The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Banyaknya Kesalahpahaman



Nora berjalan lesu menuju ruangan kelasnya. Ia tidak merasakan semangat apapun untuk menghadapi hari ini. Ia hanya ingin segera menyelesaikan rencana gilanya bersama Giselle, sahabatnya yang selalu punya ide-ide aneh. Rencana untuk membuat Ervin, cowok yang disukainya, cemburu dengan cara mempermainkan perasaan cowok lain.


Ia baru saja melewati pintu kelas, ketika Giselle menyambutnya dengan riang. Gadis itu berlari ke arahnya dan menarik tangannya untuk duduk di sampingnya. Nora menurut saja, lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja.


"Kenapa, Ra? Jadinya gimana tuh cowok cemburu atau makin deket nggak?" Giselle bertanya dengan penasaran, tanpa memberi kesempatan Nora untuk bernapas.


Nora mengangkat wajahnya dan menggeleng lemah. Ia menghela napas panjang, seolah ingin mengeluarkan semua beban yang ada di dadanya. Giselle ikut mendesah, lalu memeluk bahunya dengan simpati. Mereka berdua terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Di sudut kelas lain, Yudha mengamati mereka dengan tatapan sinis. Ia tidak bisa percaya bahwa pacarnya dan sahabatnya sedang melakukan hal yang begitu kejam. Mereka berdua sedang bermain api dengan perasaan orang lain, tanpa memikirkan akibatnya. Apalagi ide ini berasal dari Giselle, gadis yang seharusnya paling mengerti bagaimana rasanya disakiti.


Yudha merasa muak dan marah. Ia tidak tahan lagi melihat adegan itu. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Ia menepuk pundak Nora sebelum pergi, memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya. Ia harus bicara empat mata dengan Nora dan membuatnya sadar bahwa rencana ini salah.


"Kenapa, Yud?" Nora bertanya dengan heran, saat ia menyusul Yudha di koridor.


"Jujur gue nggak suka sama rencana kalian. Kalau caranya gini kalian sama aja jahatnya kayak bokap lo juga nyokap Ervin. Rencana ini nggak baik sama sekali dan ngebuat aura kebaikan lo ngilang gitu aja," Yudha menegur Nora dengan tegas, mencoba menyadarkan gadis itu.


Nora hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Yudha adalah orang yang realistis dan bijaksana, tapi ia juga tahu bahwa Yudha tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya Nora tidak berniat mempermainkan perasaan Ervin, malah sebaliknya. Ia benar-benar menyukai Ervin dan ingin mendekatinya dengan cara apapun. Ia hanya memanfaatkan kesalahpahaman Giselle untuk mempermudah rencananya. Selain itu, ia juga punya alasan lain untuk melibatkan Ervin dalam rencana ini. Alasan yang berkaitan dengan Gendis, wanita yang telah merusak keluarganya.


"Gue nggak sejahat itu, Yud. Nanti ada saatnya gue ngasih tau lo," Nora menjawab singkat, lalu beranjak pergi meninggalkan Yudha.


Yudha melihat punggung Nora dengan harap-harap cemas. Ia berharap bahwa Nora tidak berbohong padanya dan akan menjelaskan semuanya nanti. Ia berteriak dari kejauhan, "Nora kalau mau pdkt yang ngalus dikit! Ketauan entar buat dia ngejauh dari lo!"


Nora mendengar teriakan Yudha dan mengangkat tangannya memberi jempol sebagai jawaban. Ia merasa lebih percaya diri dengan dukungan Yudha, meskipun ia tahu bahwa Ervin bukanlah cowok yang mudah ditaklukkan. Apalagi mereka selama ini hanya bersikap seperti adik-kakak.


"Yudha lo nggak pengen belajar? Gurunya mau masuk ini!"


Suara Giselle memanggil Yudha dari dalam kelas. Yudha menoleh dan melihat Giselle melambaikan tangannya. Ia tersenyum dan berlari kembali ke kelasnya. Ia berharap hari ini tidak ada lagi masalah yang timbul.


