The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Dua Sisi yang Berbeda dari Kafe



Dengan langkah gontai, Ervin berpegangan pada lengan Giovanni. Mereka berdua menjadi sasaran tatapan penasaran dan iba dari para pengunjung kafe yang menyaksikan kejadian tadi. Namun, mereka seolah tak peduli dengan pandangan orang lain. Ervin hanya menundukkan kepalanya, menutupi rasa malu dan sakitnya.


Seorang pria paruh baya berlari-lari kecil mendekati mereka. Ia membawa kotak P3K di tangannya dan meletakkannya di atas meja terdekat. Wajahnya tampak khawatir melihat kondisi Ervin dan Giovanni.


Nora tersenyum ramah kepada pria itu, namun hanya mendapat senyuman canggung sebagai balasan. Ia bisa merasakan ketidakpercayaan dari pria itu, yang ia duga sebagai manajer kafe ini.


“Nona, lebih baik Anda pergi sekarang atau saya akan panggil polisi. Anda jangan ganggu anak-anak ini lagi,” ujar pria itu dengan nada tegas.


“Maaf, Pak. Saya rasa Anda salah mengerti. Saya bukan bagian dari mereka yang tadi. Saya teman sekolah Ervin dan Gio, dan kebetulan saya ada di sini,” sangkal Nora dengan tersenyum manis.


Pria itu masih ragu, tetapi akhirnya ia mengalah dan meninggalkan kotak P3K di atas meja. Ia pun kembali mengurus karyawan-karyawannya yang mulai bekerja kembali setelah kegaduhan tadi.


Giovanni mengambil kotak P3K tanpa berkata apa-apa. Ia mulai membersihkan dan mengobati luka-luka di wajah Ervin dengan hati-hati. Nora hanya diam memperhatikan mereka berdua.


“Ervin … mereka masih sering ganggu lo?” tanya Nora dengan napas berat.


“Enggak, Kak.” Ervin menjawab singkat, seolah tak mau membahas hal itu lebih lanjut.


“Tapi tadi …”


Sebelum Nora bisa melanjutkan kata-katanya, Giovanni melemparkan kapas bekas ke arahnya. Nora menangkapnya dengan refleks, tapi ia merasa kesal melihat ekspresi Giovanni yang sinis.


“Ya, karna lo Ervin akhir-akhir ini aman di sekolah. Tapi di luar sana mereka masih nyari kesempatan karna lo nggak ada di samping Ervin waktu di luar sekolah,” ucap Giovanni dengan nada dingin.


Nora mengangguk pelan. Ia tahu perkataan Giovanni ada benarnya. Tapi ia juga tak bisa selalu menjaga Ervin dari orang-orang jahat itu. Seharusnya Ervin sendiri yang berani melawan, bukan diam seperti tak berdaya.


Nora punya rencana untuk mengubah semuanya. Ia akan melakukan sesuatu yang tak akan pernah terpikirkan oleh murid-murid lain. Tapi itu rahasia yang hanya ia ketahui sendiri.


Nora menoleh ke arah Giovanni dengan heran. Wajahnya juga penuh memar dan luka. Padahal ia tak ikut terlibat dalam perkelahian tadi. Lalu kenapa ia terlihat lebih parah dari Ervin?


“Kak Gio nggak mau obatin juga lukanya?” tanya Nora sambil menunjuk kotak P3K di atas meja.


Giovanni hanya menggeleng pelan. Ia menarik Ervin untuk kembali bekerja seperti biasa. Mereka berdua seakan punya banyak rahasia yang tak mau dibagikan.


Nora mengeluarkan ponselnya dengan ragu-ragu. Ia mengetik sesuatu dan mengirim pesan kepada seseorang. Tapi ia hanya mendapat balasan yang membuatnya kecewa.



...****************...


Nora kembali duduk di tempatnya semula. Ia melihat Ervin dan Giovanni yang sudah bekerja lagi seolah tak ada apa-apa. Mereka berdua melayani para pelanggan dengan senyuman ramah dan sikap profesional. Mereka berdua tampak seperti orang yang berbeda, terutama Giovanni.


Sekarang giliran Nora yang dilayani oleh Ervin. Ia menunjukkan beberapa menu yang tersedia di kafe itu. Di tangannya, ia membawa sebuah buku tulis untuk mencatat pesanan pelanggan.


