The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Konflik Tanpa Akhir



Nora merasakan amarah yang membara di dadanya saat ia melihat ibunya, Rayna, terisak-isak di lantai rumah. Ia tidak tahan melihat wanita yang selama ini ia kagumi karena kekuatan dan ketabahannya itu kini menjadi lemah dan rapuh. Ia tahu bahwa penyebab semua penderitaan ibunya adalah ayahnya, Satria, yang selalu berselingkuh dan menghina mereka. Ia tidak mengerti bagaimana ibunya masih bisa mencintai pria brengsek itu dan tidak mau berpisah darinya.


"Bunda, bangkitlah! Dimana sih pria itu?!" teriak Nora dengan nada kesal. Ia ingin sekali menemui ayahnya dan memberinya pelajaran. Ia melihat ibunya menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah ingin menyembunyikan sesuatu.


Nora mendengus kesal dan berbalik menuju kamarnya. Ia mengambil kunci mobilnya dan berniat pergi ke tempat yang mungkin menjadi sarang ayahnya. Ia yakin bahwa ayahnya pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain di sana.


Rayna yang menyadari niat putrinya segera berlari mengejarnya. Ia takut Nora akan melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan dirinya dan ayahnya. Ia masih mencintai suaminya meskipun ia sering menyakitinya.


Nora tidak peduli dengan ibunya yang berteriak memanggilnya. Ia menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat. Hari ini adalah hari pertama ia mengemudi sendiri setelah lama tidak menyentuh setir. Emosinya yang tidak stabil membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Ia beruntung tidak ada polisi yang menilangnya di jalan.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, ia tiba di depan sebuah gedung mewah dengan logo mikrofon di atasnya. Tempat itu adalah sebuah bar karaoke yang terkenal sebagai tempat hiburan para pejabat dan pengusaha kaya. Nora memarkir mobilnya dan masuk ke dalam bar itu.


Ia terpukau dengan suasana bar yang berbeda dengan dunia luar. Cahaya warna-warni berkedip-kedip, musik menghentak-hentak, dan orang-orang tertawa-tawa. Nora mencari tempat duduk di salah satu kursi bar yang hitam. Ia melihat seorang pria berjanggut putih dan berjas biru yang tersenyum kepadanya dari balik konter. Ia kira itu adalah pemilik bar, tapi ternyata itu hanyalah patung yang dipajang di dinding. Nora tersenyum tipis, mengapresiasi seni dan humor pemilik bar sebenarnya.


Namun, bukan itu tujuan Nora datang ke sini. Ia mencari sosok ayahnya di antara kerumunan orang-orang. Ia mendengar suara ayahnya dari salah satu pintu kayu di sebelah kanan lorong panjang. Ia berjalan ke arah pintu itu dan membukanya dengan paksa.


Di dalam ruangan itu, ada sebuah meja bulat dengan dua buah menu di atasnya, satu berdiri tegak dan satu tergeletak. Di sekeliling meja itu, ada beberapa orang yang sedang asyik minum-minum dan ngobrol-ngobrol. Di antara mereka, ada ayahnya yang sedang merangkul seorang wanita muda yang cantik.


"Pria brengsek," umpat Nora dalam hati.


Nora mendekati meja itu dengan wajah datar. Ia harus menahan emosinya agar tidak meledak di depan orang banyak. Ia melihat ayahnya yang terkejut melihat kedatangannya.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Satria dengan nada bingung.


"Anda tidak perlu tahu Tuan Satria. Anda mau ikut saya pulang atau saya akan ceritakan semuanya di sini?" ucap Nora dengan dingin sambil menatap wanita muda di samping ayahnya.


Wanita itu segera melepaskan diri dari pelukan Satria dan mundur ke belakang. Beberapa orang di meja itu bersiul-siul dengan nada sinis. Salah satu dari mereka bahkan berani mendekati Nora dan merangkul pundaknya.


"Satria, sejak kapan lo punya simpanan muda kayak dia? Kalau lo nggak mau, buat gue aja, lah," kata pria itu dengan nada genit.


