
Nora baru saja keluar dari gerbang sekolah ketika matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang berusaha masuk ke dalam area sekolah. Wanita itu terlihat muda dan cantik, tetapi pakaiannya sederhana dan lusuh. Satpam sekolah tampak menghalangi dan menegurnya dengan nada kasar.
Nora merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Ia merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat, tetapi tidak ingat di mana. Ia memutuskan untuk mendekati wanita itu setelah memarkirkan mobilnya di dekat gerbang sekolah. Mobilnya adalah Toyota GR Sport Type warna hitam merah metalik, mobil itu adalah hadiah dari bundanya yang baru saja pulang dari luar negeri beberapa bulan lalu. Mobil itu adalah impian setiap anak muda, dengan bentuk yang ramping dan sporty, warna yang mencolok dan berkilau, serta fitur-fitur canggih yang membuatnya nyaman dan aman dalam berkendara.
Nora tersenyum tipis dan menyapa wanita itu dengan sopan. Para satpam mengenali Nora sebagai salah satu murid berprestasi di sekolah itu dan segera melepaskan genggaman mereka pada wanita itu.
“Maaf, apa yang bisa saya bantu?” tanya Nora.
“Kamu murid di sini, kan? Tolong minta para pria bodoh ini lepaskan saya. Saya ini salah satu orang tua murid di sekolah ini,” jawab wanita itu dengan nada kesal.
Nora mengangguk pelan, tetapi masih ragu. Ia ingin bertanya siapa anaknya, tetapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, wanita itu sudah berteriak memanggil nama Ervin.
Nora menoleh dan melihat Ervin berlari menuju mereka dengan wajah cemas. Ervin adalah adik kelasnya yang pernah ia tolong saat ia terlibat perkelahian dengan anak-anak nakal di sekolah. Ervin adalah anak pintar dan rajin, tetapi sering dibully karena berasal dari keluarga miskin. Nora merasa kasihan padanya dan ingin membantunya.
“Ma! Mama ngapain di sini?” tanya Ervin dengan nada tidak senang.
“Orang-orang itu masih bully kamu, huh?! Lihat wajah kamu luka! Ayo kita ke kantor kepala sekolah buat lapor!” ujar wanita itu sambil menarik tangan Ervin.
Ervin hanya diam di tempat. Ia tidak ingin berurusan lebih jauh dengan masalah ini. Ia tahu bahwa orang-orang yang berkelahi dengannya pasti berasal dari keluarga kaya yang punya pengaruh di sekolah. Jika bukan karena bantuan dari Nora, mungkin beasiswa yang ia dapatkan sudah dicabut begitu saja.
Ervin bahkan tidak menyadari keberadaan Nora di sampingnya. Ia terlalu sibuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh ibunya. Ia tidak ingin murid-murid lain mengucapkan kata-kata kasar atau menghina ibunya.
Nora menyaksikan adegan ini dengan diam. Ternyata wanita itu adalah ibu dari Ervin. Pantas saja ia merasa familiar karena ia pernah melihat mereka berdua di sebuah kafe kecil dekat taman sekolah mereka. Ia hanya menggaruk tengkuknya dan mengamati ibu dan anak itu.
“Maaf sebelumnya saya tidak tahu kalau tante itu ibu dari Ervin,” ucap Nora dengan nada formal.
“Oh, kamu kenal putra saya?” tanya wanita itu dengan heran.
Nora hanya mengangguk pelan dan tersenyum pada Ervin yang sedikit terkejut melihatnya. Ia menepuk pundak Ervin dengan lembut.
Nora teringat dengan janjinya dulu. Ia pernah berjanji akan mentraktir Ervin sebagai ucapan terima kasih karena ia telah membantunya saat mereka naik bus juga kejadian pagi tadi. Kali ini ia akan mengambil kesempatan ini untuk membalas kebaikan adik kelasnya.
“Kalian sudah makan atau lapar?” tanya Nora dengan santai.
Ervin menjawab sudah, sedangkan ibunya menjawab belum. Ervin menatap ibunya dengan tidak suka. Ia tahu maksud dari pertanyaan Nora. Gadis itu pasti ingin mengajak mereka makan di tempat yang mahal dan mewah.
Nora tersenyum manis dan berkata, “Ya, sudah. Tante sama Ervin ikut saya makan saja. Kebetulan saya sedang sendiri membawa mobil.”
