The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Nora, Ervin, dan Perkelahian di Cafe



Seperti remaja yang umumnya, Nora duduk di atas kasur dengan menatap layar ponselnya. Ia berkali-kali menghapus juga mengetik dengan raut wajah kebingungan. Matanya terpejam memikirkan kata yang seharusnya ia kirim melalui chat.



Nora yang mendapatkan balasan dari Ervin sontak terkejut. Ia tersenyum lebar dengan berpikir mau membalas apa. Ia sempat panik sehingga terbuka pesan dari Ervin tanpa membalas chat lelaki itu.


Namun, beberapa menit kemudian Ervin kembali mengirimkan pesan. Kali ini Nora tidak lagi lama membalas pesan dari lelaki itu. Ia juga menyebutkan namanya di dalam pesan. Di dalam waktu singkat Ervin membalasnya dengan sangat cepat yang membuatnya menahan senyuman.


Selama itu ia juga memikirkan kata untuk mengajak Ervin pergi sarapan bersama dirinya. Ia tidak akan pernah ingkar janji dengan perkataan dirinya. Jika ia mengatakan ingin pergi traktir maka harus terjadi. Namun, nyatanya tidak semudah itu.



Nora merasakan kekecewaan yang mendalam ketika Ervin menolak ajakannya untuk sarapan bersama. Ia hanya bisa mendengus kesal, namun ia tidak berhak memaksakan kehendaknya pada orang lain. Ia pun memutuskan untuk turun ke dapur dengan mengenakan hoodie dan celana longgar. Ia berharap bisa menikmati paginya dengan tenang, meski tanpa Ervin.


Namun, harapannya pupus begitu ia melihat ayahnya, Satria, sedang menggoda asisten rumah tangga muda yang baru bekerja di rumahnya. Wanita itu terlihat ketakutan dan tidak nyaman, tapi ia tidak berani menolak atau melawan atasannya. Nora merasa jijik melihat tingkah laku ayahnya yang brengsek itu.


"Kak! Jadi bareng Nora nggak? Katanya mau beli sayur," seru Nora dengan melambaikan tangannya.


Asisten rumah tangganya itu segera berlari ke arahnya dengan wajah pucat. Ia bersyukur ada Nora yang datang menyelamatkannya dari godaan Satria. Tapi ia masih merasakan tatapan nafsu dari pria itu di belakangnya.


“Nora kamu ganggu kesenangan Ayah saja. Kalau mau belanja sayur sendiri aja. Anak gadis kok nggak bisa urusan dapur,” omel Satria sambil mendekati putrinya.


Nora diam saja, ia menarik tangan asisten muda ibunya dan membawanya keluar rumah. Ia tidak peduli dengan omongan ayahnya yang tidak pantas menjadi seorang ayah.


Nora berjalan dengan menutupi kepalanya dengan tudung hoodie. Ia melirik wanita muda yang hanya berbeda tujuh tahun dengannya. Mereka berdua tidak bicara apa-apa.


"Kak ... Nora cuman bisa nganter kakak di sini. Ini uangnya lalu kakak pulang aja ke rumah keluarga. Nanti Nora bakal ngomongin ini ke Bunda dijamin kakak nggak bakal kena marah," ucap Nora dengan memberikan uang sakunya.


"Makasih Nona! Nona baik banget sampai kakak nggak tau harus balas kayak gimana."


"Nggak perlu dibalas yang penting kakak aman," balas Nora sambil tersenyum manis. "Nora pergi dulu, ya. Kakak hati-hati dijalan."


Nora berlari meninggalkan wanita itu. Ia ingin berolahraga untuk mengusir pikiran-pikiran negatif dan mengembalikan aura positifnya. Ia menuju taman terdekat yang penuh dengan suasana ceria.


Nora melihat-lihat keluarga-keluarga yang meski sederhana tapi bahagia. Ia merasa senang dan iri sekaligus. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan melakukan meditasi.


“Semoga semuanya hidup berbahagia,” gumam Nora dengan tersenyum tipis.


...****************...


Nora merasa tubuh dan pikirannya ringan setelah berjalan-jalan di taman yang asri. Ia memutuskan untuk mampir ke cafe favoritnya untuk menyantap camilan dan minuman dingin. Ia memilih tempat duduk di pojok dekat jendela, agar bisa menikmati pemandangan lalu lintas di jalan raya. Ia tersenyum melihat keceriaan orang-orang yang lewat, anak-anak yang bersepeda, dan bunga-bunga yang mekar.


