The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Permintaan Nora



Nora meremas kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Ia merasa seolah-olah dunianya runtuh seketika. Ia baru saja menyaksikan kebenaran di balik rumor yang menyebar tentang ibu Ervin, lelaki yang ia amati diam-diam. Ternyata, ibu Ervin adalah orang yang telah menghancurkan keluarga Nora dengan perselingkuhan dan tipu daya.


Nora menoleh ke arah Ervin yang sedang menarik tangan mamanya dengan kasar. Ia melihat wajah Ervin yang memerah karena marah. Wajah itu sama dengan yang ia lihat ketika mereka bertemu di kafe dan taman bersama teman-temannya. Nora menyadari bahwa kemarahan Ervin selama ini disebabkan oleh mamanya sendiri, yang telah membuatnya menderita di sekolah.


"Nora! Putriku, kamu kenapa?!" teriak Rayna, ibu Nora, yang membuat semua orang menoleh ke arah mereka.


Nora terdiam. Ia melihat Ervin yang terkejut melepaskan tangan mamanya . Ia melihat Ervin berjalan mendekati mereka dengan langkah ragu-ragu. Ia melihat Ervin tersenyum tipis padanya.


"Mau apa kamu dekat-dekat dengan putri saya?!" bentak Rayna sambil menunjuk wajah Ervin.


"Udahlah, Ma. Jangan marah-marah lagi! Nora takut Mama sakit," kata Nora sambil mengelus punggung bundanya. "Lagipula Nora kenal dengan putra sulung wanita itu. Dia baik, tidak busuk seperti wanita itu."


Nora merasakan tangan bundanya mencengkeram tangannya erat-erat. Ia tahu bundanya tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Ia tahu bundanya benci dengan keluarga Ervin. Tapi ia juga tahu bahwa Ervin tidak bersalah. Ervin juga adalah korban dari perbuatan mamanya sendiri.


"Bunda kali ini saja dengarkan perkataan dari Nora. Nora tidak ingin bunda salah arah," kata Nora dengan lembut. "Jujur aja, Vin. Gue minta maaf kali ini harus nyeritain rahasia lo di sekolah."


Nora melihat Ervin mengangguk pelan. Ia tahu Ervin tidak keberatan jika rahasianya dibongkar di depan semua orang. Mungkin Ervin juga ingin mengakhiri semua penderitaan yang ia alami.


"Bunda dan orang-orang di sini harus tahu. Jika Ervin terlihat menerima karma atas perbuatan mamanya, itu yang terjadi," lanjut Nora dengan lantang. "Selama di sekolah, Ervin selalu mendapat perundungan dari anak-anak lain. Dia sama sekali tidak bisa melawan mereka karena mereka berasal dari kalangan atas. Mereka menghina, memukul, dan menyiksa Ervin tanpa ampun. Mungkin dari sini kalian bisa sadar bahwa perbuatan jahat yang kalian lakukan akan berdampak buruk bagi anak-anak kalian."


Nora melihat Gendis, ibu Ervin, yang mendengar ceritanya berlari mendekati putranya. Ia melihat Gendis berteriak dan menangis sambil memeluk Ervin erat-erat. Ia melihat Ervin menolak pelukan mamanya dengan dingin.


Nora menghela napas panjang. Ia tidak mau ikut campur dengan urusan keluarga Ervin. Tapi ia juga tidak mau membiarkan bundanya bersuka cita atas penderitaan orang lain. Ia mengajak bundanya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah mereka. Ia duduk di lantai sambil memegang tangan bundanya dengan sayang.


Nora menatap bundanya dengan penuh harap. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting, tapi ia tahu itu akan melukai hati bundanya. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata dengan lembut, "Bunda, Nora ada sesuatu yang ingin Nora sampaikan. Nora tahu ini mungkin sangat menyakitkan bagi bunda, tapi Nora mohon bunda bisa berpikir jernih dan tidak membenci anak-anak ayah. Mereka tidak bersalah, Bunda. Mereka juga korban dari kesalahan ayah dan wanita itu. Mereka tidak pernah meminta untuk punya mama seperti wanita itu. Jadi, Nora harap bunda bisa bersikap bijak dan dewasa sebagai orang yang berpendidikan." Ia tersenyum tipis, berusaha menenangkan bundanya.


