The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Biola Yudha



Nora memandang kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Hari ini adalah Kamis, dan malam ini adalah malam Jumat yang penuh berkah. Ia berdiri di depan cermin, mengagumi gaun biru muda bermotif bintik-bintik putih yang ia kenakan. Gaun itu memberi kesan ceria dan manis pada penampilannya. Ia menyukai lapisan tipis kain yang menutupi leher dan lengan gaunnya, memberi nuansa glamor dan anggun. Ia juga menyukai rumbai-rumbai yang menghiasi pergelangan tangannya, memberi sentuhan feminin dan dinamis. Ia mengikat pinggangnya dengan pita, membuat roknya mengembang di atas lutut, menonjolkan siluet tubuhnya yang cantik dan proporsional. 


Hari ini ia akan menghadiri pesta perusahaan yang diselenggarakan oleh ayah Yudha, sahabat kecilnya. Perusahaan itu adalah PT. Maju Bersama, sebuah perusahaan kecil yang sering dituduh hanya mengandalkan kekuasaan keluarga Giovanni dan Giselle, kakak beradik yang juga sahabat Nora. Banyak tamu undangan yang hadir adalah klien dari perusahaan ayah Giovanni dan Giselle.


"Selamat malam, para tamu yang terhormat. Saya sangat senang dan berterima kasih atas kehadiran kalian semua di malam yang istimewa ini. Malam ini, kita merayakan ulang tahun ke-10 dari perusahaan yang saya bangun bersama dengan kalian, PT. Maju Bersama. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian semua atas kontribusi, loyalitas, dan kepercayaan kalian kepada perusahaan ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para mitra, klien, pemasok, dan stakeholder lainnya yang telah mendukung dan bekerja sama dengan perusahaan ini selama ini. Saya berharap kita dapat terus menjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan di masa depan. Malam ini, mari kita bersenang-senang dan menikmati pesta yang telah saya siapkan untuk kalian semua. Saya harap kalian dapat merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang saya rasakan saat ini. Sekali lagi, selamat datang di pesta ulang tahun PT. Maju Bersama."


Nora mendengar sambutan ayah Yudha dengan senyum tipis di bibirnya. Ia melihat tangannya mengangkat gelas berisi soda cokelat sebagai tanda toast. Para tamu undangan ikut mengangkat gelas mereka dan bersorak-sorai, lalu meminum isinya.


Nora hanya tersenyum saat beberapa tamu undangan mengajaknya bergabung dalam percakapan mereka. Ia ikut berbaur tapi tidak banyak bicara. Ia sedang tidak fokus pada bisnis atau hal-hal formal lainnya. Ia hanya ingin mencari Yudha dan Giselle yang belum ia lihat sejak tiba di sini.


“Nora.”


Ia menoleh ke belakang dan melihat Giovanni yang menatapnya dengan dingin. Lelaki itu tampak tidak tertarik berada di sini atau sedang ada masalah. Tatapan matanya menunjukkan rasa marah yang sedang ditahan. Namun, yang membuat Nora bingung adalah pipi kirinya yang tampak merah.


“Lo ditampar siapa?” tanya Nora tanpa basa-basi. Ia sangat tahu lelaki itu tidak mudah diintimidasi oleh siapa pun.


Giovanni menatap Nora dengan kesal. Ia menunjuk wajah gadis itu dengan jarinya sambil berkata, “Ini semua gara-gara sahabat lo! Lo tahu nggak dimana ****** itu sekarang?!”


Nora mengerutkan keningnya. Ia bisa saja marah, tapi ia sadar masih banyak orang yang memperhatikan mereka. Jika ia melanjutkan pertengkaran ini, bisa saja merugikan keluarga mereka berdua. Ia menatap Giovanni dengan menahan rasa sakit di perutnya. Tiba-tiba saja rasa nyeri menstruasi kembali muncul.


Ia menarik tangan Giovanni ke tempat yang lebih sepi. Ia menatap wajah lelaki itu yang terlihat muak dengan Giselle. Ia tidak tahu apa yang terjadi sehingga lelaki itu tampak marah.