Satria menatap temannya dengan marah. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan putrinya dengan kasar. Ia menampar pria yang merangkul Nora dan mendorongnya jauh.


Nora hanya mengikuti saja langkah ayahnya. Mereka keluar dari bar karaoke dan masuk ke dalam mobil. Satria menyetir mobil putrinya dengan wajah muram. Ia bisa pergi dengan tenang karena ia tidak membawa kendaraan apapun saat datang ke sini.


Satria menyetir dengan hati-hati di dalam sebuah mobil yang mewah. Wajahnya tidak terlihat, tapi terlihat lebih serius saat menyetir. Ia mengenakan kemeja hitam yang rapi, celana hitam yang pas, dan sepatu putih yang bersih. Nora memang mengakui ayahnya tampak seperti masih muda walaupun berada dalam usia 40-an lebih.


Waktu sampai di rumah, Nora segera menarik tangan ayahnya. Di depan pintu terlihat ibunya yang menatap mereka dengan khawatir. Namun, pada akhirnya merasakan lega waktu melihat putri dan suaminya tidak bertengkar. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Tuan Satria yang terhormat! Tolong jika Anda masih mempunyai hati nurani. Ceraikan Bunda saya! Saya tidak sudi melihat Bunda menangis karena pria brengsek seperti Anda!" tekan Nora yang baru saja menimbulkan sebuah konflik lagi.


Sebuah tamparan keras Nora dapatkan dari ibunya. Ia menatap ibunya dengan tidak percaya. Ia padahal berusaha untuk membuat ibunya lepas dari lubang kematian. Ia merasakan ibunya seperti seorang kucing liar yang bebas, tetapi tidak pernah mendapatkan kasih sayang.


"Bunda kenapa tampar Nora?! Seharusnya pukul dia! Dia orang yang selalu saja buat Bunda menangis! Dia yang buat Bunda tersiksa karena kelakuannya! Lalu kenapa harus Nora yang dipukul?!" teriak Nora yang sangat tidak menerima perlakuan ibunya. Di dunia ini padahal ia yang paling menyayangi ibunya.


"Kamu tidak berhak bicara seperti itu kepada Ayah kamu, Nora! Minta maaf sama Ayah kamu!" murka Rayna dengan menunjuk suaminya.


Nora menggelengkan kepalanya dengan menatap Satria tajam. Pria itu justru menatapnya dengan remeh karena tidak bisa membuat ibunya benci dengan suaminya. Nora kembali menatap ibunya dengan marah.


"Bunda tahu dia di tempat karaoke sedang mesra-mesraan sama wanita lain, sedangkan Bunda di sini berlarut dalam kesedihan! Bunda sangat bodoh padahal Bunda itu punya segalanya yang tidak akan pernah bisa dimiliki pria ini. Bunda akan menyesal karena tidak mendengarkan kata putri sendiri," ucap Nora dengan tertawa miris.


Nora berlari menuju kamarnya. Ia sangat jelas mendengar ibunya yang berteriak memintanya untuk kembali. Ia hanya menulikan telinganya dengan mengunci pintu kamarnya.


Dari atas ia mendengar suara teriakan oleh ibunya. Kemudian disambut teriakan juga kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Satria. Suara pukulan juga teriakan sangat memilukan bagi Nora.


"Mas Satria ampun! Jangan pukul aku lagi!" teriak Rayna dengan memohon.


Suara teriakan dan makian sudah menjadi makanan sehari-hari Nora. Ia sudah berkali-kali menasehati juga meminta ibunya berpisah dengan ayahnya. Namun, Rayna seakan buta dengan cinta bahkan rela disiksa jiwa juga fisik oleh Satria.


"Bunda emang udah nggak waras," gumam Nora yang mengambil headseat lalu mendengarkan musik sekeras mungkin agar tidak mendengarkan sesuatu yang membuatnya sakit hati.


Ia menangis di bawah bantalnya, merasa sendirian dan tidak berdaya. Ia ingin sekali menyelamatkan ibunya dari ayahnya, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia merasa bahwa hidupnya adalah sebuah neraka yang tidak ada ujungnya.