Nora membawa mereka berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang sekolah. Ia membuka pintu mobilnya dan mengajak mereka masuk.
Ibu Ervin memukul pundak putranya dengan gembira. Ia terpesona dengan mobil Nora yang begitu indah dan canggih. Ia berpikir bahwa Nora pasti anak orang kaya yang baik hati.
Ervin merasa malu dan tidak enak hati. Ia tidak suka dengan sikap ibunya yang terlalu senang dengan hal-hal materi. Ia juga tidak ingin membuat Nora merasa terbebani dengan keadaan mereka.
“Bolehkah kami naik mobil kamu? Maafkan penampilan kami yang tidak pantas untuk mobil mewah seperti ini.”
Nora tersenyum ramah dan membuka pintu mobilnya. “Tentu saja boleh. Silakan masuk dan duduk di mana saja kalian suka!” ajaknya dengan suara lembut.
Mama Ervin berjalan ke bagian belakang mobil sambil menahan senyum bahagia. Ia menarik tangan Ervin agar ikut duduk di sampingnya. Namun, Ervin menolak dan malah memilih duduk di depan, tepat di samping Nora.
Nora menoleh ke arah mama Ervin melalui kaca spion dan bertanya, “Kenapa lo mau duduk di depan? Apa lo nggak mau bareng nyokap lo?”
Ervin menggeleng pelan dan menjawab, “Gue nggak mau duduk di belakang. Gue ngerasa itu nggak sopan ke kakak, karna seolah-olah gue anggap lo kayak supir.”
Nora hanya tersenyum tipis dan menghidupkan mesin mobilnya. Ia mengemudi dengan tenang dan hati-hati, menggunakan satu tangan saja. Sepanjang perjalanan, mama Ervin terus mengobrol dengan Nora, menanyakan berbagai hal tentang dirinya. Nora pun menjawab dengan jujur dan sopan, tanpa menyembunyikan apapun.
“Jadi ibu kamu adalah direktur perusahaan arsitektur, ya? Wah, hebat sekali.”
Mereka tiba di sebuah restoran mewah yang elegan. Ervin menundukkan kepala, merasa tidak enak hati. Ia sadar bahwa ia kembali berhutang budi kepada Nora, gadis yang selalu baik hati kepadanya. Ia bingung bagaimana cara membalas semua kebaikan itu.
Nora mengajak mereka masuk ke dalam restoran. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang ramah dan membimbing mereka ke meja yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka duduk di kursi yang empuk dan nyaman, lalu diberikan menu oleh pelayan lain.
“Tante dan Ervin mau pesan apa? Hari ini Nora yang mentraktir,” kata Nora sambil tersenyum.
Ervin merasa bingung melihat menu yang ada di depannya. Ia tidak terbiasa makan di tempat seperti ini. Ia tidak tahu apa yang harus ia pesan, apalagi harga makanannya sangat mahal. Ia memandang Nora dengan tatapan minta tolong, berharap ia bisa memberikan saran.
“Ada 13 menu makanan di sini. Lo bisa pilih yang mana aja, gue nggak keberatan sama sekali,” kata Nora sambil memberikan menu kepada Ervin.
Ervin menggaruk tengkuknya dengan canggung. Sebenarnya ia ingin makan nasi, karena ia belum makan siang hari ini. Namun, ia merasa tidak tahu diri jika memilih sendiri.
“Lo aja yang pilih, Kak. Gue ngikut aja,” jawab Ervin dengan senyum tipis.
“Baiklah, kalau begitu Tante mau makan apa? Dan minumannya?” tanya Nora kepada mama Ervin.
“Saya mau makan ayam saus madu dengan nasi putih dan minum air mineral saja. Ervin juga sama saja minumannya, karena dia tidak boleh minum manis-manis.”
Nora mengangguk pelan dan menatap pelayan yang masih menunggu pesanan mereka. “Baiklah, kami pesan ayam saus madu dengan nasi putih dan air mineral satu porsi, nasi goreng dengan air mineral satu porsi, dan steak medium rare dengan Pina Colada satu porsi.”
“Apakah ada tambahan lagi?” tanya pelayan.
“Tidak ada, terima kasih,” kata Nora sambil mengembalikan menu ke pelayan.