“Kenapa lo nanya Giselle ke gue? Lo itu abangnya seharusnya lebih tahu dari gue,” ucap Nora dengan mendorong tubuh Giovanni dengan satu jarinya.


"Gue abangnya? Bullshit! Gue nggak pernah mau punya adek kayak dia. Dia itu cuma beban bagi gue, Nora. Dia penyebab gue jadi kayak gini," ucap Giovanni dengan menoyor kening gadis itu. Raut wajahnya terlihat jelas menunjukkan rasa kesal juga marah.


Nora hanya mengangguk-angguk saja sambil berkata, “Dia beban bagi lo? Beban yang lo maksud dia itu manja. Bukannya manja ke saudara atau keluarga sendiri itu nggak salah. Dia cuma mau lo anggap dia ada, Kak Gio.”


Giovanni hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir. Ia memandang orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka dengan tatapan sinis. Orang-orang itu tidak akan pernah mengerti dirinya, tidak akan pernah merasakan apa yang ia rasakan. Hanya Ervin, sahabatnya sekaligus adik angkatnya, yang selalu memahami dan mendukungnya. Di dunia ini, ia hanya punya Ervin.


Nora menatap kepergian Giovanni dengan menghela napas panjang. Ia ingin sekali membantu Giovanni, tapi bagaimana caranya jika lelaki itu hanya mengatakan hal-hal yang kurang jelas? Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Giovanni, apa yang membuatnya begitu tertekan dan kesal. Akhirnya ia memilih menghormati rahasia Giovanni dan tidak bertanya lebih jauh.


...****************...


Nora kembali menuju kerumunan pesta. Dirinya terpesona melihat sebuah penampilan yang memukau dari sahabatnya, Yudha. Lelaki itu tampak memainkan biola dengan anggun, tetapi terdengar alunan musik itu sangat menyayat hati.


Nora yang merupakan orang cukup lama berkecimpung di dunia musik, tahu betul makna lagu tersebut. Lagu itu terdengar sangat menyakitkan jika didengar dengan hati. Ia melihat tatapan sendu yang diberikan oleh Yudha selama permainan dengan senyuman palsu.


Di bawah panggung, ada Giselle yang menatap Yudha dengan bersedih. Gadis itu tampak tidak terima jika kekasihnya terlihat seperti itu. Ia menduga hari ini dirinya telah melewatkan sesuatu yang begitu besar.


Nora berjalan kepada sahabatnya dengan menghela napas. Ia membawa tubuh Giselle ke dalam pelukannya. Seketika air mata gadis itu turun begitu saja dengan tubuhnya yang gemetar menahan isak tangisnya.


"Jangan sedih lagi, Gis. Lo kayak gini makin ngebuat Yudha sedih. Gue tau kalian punya masalah, tapi setidaknya lo harus bisa ngebuat Yudha kembali bahagia dengan sifat lo yang ceria," bisik Nora dengan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


Giselle melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum dengan mengelap air matanya yang berjatuhan. Ia terus menatap Yudha yang memainkan biola dengan tersenyum cerah sampai permainan musik selesai.


Setelah permainan musik selesai tidak ada satu orang pun yang bertepuk tangan. Giselle orang pertama bertepuk tangan bersama Nora yang mengiringi tepuk tangan itu. Akhirnya para tamu undangan juga ikut bertepuk tangan.


"Cuman main biola saja? Anak saya juga bisa main biola bahkan alat musik lainnya."


"Haha, iya. Anak dia cuman bisa main itu saja tidak seperti anak Anda juga Nora putri Nyonya Rayna."


"Tidak hanya itu saja! Dia bahkan sangat kalah dari kakak tunangannya! Baik dalam berorganisasi juga kepintaran dia sangat kalah dari anak Nyonya Rayna juga Tuan Skyden."


Suara tawa dan ejekan itu menggema di telinga Yudha. Ia merasa seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Perkataan tamu undangan menyebabkan Yudha menundukkan wajahnya dengan wajah pucat. Ia menatap ke arah sang ayah yang terlihat melihatnya marah. Ia tidak akan tahu sampai kapan hal ini akan berakhir.


"Haha, benar sekali! Bahkan dia sangat tidak setara dengan putri saya."