Tiba-tiba, ia melihat dua orang yang ia kenal di luar cafe. Salah satunya adalah seorang cowok yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia bisa melihat ekspresi kesal di wajah cowok itu. Ekspresi yang jarang ia lihat di sekolah. Hari ini ia bisa menyaksikannya secara langsung.


Wanita paruh baya itu akhirnya pergi dan meninggalkan cowok itu sendirian. Namun, sebelum ia bisa beranjak, beberapa pria datang dan menghalangi jalannya. Mereka adalah pria-pria brengsek yang sering mengganggu di sekolah.


“Anjing, maksud lo apa?!” terdengar suara Giovanni, kakak dari sahabatnya, yang datang dari arah cafe. Ia tampak mengenakan seragam pegawai cafe. Nora heran, ia tidak pernah mendengar Giselle bercerita tentang hal ini.


“Maaf, Kak. Misi saya mau lanjut kerja,” ujar Ervin dengan tenang sambil melepaskan tangan salah satu pria itu.


“Wah, udah berani ternyata!”


“Mau main-main sama kita ternyata.”


Ervin langsung diserang oleh beberapa pria itu. Orang-orang di dalam cafe berteriak-teriak ketakutan. Tidak ada yang berani menolong, hanya merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Hanya Giovanni yang berusaha membantu Ervin dari pukulan-pukulan pria-pria itu.


Giovanni yang dikenal sebagai sosok tegas dan berwibawa ternyata tidak bisa melawan mereka. Ia didorong ke belakang karena mereka main keroyokan. Nora hanya menonton dari jendela sambil bersiap-siap untuk ikut campur jika situasinya semakin buruk.


"Berhenti nggak lo pada!" teriak Giovanni dengan menarik salah satu orang itu lalu memukul wajah pelaku.


"****! Berani lo sama gue! Mau gue laporin ke atasan lo pada, hah?!"


Giovanni tiba-tiba terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya ia hanya bisa meminta maaf kepada Ervin. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena jika tidak, ia bisa kehilangan pekerjaannya.


“Anak ****** pada akhirnya emang kek ******!”


Ervin mendongakkan kepalanya dengan marah dan berkata, “Maksud lo ngomong gitu apa?”


“Wah, berarti dia natap gitu! Hahahaha.”


Kalimat itu membuat Ervin tersulut emosinya. Ia bangkit dengan marah dan melawan mereka dengan ganas. Ia tidak seperti Ervin yang biasanya penakut dan lemah. Ada sesuatu di masa lalunya yang membuatnya sensitif dengan kata-kata itu.


Nora berjalan keluar meskipun pada awalnya dicegah untuk tidak keluar karena ada perkelahian. Namun, ia tetap keluar dengan menjelaskan bahwa kedua orang itu adalah kenalannya. Saat ia membuka pintu cafe, orang-orang yang terlibat perkelahian seketika menatap ke arahnya.


“Hei, kalian! Gue boleh gabung nggak? Kebetulan gue bawa ini,” seru Nora sambil mengeluarkan tongkat besi dengan tersenyum manis. Tongkat itu adalah pelindung andalannya saat berjalan sendirian.


“Loh, jangan gabung Neng Nora. Ini urusan para cowok.”


“Iyasih, tapi menurut bunyi Pasal 351 KUHP, jika ngelakuin penganiayaan dapat diancam hukum pidana. Ini semua masuk pasal itu nggak, sih? Atau gue tanya sama pengacara andalan keluarga gue,” balas Nora sambil mengeluarkan ponselnya. Ia pura-pura akan menelepon pengacara keluarganya yang sebenarnya tidak ada. Mendengar itu, pria-pria itu ketakutan dan segera pergi. Mereka tidak mau berurusan dengan hukum.


Nora tersenyum miris menatap Ervin. Tangannya mengelus wajah lelaki itu yang tampak terluka. Ia menatap Giovanni yang akan membantu Ervin masuk ke dalam.


“Gue perlu ngomong sama kalian habis ini,” ucap Nora dengan serius.


...****************...


Jangan lupa vote dan komen 😄


Bully lagi🥲


Next 👑