...****************...


Saat istirahat, Nora mencari Ervin lagi, tapi kali ini ia ditemani oleh Giselle. Mereka berdua meminum susu kotak sambil mengintip ke arah koridor kelas sepuluh. Di sana, mereka melihat Ervin sedang bermain basket bersama teman-temannya.


Nora menatap Ervin dengan penuh perhatian. Ia menyukai segala hal tentang Ervin, mulai dari rambut hitamnya yang acak-acakan, mata coklatnya yang tajam, hidung mancungnya yang sempurna, bibir merahnya yang tipis, hingga tubuh tinggi tegapnya yang atletis. Ia juga menyukai sifat Ervin yang baik hati, cerdas, dan bertanggung jawab. Ia yakin bahwa Ervin adalah cowok idamannya.


Tapi Nora tidak sendiri dalam mengagumi Ervin. Di pinggir lapangan basket, banyak murid lain yang juga menonton pertandingan itu. Kebanyakan dari mereka adalah cewek-cewek yang terpesona oleh Ervin. Dan di antara mereka, ada satu orang yang paling menonjol. Joy, gadis cantik yang baru saja dekat dengan Ervin beberapa hari terakhir.


Nora merasa iri dan kesal melihat Joy. Ia tidak suka dengan cara Joy yang selalu mencoba mendekati Ervin dengan berbagai alasan. Ia juga tidak suka dengan sikap Joy yang sok manis dan perhatian pada Ervin. Ia yakin bahwa Joy hanya ingin memanfaatkan Ervin untuk popularitasnya.


Nora memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia berjalan menuju lapangan basket dengan percaya diri. Ia ingin menunjukkan pada Ervin bahwa ia lebih pantas untuk bersamanya daripada Joy. Tapi nasib tidak berpihak padanya. Begitu ia memasuki lapangan, sebuah bola basket melayang ke arahnya dengan cepat. Ia tidak sempat menghindar dan bola itu menghantam kakinya dengan keras.


"Aduh!" Nora menjerit kesakitan, lalu berjongkok memegang kakinya.


Nora yang melihat cuman bisa menghela napas gusar dan diam. Ia tidak tahu apa-apa lagi untuk bereaksi, seperti apa. Apalagi untuk menenangkan Gissel karena pawang gadis itu tengah sibuk rapat OSIS. Ia bisa mendengar perdebatan oleh gurunya dengan salah satu siswa. Ia hanya mendengar jika sang guru memarahi ketua kelas dari orang yang bermain karena tidak memberitahukan agar murid-murid lain tidak masuk ke lapangan hanya melihat di luar saja.


Nora mencoba mengurut kakinya yang masih berdenyut sakit. Ia menatap ke arah lapangan dengan keringat yang mengalir di wajahnya. Satu orang pun tidak ada yang berbaik hati membantunya menuju UKS atau paling tidak ruangan kelasnya. Gissel sekarang pun tidak bisa diharapkan karena sejak tadi sedang menangis tersedu-sedu padahal yang dihantam bola basket itu dia.


“Please, satu orang aja. Gue nggak manja tapi ini sakitnya minta ampun,” Nora berdoa dalam hati, sambil berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya di atas lutut.


Tiba-tiba saja ia merasakan ada yang mengangkat tubuhnya dari belakang. Ia kaget dan spontan melingkarkan lengannya di leher orang itu. Ia menoleh dan melihat wajah Ervin yang tampak khawatir. Ia bisa mencium aroma parfum Ervin yang maskulin dan menyegarkan.


Nora merasa senang dan lega. Akhirnya ada yang peduli padanya. Dan orang itu adalah Ervin, cowok yang dicintainya sejak lama. Walaupun mereka adalah saudara tiri, Nora tidak peduli. Ia yakin bahwa cintanya adalah cinta sejati.


