The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Pertemuan Nora dan Ervin



Nora sudah tiga hari menghilang bersama bundanya. Ia membawa bundanya ke rumah kakek dan neneknya, berharap bisa membuatnya sadar. Ia tidak tahan melihat bundanya terus disakiti oleh ayahnya yang sudah menikah lagi dengan wanita lain. Ia ingin bundanya bisa lepas dari cengkeraman ayahnya yang kejam.


Namun, bundanya tidak mau mendengarkan nasihat apapun. Ia masih mencintai ayahnya dengan buta. Ia tidak peduli dengan perasaan Nora yang selalu menderita karena ulah ayahnya. Ia tidak peduli dengan keluarga besar yang selalu mendukung mereka.


Akhirnya, Nora dan keluarganya menyerah. Hari ini adalah hari terakhir mereka tinggal di rumah kakek dan neneknya. Malam ini mereka harus kembali ke rumah mewah yang penuh dengan kepalsuan dan kesedihan.


"Nora .... nenek cuma mau berpesan buat kamu. Selama di sana kamu harus bisa jaga Rayna dengan baik. Nenek tahu putri Nenek, yaitu Rayna sangat keras kepala dan susah dikasih tahu. Nenek cuma bisa berharap kamu bisa membuat bundamu berubah pikiran jika suaminya bukan orang baik seperti dulu."


Nora mengangguk sambil memeluk neneknya dengan erat. Ia merasakan kasih sayang dari neneknya yang selalu memperhatikan dirinya. Ia sebagai anak tunggal tanpa punya saudara hanya bisa menanggung semua masalah keluarga sendirian. Ia tidak bisa cerita ke siapa-siapa, bahkan sahabatnya, karena ini adalah masalah pribadi.


"Nora sama bunda pamit dulu, Nek." Nora berpamitan kepada neneknya dan keluarga lainnya. Ia bersyukur masih punya keluarga yang peduli dengan mereka, meskipun bundanya tidak menyadarinya dan hanya mengemis demi cinta.


Nora mengajak bundanya pergi ke halaman rumah kakek dan neneknya. Sebelumnya ia sudah memesan taksi online dengan perasaan campur aduk. Ia merasa di rumahnya akan ada masalah besar yang menunggunya.


Nora melihat bundanya sedang menelepon seseorang dengan marah. Ia mendengar bundanya mengancam media yang menyebarkan gosip tentang keluarganya. Ia menghela napas melihat bundanya masih peduli dengan ayahnya yang sudah menyakitinya berkali-kali. Ia merasa bundanya menjadi bodoh jika berhadapan dengan ayahnya.


Selama di perjalanan, Nora sesekali mengecek ponselnya yang sudah lama tidak digunakan. Ia melihat banyak pesan dan panggilan masuk dari teman-temannya. Ia tersenyum melihat ada orang-orang baik di sekitarnya. Tapi ada satu pesan dari Ervin yang membuatnya bingung.


Ervin mengirimkan pesan yang tidak jelas. Isinya adalah 'Maaf, Kak Nora. Gue udah ngebuat lo kecewa karena dia udah ngebuat keluarga lo jadi hancur'. Nora tidak mengerti maksud dari pesan itu, tapi ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia berharap semua itu hanya perasaannya saja.


Nora menggenggam tangan bundanya saat sampai di depan rumah mereka. Ia tahu bundanya pasti sedih melihat rumah mereka yang dipakai untuk pernikahan kedua oleh ayahnya. Tapi akhirnya mereka masuk dengan disambut oleh satpam yang terlihat aneh.


"Bunda ini kenapa aneh semua, ya?" Nora bertanya dengan khawatir sambil menggenggam tangan bundanya.


Rayna tidak menjawab tapi hanya tersenyum hambar. Ia mengelus rambut Nora sambil membawanya masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, mereka mendengar suara ribut di ruang keluarga.


Nora berlari kecil saat melihat bundanya yang berlari menuju ruangan itu. Tapi ia terkejut saat melihat bundanya yang menarik tangan seorang remaja pria. Remaja itu tampaknya lebih muda dari dirinya.