Mereka menunggu cukup lama sebelum makanan mereka datang. Ervin melihat Nora menunggu dengan sabar, tanpa mengeluh atau bosan. Ia melihat Nora menyantap steaknya dengan anggun dan rapi. Nora memotong dagingnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu mengambilnya dengan garpu yang dipegang dengan tangan kiri. Ia tidak menggunakan pisau lagi setelah itu, dan menempelkannya di sisi kanan piringnya. Ia sesekali meneguk air mineral dari gelasnya, dan tidak menyentuh roti atau mentega yang ada di meja.
Ervin merasa malu melihat perbedaan cara makan mereka. Ia melihat mama Ervin makan dengan lahap dan ceroboh, bahkan sambil memainkan ponselnya. Ia tahu itu adalah perilaku yang kurang sopan, apalagi di tempat seperti ini.
Nora selesai makan dan membayar tagihan mereka. Ia kemudian mengantarkan mereka pulang ke rumah mereka yang agak jauh dari kota. Ia tidak mengeluh sama sekali meskipun perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Ia tetap tersenyum dan berbasa-basi dengan mama Ervin, sementara Ervin hanya diam dan merenung di sampingnya.
Nora dan Ervin baru saja tiba di desa tempat Ervin tinggal. Mereka berdua adalah teman sekolah yang saling menghormati dan menganggap satu sama lain sebagai saudara. Namun, tidak semua orang di desa itu menyambut mereka dengan baik. Sebagian besar warga menatap mereka dengan tatapan sinis dan mencemooh. Mereka mengira Nora adalah pacar Ervin yang ingin mengikuti jejak ibunya yang dulu pernah membuat skandal di desa itu.
Nora merasakan ada yang tidak beres saat ia keluar dari mobil. Ia menangkap suara-suara bisik-bisik yang menusuk hatinya.
“Haha, ternyata bukan ibunya saja yang ******. Ternyata putranya juga meneruskan perjalanan ibunya membuat malu desa kita saja.”
Nora tidak tahan mendengar perkataan itu. Ia ingin menjelaskan bahwa ia dan Ervin tidak ada hubungan apa-apa. Ia ingin membela temannya yang tidak bersalah. Ervin berusaha mencegahnya, tetapi Nora sudah bergerak cepat menuju sekumpulan Ibu-ibu yang sedang bergosip.
Ibu-ibu itu terkejut melihat Nora mendekat. Mereka merasa ketakutan melihat tatapan tajam Nora. Nora tersenyum tipis dan berkata dengan nada dingin.
“Sore, ibu-ibu. Maaf sebelumnya menyela pembicaraan kalian. Tapi yang kalian bicarakan kurang enak didengar oleh saya. Saya dengan Ervin cuman teman sekolah bahkan saya menganggap dia sebagai adik. Sebenarnya saya tidak ingin memperpanjang masalah, tetapi jika saya tidak konfirmasi takutnya ada fitnah besar-besaran. Jadi sebagai orang lebih tua saya meminta kalian lebih bijak,” ucap Nora dengan tenang yang membuat para ibu-ibu tidak bisa berkutik.
Ibu-ibu itu terdiam tak berani menjawab. Mereka merasa malu dan bersalah telah menuduh tanpa bukti. Nora berbalik dan berjalan kembali ke arah Ervin. Ia memberi hormat kepada ibu Ervin yang menunggu di depan rumah. Ia juga meminta izin untuk pulang dan berterima kasih atas keramahan mereka.
Nora masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan desa itu. Ia merasa lega bisa keluar dari tempat yang penuh dengan prasangka.
Ervin mengantar Nora sampai ke mobil. Ia merasa bersyukur memiliki teman seperti Nora yang mau membantunya menghadapi masalah di desanya. Ia berharap Nora tidak tersinggung dengan perkataan warga desanya.
“Ervin kenapa kamu tidak pacaran dengan dia saja? Mama lihat dia anak orang kaya lumayan tidak dimanfaatkan.”
Ervin merasa jijik mendengar ucapan ibunya. Ia tahu ibunya hanya mengincar harta Nora dan tidak peduli dengan perasaannya.
“Ervin tidak seperti Mama,” sindir Ervin lalu masuk ke dalam kamarnya.
Ervin tidak tahu saja jika mamanya sedang tersenyum licik bergumam, "Jika kamu tidak ingin bertindak maka mama yang akan melakukannya."