The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Pelapor Misterius



Hari Senin pagi, siswa-siswa SMA Prestige International berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Suasana lapangan tampak rapi dan khidmat, dengan barisan siswa mengenakan seragam putih merah yang juga menggunakan almamater berwarna navy dan atribut sekolah yang lengkap. Di tengah lapangan, terdapat tiang bendera yang menjulang tinggi, dengan bendera merah putih yang berkibar anggun.


Nora berdiri di barisan keempat, bersama dengan sahabatnya Giselle yang berada di sampingnya. Nora menoleh ke arah barisan kelas sepuluh, mencari sosok yang selalu menarik perhatiannya. Ia melihat lelaki itu berdiri di barisan paling depan, dengan wajah tampan dan senyum manisnya.


Giselle mengikuti arah pandang Nora, dan segera mengerutkan keningnya. Ia tidak suka dengan lelaki itu, yang selalu membuat Nora pergi darinya. Ia merasa Nora pantas mendapatkan yang lebih baik dari lelaki itu.


“Ra, kenapa sih lo suka liatin dia terus? Lo nggak usah peduli sama dia, Ra! Dia nggak layak buat lo!” bisik Giselle sambil memeluk lengan Nora.


Nora tersenyum lembut, dan mengelus rambut Giselle. Ia tahu Giselle sangat sayang padanya, dan tidak mau kehilangan dia seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Tapi Nora juga tidak tega melihat lelaki itu menderita sendirian.


"Nggak papa kali, Gis. Biar Nora nggak jadi nyamuk waktu kita pamer mesra," timpal Yudha dengan tertawa kecil.


"Ah, lo mah nggak ngerti!" seru Giselle yang sudah ambek jika bukan karena ada upacara bendera mungkin gadis itu akan pergi untuk saat ini juga.


Upacara bendera dimulai dengan pembacaan doa oleh salah satu siswa, yang disambut dengan amin oleh seluruh peserta upacara. Kemudian, lagu Indonesia Raya berkumandang dari pengeras suara, dan semua siswa menyanyikannya dengan penuh semangat dan rasa cinta tanah air. Setelah itu, bendera merah putih dinaikkan secara perlahan oleh regu pengibar bendera, yang terdiri dari siswa-siswa berprestasi dari berbagai bidang. Saat bendera mencapai puncak tiang, terdengar suara sirine yang menandakan bahwa upacara bendera telah resmi dimulai.


Selanjutnya, pembina upacara membacakan sambutan dari kepala sekolah, yang menyampaikan ucapan selamat datang kepada siswa baru dan harapan agar mereka dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah yang baru. Kepala sekolah juga mengingatkan kepada seluruh siswa untuk menjaga disiplin, etika, dan prestasi akademik maupun non-akademik. Selain itu, kepala sekolah juga mengumumkan beberapa kegiatan dan program yang akan dilaksanakan oleh sekolah dalam waktu dekat, seperti lomba-lomba, ekstrakurikuler, kunjungan industri, dan lain-lain.


Setelah sambutan dari kepala sekolah selesai dibacakan, pembina upacara memberikan kesempatan kepada perwakilan siswa berprestasi untuk menyampaikan pidato berbahasa Inggris. Salah satu siswa baru yang dipilih adalah Nora, seorang kebanggaan yang cantik dan pintar dari SMA Prestige International. Nora tersenyum berjalan ke depan lapangan dengan langkah percaya diri, dan mulai berbicara di depan mikrofon. Beberapa teriakan murid-murid bergema di lapangan.


"Good morning, honorable teachers and fellow students. My name is Nora Rachel Shopia and I am one of the students who received an academic achievement award today. I am very grateful and proud of this accomplishment, but I also want to share something that has been bothering me for a long time." Nora menatap murid-murid sekolahnya dengan tersenyum.


"I have witnessed and experienced bullying from some of my classmates. They have insulted, threatened, and physically hurt me and others who they think are weak or different. They have made fun of our appearance, our grades, our hobbies, and our dreams. They have made us feel worthless and hopeless."


"This is not acceptable. This is not how we should treat each other. We are all human beings who deserve respect and dignity. We are all here to learn and grow, not to hurt and destroy. Bullying is a serious problem that can have lasting effects on the victims’ mental and physical health. It can also affect the bullies themselves, who may develop antisocial behavior and low self-esteem."


