
Nora terjaga dari tidurnya dengan perasaan cemas. Ia melihat wajah bundanya yang tampak murung dan lelah, meski sedang terlelap dalam mimpi. Nora merasakan sesak di dadanya, seolah-olah penderitaan bundanya tidak pernah berhenti.
Dengan hati-hati, ia melepaskan diri dari pelukan Rayna, bundanya yang masih tertidur. Ia menoleh ke arah jam dinding yang berbunyi tik-tok di atas meja rias. Ia terkejut melihat jarum jam yang sudah menunjukkan angka enam di pagi hari. Ia sudah terlambat bangun. Ia ingin segera mandi dan bersiap-siap untuk sekolah, tapi ia tidak tega membangunkan bundanya yang tampak begitu damai.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan pintu kamar mereka. Siapa yang mengetuk pintu di pagi buta seperti ini? Nora dan bundanya saling pandang dengan heran. Mereka tahu bahwa asisten rumah tangga mereka tidak akan pernah mengganggu mereka tanpa alasan yang penting.
"Nora aja, Bun," kata Nora sambil bangkit dari tempat tidur. Ia tidak mau bundanya repot-repot untuk berurusan dengan siapa pun yang ada di balik pintu itu.
Nora berjalan menuju pintu dengan merapikan rambut dan bajunya yang kusut. Ia membuka pintu dan terkejut melihat Ervin, adik tirinya, yang tersenyum canggung padanya. Nora merasakan jantungnya berdebar-debar, mengingat apa yang terjadi semalam antara mereka.
"Bunda kakak ada di kamar? Om Satria minta bunda turun sebentar," kata Ervin sambil menunjuk ke arah lantai bawah. "Oh ya, sarapan udah siap juga. Kakak kan mau sekolah hari ini?"
Nora mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia menepuk pundak Ervin dan berjalan masuk ke kamar lagi untuk memberitahu bundanya. Sebelum ia menutup pintu, ia mendengar Ervin memanggil namanya dengan suara lirih.
"Kak Nora, maaf ya... nanti kita ngobrol lagi kayak biasa, ya?" Ervin menundukkan kepala dengan raut wajah bersalah. Ia merasa bersalah karena ibunya telah menyebabkan masalah besar bagi keluarga mereka. Ia juga merasa kehilangan rasa sayangnya kepada ibunya.
"Tentu saja. Nanti kalau ada waktu luang kita ngobrol santai aja. Sekarang gue mau mandi dulu, udah bau nih," jawab Nora dengan bercanda sambil tertawa kecil.
Nora memberitahu bundanya bahwa mereka harus segera turun dan mandi. Setelah itu, ia berjalan bersama Ervin menuju kamarnya. Di depan pintu kamarnya, ia meminta Ervin untuk menunggu di lantai bawah saja.
Saat mandi, Nora bersenandung lagu sedih yang sering ia dengar. Lagu itu sudah menjadi teman setianya di saat-saat sulit seperti ini. Namun, ia tetap berusaha untuk cepat-cepat selesai, karena jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia tidak mau terlambat ke sekolah.
Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya, Nora keluar dari kamarnya dengan rasa segar. Namun, ketika ia sampai di lantai bawah, ia mendengar suara ribut-ribut dari ruang makan. Wajahnya langsung berubah menjadi khawatir. Ia berlari menuju ruang makan dengan perasaan tidak enak.
Di ruang makan, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Ervin berdiri di depan ayah tirinya dengan marah, sementara ayahnya, Satria, mengacungkan tangannya untuk memukul bundanya lagi. Bunda Nora tampak pucat dan lemas, dengan pipinya yang memerah dan bibirnya yang berdarah. Nora tahu apa yang terjadi tanpa perlu bertanya.
"Tuan Satria, apa Anda tidak malu melakukan kekerasan dalam rumah tangga di depan anak-anak? Apalagi alasan Anda memukul bunda saya sangat tidak masuk akal," kata Nora dengan berani sambil berdiri di samping Ervin.
Satria terdiam sejenak, lalu tertawa sinis. Ia merasa tidak pantas dipanggil ayah oleh Nora, karena ia tahu bahwa Nora membencinya. Ia juga tidak peduli dengan Ervin, anaknya dari istri mudanya.
"Anakku, bunda kamu itu sudah memblokir semua kartu kredit ayah! Bagaimana ayah bisa hidup tanpa kartu kredit itu? Apalagi bagaimana dengan adik-adik kamu?" teriak Satria dengan marah sambil menunjuk ke arah Ervin dan adik-adik tirinya yang masih berdiri di ruang makan.