Nora menahan senyuman dengan menyembunyikan wajahnya di atas pundak lelaki itu. Ia melupakan keberadaan Gissel dan Joy yang mengekor di belakang. Rasanya selamanya ingin menjadi orang spesial dari lelaki itu dan mendapatkan cintanya walaupun mereka itu saudara tiri. Namun, walaupun keadaan mempermainkan mereka ia akan menentang takdir buruk itu.


Ervin membawa Nora ke UKS dengan hati-hati. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Nora dari bola basket itu. Ia juga merasa bingung dengan perasaan yang timbul di dadanya saat melihat Nora kesakitan. Ia tidak bisa menyangkal bahwa Nora adalah gadis yang cantik dan manis, tapi ia juga tidak bisa melupakan bahwa Nora adalah adik tirinya.


Ervin meletakkan Nora di atas kasur UKS dengan lembut. Ia melepaskan sepatu dan kaus kaki Nora, lalu memeriksa kakinya yang bengkak. Ia melihat Nora meringis kesakitan, lalu menempelkan tangannya di dahi Nora untuk memastikan suhunya normal.


“Masih sakit?” Ervin bertanya dengan lembut, sambil menatap mata Nora yang indah.


Nora tidak menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk kecil sambil mencibir lucu. Ervin tersenyum tipis, lalu melepaskan tangannya dari dahi Nora. Tapi sebelum ia bisa beranjak pergi, Nora menarik tangannya lagi dan memandangnya dengan tatapan memohon.


“Di sini aja … nanti lo ngilang lagi dari gue,” Nora berbisik dengan nada haru, Sambil memainkan jari-jari Ervin.


Ervin terdiam mendengar ucapan Nora. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya ia tidak marah pada Nora, hanya saja ia merasa canggung dengan sikap Nora yang terlalu dekat dengannya. Apalagi setelah kejadian di kantin, saat Nora mengucapkan kata-kata romantis padanya di depan banyak orang. Ia tidak yakin apakah itu hanya bercanda atau serius. Ditambah lagi dengan saat ini, saat Nora bersikap manis dan manja padanya, membuatnya tidak tahan. Ia ingin menjauh dari Nora, tapi ia juga tidak tega melihat Nora menahan diri.


Akhirnya Ervin memutuskan untuk duduk di ujung kasur, sambil membiarkan Nora memegang tangannya. Ia menundukkan kepala dan menatap ke arah luar, mencoba mengalihkan perhatiannya. Tapi lagi-lagi ia dibuat gemetar oleh Nora. Nora mendekatkan kepalanya ke pundaknya dan bersandar di sana.


Ervin merasakan detak jantungnya berpacu kencang. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia ingin memeluk Nora dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Tapi ia tahu itu salah. Mereka adalah saudara tiri. Mereka tidak boleh bersama.


Di luar ruangan UKS, ada dua orang yang menyaksikan adegan itu dengan perasaan yang berbeda. Giselle merasa senang dan bangga dengan sahabatnya. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari rencana Nora untuk mendapatkan hati Ervin. Ia berharap bahwa rencana itu berhasil dan Nora bisa membuat Ervin sakit hati karena mamanya sudah main-main dengan keluarga Nora.


Tapi Joy merasa marah dan iri dengan Nora. Ia tidak suka melihat Nora yang begitu dekat dengan Ervin. Ia juga tidak suka melihat Ervin yang begitu perhatian pada Nora. Ia yakin bahwa Nora hanya ingin merebut Ervin darinya untuk popularitasnya.


Joy tidak bisa diam saja. Ia harus menghentikan adegan itu. Ia masuk ke ruangan UKS dengan berani, lalu berkata dengan nada sinis, “Kak Nora ke sini mau diobatin, kan? Kalau gitu lepasin tangan Ervin dulu.”


“Obatin aja dulu, Joy. Soalnya yang luka kakinya yang tinggal diurut aja atau dikompres,” Ervin menjawab dengan dingin, sambil menatap Joy dengan tatapan tajam.


“Yang bucin! Yang bucin! Diobral!” Joy mencibir dengan kesal, lalu berjalan mendekati Nora dengan malas.