
Nora merasakan sesak di dadanya saat ia membuka berkas yang diberikan oleh bundanya. Di dalamnya terdapat identitas lengkap dari Joy, gadis yang kini dekat dengan Ervin, adik kelasnya. Nora membaca dengan seksama setiap detail yang tertulis di sana.
Nama: Bravey Princess Joy
Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 15 Agustus 2007
Jenis kelamin: Perempuan
Agama: Kristen
Alamat: Jl. Merdeka No. 12, RT/RW 03/07, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, DKI Jakarta
Nomor telepon: 081234567890
Email: braveyprincessjoy@gmail.com
Pendidikan terakhir: Siswa kelas X IPA 1 di SMA Prestige International
Hobi: Menulis, membaca, menggambar
Cita-cita: Menjadi psikolog
Orang tua: Ayah - Jonathan Joy (Direktur PT. Brave Indonesia), Ibu - Maria Joy (Ibu rumah tangga)
Saudara kandung: Adik laki-laki - Kevin Joy (Siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Jakarta)
Nora menatap foto Joy yang tersenyum manis di sudut berkas itu. Ia tidak bisa menyangkal bahwa gadis itu cantik dan pintar. Tapi ada sesuatu yang membuat Nora merasa curiga. Apakah Joy benar-benar tulus berteman dengan Ervin? Ataukah ia hanya memanfaatkan kedekatannya dengan Ervin untuk mendapatkan sesuatu?
Nora menghela napas panjang dan menutup berkas itu. Ia meletakkannya di meja belajar dan berjalan menuju kasurnya. Ia merasa lelah dan bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu mengapa ia begitu peduli dengan Ervin. Bukankah ia hanya adik kelasnya? Bukankah ia harus mendukung hubungan Ervin dan Joy?
Nora membaringkan dirinya di kasur dan menutup matanya. Ia mencoba untuk mengusir bayangan Ervin dari pikirannya. Tapi semakin ia berusaha, semakin kuat bayangan itu muncul. Ia bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang semakin kencang.
"Ah, ini nggak mungkin," gumam Nora sambil menggelengkan kepala. "Gue nggak boleh ngerasain ini."
Nora membuka matanya dan mengambil ponselnya dari meja nakas. Ia ingin melihat apa yang sedang dilakukan Ervin. Ia membuka Instagram dan mencari akun Ervin. Ia terkejut saat melihat foto terbaru Ervin yang terlihat sangat tampan.
Nora merasa napasnya tercekat saat melihat senyum Ervin yang mempesona. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari foto itu. Ia merasa seperti tersihir oleh pesona Ervin.
"Ervin... lo kok makin ganteng aja," bisik Nora sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba ponselnya bergetar dan menampilkan panggilan video dari Ervin. Nora kaget dan langsung melemparkan ponselnya ke lantai tanpa sengaja. Ia bergegas mengambil ponselnya dan melihat layar yang masih menunjukkan panggilan video dari Ervin.
Nora panik dan tidak tahu harus bagaimana. Ia belum mandi dan rambutnya masih acak-acakan. Ia tidak siap untuk berbicara dengan Ervin secara langsung.
"****, kenapa sih Ervin nelpon sekarang?" ujar Nora sambil menarik rambutnya. Tanpa sadar, jari tangannya menyentuh layar dan mengangkat panggilan video itu.
"Hello, Kak?" suara Ervin terdengar dari ponselnya.
Nora menjerit dan meletakkan ponselnya di atas kasur. Ia tidak berani melihat wajah Ervin di layar.
"Ada apa, Nora?" suara bibinya terdengar dari lantai bawah.
"Nggak papa, Bi!" jawab Nora sambil menutup pintu kamarnya.
Ia merasa malu dan gugup. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada Ervin. Ia hanya bisa berharap bahwa Ervin tidak melihat wajahnya yang berantakan.
"Ervin... gue..." gumam Nora sambil memegang ponselnya.
Nora menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja menerima panggilan video dari Ervin, adik kelasnya yang sebenarnya bukan teman dekatnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan. Ia merasa malu dengan penampilannya yang berantakan dan dengan teriakannya yang kasar.
"Kak, maaf ya ganggu," suara Ervin terdengar dari ponselnya. "Gue mau ngajak kakak main ke Taman Suropati. Gue udah di sini sama yang lain."
Nora menelan ludah dan mencoba untuk tersenyum. Ia melihat Ervin yang terlihat tampan dengan kaus putih dan celana jeans biru. Di belakangnya, ia bisa melihat beberapa orang yang ia kenal, termasuk Joy, gadis yang dekat dengan Ervin.
"Lo di sana sama siapa aja?" tanya Nora dengan pura-pura antusias.
"Cuman sendirian aja, tapi di sana ada Joy juga Giovanni, " jawab Ervin sambil memperlihatkan suasana taman dan menunjuk keduanya.
Nora merasakan sesuatu menusuk hatinya saat mendengar nama Joy. Ia tidak suka dengan gadis itu. Ia merasa bahwa Joy tidak pantas untuk Ervin. Ia merasa bahwa Joy hanya memanfaatkan Ervin untuk kepentingannya sendiri.