"Anjing, lo siapa?! Pembantu aja berani narik tangan gue!"


Rayna yang mendengar itu segera menampar remaja itu dengan keras dan berkata, "Seharusnya saya yang bertanya kepada kamu. Kamu siapa kenapa bisa di rumah saya? Saya Rayna Grace Dahlia pemilik rumah ini."


"Kamu sangat tidak sopan, ya? Seharusnya kamu bisa lebih sopan kepada kami. Di sini kamu yang salah, tapi kamu yang bersikap kasar. Awalnya saya tidak ingin mengatakan kata yang tidak pantas keluar. Namun, apakah orang tua kamu sudah mengajarkan sopan santun kepada orang lain?" Nora berkata dengan tenang dan tegas. Ia masih punya hati nurani untuk tidak menyakiti orang lain, apalagi orang yang lebih muda darinya.


Remaja itu seketika marah dan memanggil mamanya. Suara panggilannya membuat orang-orang keluar dari kamar mereka dan berkumpul di ruang keluarga. Ayahnya segera datang dan menarik remaja itu ke belakangnya.


"Nora kamu lebih tua kenapa bisa menyakiti adikmu sendiri!" ayahnya bentak dengan menunjuk wajah Nora.


Nora menunjuk wajahnya dengan tertawa kecil lalu berkata, "Maaf, ya, Tuan Satria. Saya akan bersikap sopan dan lembut jika remaja itu baik kepada kami. Dia sudah mendorong bunda saya atau lebih tepatnya istri sah Anda dimata hukum. Seharusnya Anda mengenal bunda saya tidak akan pernah menyakiti siapapun juga terkenal akan rasa sopannya, begitu juga saya akan diam saja jika tidak ada yang mencari masalah lebih dulu."


Ayahnya yang mendengar itu seketika terdiam dengan menatap tajam remaja itu. Ia mendorong remaja itu kepada wanita yang terlihat muda. Nora terkejut saat melihat wanita itu. Ia mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah ia temui beberapa waktu lalu.


Wanita itu justru tersenyum dengan manis dan melambaikan tangan kepada Nora. Hal itu membuat bunda Nora menjadi marah dan menampar wajah wanita itu. Bunda Nora menunjuk wajah wanita itu dengan tatapan membunuh.


"Saya diam bukan berarti Anda bisa berniat menyakiti putri saya. Saya tidak akan pernah diam kepada Anda seorang wanita murahan yang menggoda pria kaya. Jika tidak jangan harap anak-anak Anda bisa hidup tenang baik di sini maupun di luar," bunda Nora mengancam dengan nada dingin. "Oh, jangan harap anak-anak Anda bisa mendapatkan hidup mewah karena uang yang Anda dapatkan selama ini merupakan hasil kerja keras saya. Lalu kamu Mas! Sekarang kamu tidak akan bisa menggunakan semua aset aku juga harta. Jika kamu ingin hidup enak ceraikan dia dan usir mereka dari rumah ini!"


Ayahnya yang mendengar itu seketika tidak terima. Ia menarik tangan bunda Nora agar ikut dengannya. Namun, bunda Nora menolak dengan menampar wajah ayahnya di depan banyak orang.


Nora yang melihat itu seketika diam. Ia menatap seorang remaja wanita yang bersembunyi di balik tubuh remaja cowok itu. Ia mengerutkan keningnya ternyata kedua remaja itu anak kembar karena wajahnya sangat mirip.


"Nama kamu siapa?" tanya Nora dengan penasaran sambil menunjuk remaja wanita itu.


"Juliana...."


"Mama! Mama buat masalah apa lagi?! Bukankah Mama jangan membuat masalah bagi keluarga ini!"


Suara teriakan membuat Nora menoleh ke arah suara itu. Ia terkejut bahkan lututnya seketika lemah dan terduduk di atas lantai. Ia melihat seorang remaja yang tidak lain Ervin, orang yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


"Ervin?" Nora bergumam dengan mata berkaca-kaca.