dengan bridal style yang membuat Nora menahan teriakan karena terkejut.


"Joy izinin sama guru kalau gue ada urusan keluarga. Nanti surat izin pulang lebih awal bakal gue kasih," ucap Ervin dengan masih menggendong Nora. "Oh, iya. Kak Giselle nanti bisa tolong bawain tas Kak Nora sama nanti izinin ke guru juga. Suratnya nanti nyusul."


"Suratnya nggak perlu lo yang ngambil! Gue aja yang minta sama tunggu di depan kelas lo. Gue ambil tas Nora dulu! Dan lo jangan lupa chat gue atau Bang Gio nama guru lo siapa!" seru Giselle menghapus air matanya dengan berlari pergi meninggalkan UKS.


Ervin melihat kepergian Gissel dengan tersenyum tipis. Ia ingin pergi, tetapi tangannya di tahan oleh Giovanni juga Joy. Kedua sahabatnya itu berdiri di depan tubuhnya.


"Lo sungguh gue nggak habis pikir, Vin. Lo terlalu baik tau nggak," ucap Joy dengan menatap ke arah Nora agak sinis.


Kesalahpahaman ini terus berlangsung sampai sekarang. Nora sebenarnya mendengarkan saja, tetapi dirinya tidak bersemangat untuk mengatakan apapun. Ia memilih diam dengan melingkarkan lengannya di leher lelaki itu. Ia bahkan hanya memejamkan matanya dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.


"Lo juga nggak khawatir kalau ditipu sama adek gue? Dia itu licik dan benci banget sama lo!" seru Giovanni dengan berdecak kesal karena kebodohan yang dilakukan oleh sahabat yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya.


"Justru karna dia adek lo gue coba percaya sama dia, Bang. Gissel itu adek lo jadi jangan terlalu benci sama dia," tegur Ervin dengan tersenyum tipis.


Ervin berjalan dengan menggendong tubuh Nora. Selama di jalan banyak mata yang menatap ke arah mereka karena sekarang masih jam istirahat. Ervin berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tas miliknya.


Waktu di depan kelas ia berhenti menggendong tubuh Nora. Ia berkata, "Tunggu di sini dulu, ya, Kak. Gue ambil tas dulu baru habis ini kita pulang."


Nora mengangguk pelan. Ia duduk di bangku depan kelas X IPA 1 dengan memejamkan matanya. Rasanya dirinya sangat mengantuk dan lelah. Tubuhnya merasa sedikit dingin dengan jantungnya yang berdetak tidak beraturan.


Ia mendengarkan kehebohan di dalam kelas lelaki itu juga suara langkah kaki. Suara dan langkah kaki membuat kepalanya tiba-tiba menjadi sakit. Ia mengelus telapak tangannya dengan meringis pelan. Ia membuka matanya perlahan dengan tertawa miris sudah lama dirinya tidak seperti ini. Kenapa harus sekarang?


Di lorong ia melihat Gissel yang berlari dengan membawa tasnya. Gadis itu sendirian dengan napas yang terburu-buru. Ia tersenyum tipis walaupun sahabatnya itu manja dan licik, tetapi merupakan sahabat baiknya waktu dirinya senang juga susah.


"Kak Gissel makasih. Gue sama Kak Nora pulang duluan."


Nora menatap ke arah pintu kelas dengan tersenyum. Keduanya menatap ke arahnya dengan khawatir. Ia cuman menggelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak apa-apa.


"Kakak makin pucat. Ayo kita pergi cepat!" ucap Ervin dengan menggendong tubuh Nora.


Ervin berlari dengan terburu-buru menuju parkiran sebelumnya ia sudah meminta bantuan Giovanni untuk menyetir mobil. Bukannya apa-apa, tetapi dirinya sama sekali tidak bisa membawa mobil. Lalu tidak mungkin meminta Nora yang sedang sakit untuk menyetir.


Di parkiran ia melihat Giovanni yang melambaikan tangannya. Lelaki itu berkata, "Kunci mobilnya mana? Lalu ini mau ke rumah sakit dulu apa gimana?"


Ervin mencari kunci mobil di dalam tas Nora dengan teliti. Ia melempar kunci itu ke arah Giovanni dengan buru-buru. Ia membawa masuk Nora ke dalam dengan berhati-hati.


"Ke rumah sakit aja dulu, Bang." Ervin duduk dengan meletakkan kepala Nora ke pundaknya.


"Nggak mau ke rumah sakit," lirih Nora dengan menggelengkan kepalanya. "Gue nggak sakit parah."


Ervin menghela napas panjang menatap Nora dengan berkata, "Nggak jadi ke rumah sakit. Ke rumah Kak Nora aja dulu."