Rayna menatap putrinya dengan campuran perasaan. Ia merasakan sakit, marah, benci, tapi juga cinta dan bangga pada putrinya. Ia sadar Nora lebih dewasa dan bijaksana daripada dirinya. Ia mengangguk pelan, lalu menjawab, "Baiklah, Nora. Bunda akan mencoba mengendalikan diri. Tapi bunda tidak bisa menjamin apa-apa. Semua tergantung bagaimana mereka bersikap saat bertemu bunda di rumah nanti."


Nora memeluk bundanya erat, merasakan hangatnya kasih sayang bundanya. Ia berharap bundanya bisa memahami maksudnya. Ia tidak ingin bundanya melakukan hal-hal yang jahat karena sudah disakiti oleh ayah dan wanita itu. Di sini mereka semua adalah korban, termasuk anak-anak wanita itu.


"Ayo kita naik ke atas! Bunda tidak tahan melihat wajah wanita itu lagi," ajak Rayna sambil menggenggam tangan putrinya.


...****************...


Nora berbaring di atas ranjang bundanya dengan nyaman. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan sang bunda, merasakan sentuhan lembut jari-jari bundanya di rambutnya. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan terjadi dalam hidupnya.


Nora melihat bundanya mengeluarkan dompet dari tasnya. Ia bingung mengapa bundanya tiba-tiba berubah dalam sehari, tapi ia menyukai perubahan itu. Ia melihat bundanya lebih kuat dan percaya diri di hadapan ayah dan wanita itu. Ia berharap bundanya akan terus seperti itu.


Tapi, ia terkejut ketika bundanya memberikan tiga kartu kepadanya. Kartu-kartu itu adalah Black Card, ATM, dan Debit. Ia duduk tegak dan menatap bundanya dengan heran. Mengapa bundanya memberikan kartu-kartu itu kepadanya?


"Bunda minta kamu menjaga baik-baik kartu-kartu itu. Jangan sampai jatuh ke tangan ayahmu! Sekarang kartu yang ada di tangan ayahmu sudah tidak berguna lagi. Bunda sudah memblokir semua aksesnya. Kemungkinan besar ayahmu akan mencari-cari kartu-kartu itu dan akan kembali menyiksa bunda. Tapi jika kartu-kartu itu ada di tanganmu, maka ayahmu tidak akan bisa merebut atau melakukan apa-apa," jelas Rayna dengan tenang.


Nora mengerti maksud bundanya. Akhirnya bundanya sadar bahwa ayahnya tidak sebaik yang dibayangkan oleh bunda. Ia mengeluarkan dompetnya dari tas selempangnya dan menyimpan kartu-kartu itu dengan hati-hati.


"Bunda... jika Nora yang pegang kartu-kartu ini, berarti Nora boleh atur keuangan rumah, kan?" tanya Nora dengan penasaran.


"Tentu saja. Kamu yang atur semuanya. Bunda percaya padamu," jawab Rayna dengan tersenyum.


"Kalau begitu, bolehkah Nora kasih uang saku kepada Ervin dan adik-adiknya, kecuali ayah dan wanita itu? Soalnya Nora kasihan juga sama mereka. Mereka masih sekolah, tapi harus hidup susah. Nora pernah lihat anak sulung wanita itu harus kerja keras untuk cari uang. Jika mereka tidak dikasih uang saku, mereka tidak akan bisa makan di sekolah. Apalagi ayah dan wanita itu tidak punya pekerjaan," ujar Nora dengan hati-hati, takut menyakiti perasaan bundanya.


Rayna Terdiam sejenak. Ia merasakan sesak di dadanya. Ia benci pada anak-anak itu, tapi ia juga tidak tega melihat mereka menderita. Ia tahu Nora punya hati yang baik dan tidak mau melihat orang lain susah. Ia menghela napas, lalu mengangguk.


"Baiklah, kamu boleh kasih uang saku kepada mereka. Tapi jangan terlalu banyak. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Jangan biarkan mereka manja atau boros. Mereka harus belajar hemat dan mandiri. Karena walaupun bunda dan keluarga bunda kaya, bukan berarti kita bisa buang-buang uang seenaknya," kata Rayna dengan tegas.


Nora langsung tersenyum lebar dan memeluk bundanya dengan erat. Ia berterima kasih pada bundanya dengan suara riang.


"Makasih, Bunda! Bunda emang yang terbaik!"


"Iya, bunda yang harusnya ngomong gitu." Rayna tersenyum setidaknya ia masih mempunyai Nora, putrinya yang cantik dan dewasa.