Nora mengusir pikiran-pikiran itu dari kepalanya dan berusaha untuk bersikap normal.
"Oke deh, gue siap-siap dulu ya. Nanti gue otw ke sana," kata Nora sambil berdiri dari kasurnya.
"Oke, Kak. Jangan lupa makan dulu ya. Nanti gue beliin es krim buat kakak," kata Ervin sambil tersenyum manis.
Nora merasakan jantungnya berdebar-debar saat melihat senyum Ervin. Ia merasa seperti ada kupu-kupu di perutnya.
"Ervin... lo..." gumam Nora sambil memegang dadanya.
"Tunggu ya, Kak. Gue tutup dulu ya," kata Ervin sambil menekan tombol end call.
Nora menatap layar ponselnya yang sudah gelap dan menghela napas panjang. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Ia bingung dengan dirinya sendiri.
Nora bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia ingin tampil cantik dan menarik di depan Ervin. Ia ingin membuat Ervin melihatnya sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang kakak.
Nora membuka lemari pakaiannya dan mencari pakaian yang cocok untuk dipakai. Ia memilih pakaian yang berbeda dari biasanya. Ia ingin mencoba gaya yang lebih imut dan lucu, seperti yang sering dipakai oleh Giselle.
Ia mengambil beberapa pakaian dari lemari dan memfoto mereka. Ia mengirim foto-foto itu ke Giselle dan meminta pendapatnya.
"Giselle... tolong bantuin gue pilih pakaian dong," tulis Nora di chat.
"Gue bantu kok, Nora. Tapi kenapa lo mau pakai gaya imut-imut? Biasanya lo kan lebih suka gaya cool," balas Giselle dengan suara penasaran.
"Gue cuma pengen nyoba aja sih. Lagian gue mau main sama temen," jawab Nora dengan malu-malu.
"Oh... jadi gitu toh... lo mau ngegoda siapa ya? Nanti kenalin ke gue," goda Giselle dengan suara nakal.
"Ih... enggak lah... gue cuma mau keliatan beda aja," bantah Nora dengan menggelengkan kepala.
"Yaudah deh... gue percaya aja. Oke, gue kasih saran ya. Menurut gue lo cocok pakai rok cokelat pastel, crop top putih, sweater moka, sama tas selempang kecil. Itu bakal bikin lo keliatan imut dan manis," kata Giselle dengan suara serius.
"Oke, gue coba ya. Makasih ya, Gis," ucap Nora dengan menahan senyuman.
"Gue doain ya, Nora. Semoga lo berhasil ngejatuhin hati cowok itu walaupun nggak tau siapa," kata Giselle dengan suara semangat.
Nora tersenyum dan mengucapkan terima kasih lagi. Ia mengenakan pakaian yang disarankan oleh Giselle dan bercermin. Ia merasa puas dengan penampilannya. Ia merasa lebih percaya diri.
Nora meminta supirnya untuk mengantarnya ke Taman Suropati. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Ervin. Ia berharap bahwa Ervin akan menyukai penampilannya dan memperhatikannya lebih.
Namun, harapannya sirna saat ia sampai di taman. Ia melihat Ervin yang sudah menunggunya di sana bersama teman-temannya. Ia melihat Ervin yang sedang tertawa bersama Joy yang duduk di sebelahnya.
Nora merasakan hatinya hancur saat melihat pemandangan itu. Ia merasa bahwa usahanya sia-sia. Ia merasa bahwa Ervin tidak peduli padanya.
Nora menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tersenyum. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya kepada orang lain. Ia tidak mau merusak suasana yang ceria.
Nora berjalan menuju Ervin dan teman-temannya dan menyapa mereka dengan ramah.
"Halo, semua. Maaf ya gue telat," kata Nora sambil melambaikan tangan.
"Halo, Kak Nora. Gak papa kok, Kak. Lo nggak telat kok," kata Ervin sambil berdiri dan menyambut Nora.
Nora melihat Ervin yang tersenyum padanya dan merasa bingung. Apakah Ervin benar-benar senang melihatnya? Ataukah ia hanya basa-basi?
Nora mencoba untuk tidak memikirkan hal itu dan membalas senyuman Ervin.
"Lo cakep banget sih, Kak," puji Ervin sambil menatap Nora dari atas ke bawah.
Nora merasa senang mendengar pujian Ervin. Ia merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
"Makasih, Vin. Lo juga ganteng kok," balas Nora sambil menepuk bahu Ervin.
Ervin tertawa dan menggandeng tangan Nora.
"Ayo kita jalan-jalan, Kak. Ada banyak spot foto bagus di sini," ajak Ervin sambil menarik Nora ke arah taman.
Nora mengikuti Ervin dengan hati-hati. Ia tidak tahu apa maksud Ervin menggandeng tangannya. Apakah ini pertanda baik? Ataukah ini hanya permainan? Nora berharap bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang indah antara dia dan Ervin.