Nora menunjuk menu yang ia inginkan dengan tersenyum balik. Ia memperhatikan Ervin yang menulis pesanannya dengan wajah tenang. Wajahnya yang tampan sayang sekali menjadi sasaran bully di sekolahnya, apalagi dengan otaknya yang jenius.


Ia menatap ke arah jalan dengan meletakkan dagunya di atas telapak tangannya. Suasana pagi yang sejuk membuatnya bisa berpikir lebih jernih. Apalagi dengan melihat wajah serius dari adik kelasnya itu.


Tak lama kemudian, pesanannya datang dan lagi-lagi disajikan oleh Ervin. Sebuah gelas Vanilla Latte, sesuai dengan yang ia pesan. Tapi ada satu hal yang aneh. Di atas mejanya, ada sebuah potong kue cokelat yang sama sekali tak ia pesan.


“Gue nggak pesan Choco Cake, Vin. Lo salah bawa pesanan,” ujar Nora sambil menunjuk kue cokelat itu.


Ervin menggelengkan kepalanya dan mendorong kue itu lebih dekat ke Nora. Ia tersenyum dan berkata, “Ini gue yang traktir, Kak. Ini sebagai tanda terima kasih gue karna Kakak banyak bantu gue akhir-akhir ini.”


Nora menatap Ervin dengan tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak. Ia mengeluarkan selembar uang biru dan memasukkannya ke kantong seragam Ervin.


“Gue nggak suka ditraktir, Vin. Ambil uangnya atau gue marah sama lo,” tolak Nora dengan tegas.


“Gue juga nggak mau nerima uangnya, Kak. Lo bisa bayar minumannya di kasir, tapi kue coklatnya udah gue bayar duluan,” jawab Ervin dengan senyum lebar.


Nora hanya mendengus kesal. Akhirnya ia menerima kue cokelat itu walaupun agak terpaksa. Ia menolong Ervin dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan apa pun.


“Nanti lo harus nerima traktir gue balik, Vin. Terus jangan takut sama omongan Giselle sama yang lain, ya. Gue bebas mau berteman sama siapa aja,” celetuk Nora sambil menunjuk wajah Ervin. Tapi Ervin malah tertawa dan mengangguk-angguk.


“Iya, Kak. Kapan-kapan aja, ya. Selamat menikmati, Kak. Gue lanjut kerja dulu,” pamit Ervin sambil melambaikan tangannya.


Ervin berjalan menuju tempat kerja barista. Ia mengambil sebuah kamera dan tersenyum tipis. Lensa kamera itu mengarah ke tempat tertentu yang hanya bisa dilihat dari layar kamera saja. Hal ini sudah menjadi kebiasaan baginya.


Lelaki itu menatap hasil jepretan kamera miliknya dengan senyum tipis. Hasil gambar yang terlihat bagus dari sosok gadis cantik yang seperti dewi Afrodit. Kumpulan gambar yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.


“Dia emang cantik, Vin. Selain itu, dia juga baik makanya banyak yang suka sama dia. Tapi dia itu cuma anggap orang yang dibantunya sebagai teman aja. Jadi gue saranin jangan terlalu berharap apalagi lo cuma dianggap dia sebagai adek kelas,” ucap Giovanni yang sedang menatap sosok gadis di dekat jendela.


Ervin menatap ke arah Giovanni dan mengangguk-angguk. Ia menatap ke arah Nora yang sedang menikmati kue cokelatnya dengan anggun. Ia terlihat seperti gadis yang berasal dari keluarga yang baik-baik dan berpendidikan. Gadis yang berkelas pasti akan mendapatkan pasangan yang lebih baik juga.


Di tempat itu, Nora menatap Ervin dengan diam-diam. Senyum manisnya hanya muncul saat Ervin tak memperhatikannya lagi. Ia mengelap mulutnya dengan tisu.


Nora berjalan menuju kasir untuk membayar minumannya. Kemudian ia pergi meninggalkan kafe itu. Sebelum itu, ia menyapa Ervin dan Giovanni dengan ramah. Keadaan kafe kembali normal setelah kepergian gadis itu.


...****************...


Jangan lupa vote dan komen 😃


Ervin 😋


Next😆