Nora menatap mata-mata yang memandangnya dengan tatapan bingung, takut, dan marah. Ia baru saja berpidato dengan lantang dan berapi-api tentang betapa buruknya perundungan di sekolah. Ia bukan korban perundungan, tapi ia merasakan sakitnya orang-orang yang diperlakukan tidak adil oleh murid-murid nakal.


Nora menyampaikan pidatonya cukup panjang hingga pada akhirnya terucap, "Thank you for listening to my speech. I hope that we can all make this school a safe and positive place for everyone."


Tak ada suara yang terdengar selain napas-napas yang terengah-engah. Lalu, satu tangan mulai bertepuk tangan. Itu adalah Giovanni, kakak kelas Nora yang merasa pidato dirinya sangat benar. Tepukan itu segera disusul oleh tepukan-tepukan lain dari sebagian besar penghuni sekolah mereka. Meski masih ada beberapa orang yang bingung dengan pidato Nora, banyak juga yang mengapresiasi keberanian dan kepedulian Nora yang menyentuh hati mereka.


“Ada apa ini? Ini bukan hari guru, Pak. Jangan main-main,” protes salah satu guru yang melihat kejadian itu.


Polisi itu tidak menjawab, tapi hanya menunjukkan sebuah video di layar besar. Video itu menunjukkan adegan murid-murid itu memukuli seorang murid lain di depan gerbang sekolah. Guru yang melihat video itu langsung pucat dan pingsan.


Para guru dan murid lain yang melihat video itu juga terkejut dan gempar. Mereka tidak menyangka ada kasus perundungan yang sampai dilaporkan ke polisi dan ditangani secara langsung. Upacara pun dibubarkan untuk pertama kalinya.


Nora hanya tersenyum puas sambil melihat layar ponselnya. Di sana ada pesan terakhir dari seseorang yang mengucapkan terima kasih padanya. Ia menyembunyikan ponselnya lalu berjalan pergi bersama teman sekelasnya.


“Siapa sih yang lapor kasus ini ke polisi? Awas aja kalau akreditasi sekolah kita turun gara-gara kasus ini. Gue pastiin tuh orang nggak bakal tenang,” gerutu salah satu murid dengan wajah kesal.


Beberapa murid banyak yang kesal dengan adanya kasus ini. Mereka merasa dengan adanya pelaporan kasus membuat nilai sekolah hancur dimata pemerintah juga masyarakat. Oleh karena itu, kemungkinan besar mereka akan mati-matian menutup kasus ini dan akan menyalahkan semua kesalahan kepada murid yang dibawa pihak polisi.


Nora hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku jahat mereka. Di dunia ini memang tidak ada manusiawi. Mereka hanya bersaing demi kebahagiaan individu walaupun ada orang yang harus disingkirkan.


“Banyak orang yang egois di dunia ini. Mereka hanya peduli dengan kebahagiaan diri sendiri, walaupun harus mengorbankan orang lain,” gumam Nora pelan.


“Ini siapa sih yang lapor ke polisi, ya, Ra? Awas aja kalau ketahuan,” celetuk Giselle, sahabat Nora, dengan wajah cemberut.


"Mau ngapain kalau lo udah tau pelakunya?" tanya Nora sekedar basa-basi.


"Mau gue ajak duel nyanyi, Ra. Ya, gue tampol, lah! Tuh, orang nggak mikir apa kalau ada kasus ini ngebuat orang lain susah cuman demi satu orang lemah?" cibir Giselle dengan muka cemberut.


“Hush, nggak baik ngomong gitu! Yang dilakukan pelapor itu udah bener, kok. Jadi jangan ngomong gitu nggak baik soalnya,” tegur Yudha, pacar Giselle, dengan mencubit pipi gadisnya.


Nora membuang muka. Sahabatnya sama saja seperti mereka, yaitu orang yang egois. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan mereka karena hal ini demi masa depan mereka. Akan tetapi, melihat satu orang disiksa lalu dibiarkan begitu saja bukannya itu lebih egois.


“Diem gitu aja sama aja kayak penjahat,” ucap Nora tiba-tiba begitu saja. Kemudian meninggalkan Giselle yang kebingungan.