"Hanya karena masalah kartu kredit atau uang? Bukankah seharusnya Anda menggunakan gelar magister Anda untuk mencari uang lebih banyak? Jangan menghabiskan uang bunda untuk kesenangan Anda sendiri! Bukankah sebagai seorang suami, Anda berkewajiban untuk mencari nafkah untuk keluarga? Bunda tidak perlu bekerja keras untuk memberi Anda uang, tapi sebaliknya, Anda yang harus melakukan itu," balas Nora dengan sinis sambil tersenyum mengejek. Ia tidak akan pernah membiarkan Satria dan ibu tirinya, Gendis, sedikit pun menyentuh uang bundanya.
Nora menatap dingin ke arah Satria, ayah kandungnya yang tidak berguna. Ia tidak peduli dengan omelan dan teriakan Satria yang marah karena kartu kreditnya diblokir. Ia tahu bahwa Satria hanya mengincar uang bundanya, yang bekerja keras sebagai direktur perusahaan arsitektur terkenal.
"Bunda tidak perlu memberi uang kepada Anda lagi. Sekarang saya yang akan mengelola keuangan rumah ini. Siapa pun di keluarga ini tidak berhak mendapatkan uang tanpa persetujuan saya," kata Nora dengan tegas sambil mengambil roti dan susu dari meja makan. Ia menyantap makanannya dengan cepat, karena ia tidak mau terlambat ke sekolah.
Hanya Rayna, Daisy, dan Ervin yang diam-diam mendukung Nora. Mereka adalah bunda dan adik-adik tirinya yang masih bersekolah. Mereka tahu bahwa Nora baik hati dan peduli dengan mereka, meski mereka bukan darah dagingnya. Mereka juga tidak mau merepotkan Nora dengan meminta uang lebih.
Namun, Rama, adik kandung Ervin, tidak bisa menerima keputusan Nora. Ia merasa bahwa Nora sombong dan egois. Ia ingin hidup mewah dan bergaya seperti anak orang kaya lainnya. Ia tidak mau hidup susah seperti sekarang.
"Bang! Ini nggak adil! Kok kita nggak dikasih uang saku? Mama nikah sama om Satria itu buat apa? Om Satria itu cuma pengangguran yang nyari duit dari bunda Nora, doang!" protes Rama dengan keras sambil menatap sinis ke arah Satria.
"Tenang aja, Ram. Nanti abang cari kerja sampingan buat nambah uang saku kita. Kita nggak usah minta sama Nora. Dia juga udah baik banget sama kita," kata Ervin dengan sabar sambil tersenyum manis. Ervin adalah adik tiri Nora yang paling dekat dengannya selama di sekolah. Ia juga sayang dengan adik-adiknya yang lain.
"Abang terlalu baik! Abang harusnya marah sama Nora! Dia itu nggak punya hati!" gerutu Rama sambil meninggalkan ruang makan. Daisy dan Ervin mengikutinya untuk menenangkan Rama.
Nora menghentikan makannya dan segera naik ke kamarnya. Ia mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia harus cepat-cepat keluar rumah sebelum ketiga adik tirinya itu pergi.
"Bunda, Nora pamit!" teriak Nora sambil melambaikan tangan kepada bundanya.
"Hati-hati di jalan, Nak!" sahut bundanya sambil melambaikan tangan balik.
"Hey, kalian bertiga! Tunggu sebentar! Gue mau keluarin mobil dulu," seru Nora sambil menunjuk Ervin, Rama, dan Daisy yang sudah siap berangkat sekolah.
Rama mendengus kesal. Ia tidak mau naik mobil bersama Nora. Ia merasa malu dengan teman-temannya jika mereka tahu bahwa ia bergantung pada kakak tirinya yang sok kaya itu.
Tapi sebelum ia bisa protes, ia sudah ditarik oleh Ervin dan Daisy ke arah mobil merah milik Nora. Mereka melihat Nora keluar dari garasi dengan mobilnya dan membunyikan klakson.
"Ervin, ayo ikut gue ke sekolah! Adik-adik lo juga bisa ikut kalau mau. Gue antar aja sekalian," ajak Nora dengan ramah sambil membuka kaca mobilnya.
Rama dan Daisy langsung bersinar mata mereka. Mereka senang bisa naik mobil bersama Nora. Mereka tidak perlu menunggu bus yang lama dan panas. Mereka menoleh ke arah Ervin dengan harapan.
"Nggak ngerepotin lo, Kak? Soalnya sekolah mereka lumayan jauh dari sekolah kita," tanya Ervin ragu-ragu. Ia takut Nora terlambat ke sekolah karena harus mengantar mereka.
"Nggak ngerepotin, kok. Asal lo kasih tahu nama sekolahnya, gue pastiin bisa nyampein kalian kurang dari 30 menit. Tapi kalian harus pakai sabuk pengaman, ya. Gue nggak mau tanggung jawab kalau kalian terbang waktu gue nyetir," kata Nora sambil tersenyum dari balik kaca spion.
Selama di perjalanan, Nora menyetir dengan cepat dan lihai. Ia seperti sedang balapan dengan pengendara lain. Ia tidak peduli dengan klakson dan umpatan yang ditujukan padanya. Ia hanya ingin segera sampai di sekolah.
Ervin merasa deg-degan melihat cara mengemudi Nora. Ia khawatir mereka akan celaka atau ditilang polisi. Ia berdoa dalam hati agar mereka selamat sampai tujuan.
Ketika mereka sampai di depan sekolah Rama dan Daisy, Nora terkejut. Sekolah itu adalah SMP negeri terbaik di Jakarta Selatan. Ia tidak menyangka bahwa adik-adik tirinya bersekolah di sana. Ia pikir mereka akan bersekolah di sekolah swasta yang mahal.
"Wow, ini sekolah kalian? Keren banget!" puji Nora dengan tersenyum.
"Ya, ini sekolah kami. Kami masuk sini karena dapet beasiswa," kata Rama dengan bangga.
"Beasiswa? Wah, hebat dong! Kalian pasti pintar banget!" kata Nora dengan mencoba akrab dengan remaja itu. Ia tidak pernah membenci anak wanita itu karena mereka tidak bersalah.
"Ya, kami memang pintar. Tapi Rama suka nakal dan bandel," kata Daisy sambil mengejek Rama.
"Hey, jangan ngomong gitu! Gue juga pintar! Cuma gue suka main-main aja," bantah Rama dengan malu.
"Main-main apa main cewek?" goda Daisy sambil tertawa.
"Udah-udah, jangan ribut. Kalian harus masuk sekolah sekarang," kata Ervin sambil menengahi adik-adiknya.
"Oh ya, ada yang mau gue kasih," kata Nora sambil mengeluarkan dompetnya dari tasnya. Di dalam dompetnya terlihat banyak uang kertas berwarna biru dan merah.
"Ini gue kasih kalian masing-masing lima puluh ribu. Jangan belanja hal yang nggak perlu, ya. Belanja yang bikin perut kenyang aja atau kalau butuh uang buat keperluan sekolah, kasih tau gue. Gue bakal tetap kasih uang saku buat kalian," kata Nora sambil memberikan dua lembar uang biru kepada Rama dan Daisy.
Nora menarik kembali uang yang hendak ia berikan kepada Rama. Ia melihat Rama menatapnya dengan marah dan tidak sabar. Ia tersenyum sinis dan berkata, "Lo beneran mau ngasih atau enggak, sih?!"
"Lo mau uang ini atau engga? Kalau mau, lo harus setuju dengan syarat gue. Lo harus bisa rahasiakan ini dari ayah gue dan mama lo. Gue nggak mau mereka mengemis uang dari gue sama bunda. Mereka itu udah dewasa dan harus bisa mandiri. Lo juga harus hemat dan nggak boros. Gue bakal awasi pengeluaran kalian. Kalau lo butuh uang tambahan, lo harus kasih tau gue alasan yang jelas. Gimana? Deal?" ucap Nora dengan menyeringai.
Daisy hanya diam, ia mengikuti arah pandang Rama dan Ervin. Ia tidak mau ikut campur dalam urusan uang ini. Ia hanya mau hidup tenang dan bahagia bersama kakak-kakaknya.
Akhirnya, Rama mengangguk setuju. Ia tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkan uang saku dari Nora. Ia berpikir bahwa Nora pasti punya banyak uang dari hasil kerja bundanya.
"Kalau begitu, kalian bisa turun dari mobil dan masuk sekolah," kata Nora sambil menunjuk pintu gerbang sekolah.
"Hati-hati ya, Kak Nora," kata Daisy dengan manis sambil melambaikan tangan.
Nora melihat Ervin turun dari mobil dan berjalan bersama Rama dan Daisy untuk berpamitan sendiri. Ia merasa senang bisa membantu adik-adik tirinya yang masih polos itu. Ia berharap mereka bisa sukses di sekolahnya.