The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Permainan Musik yang Menyakitkan



Nora menatap ayahnya dengan mata sayu yang penuh kebencian. Gadis itu tidak tahan melihat pria itu tertawa-tawa seperti remaja yang baru jatuh cinta. Apa dia tidak sadar bahwa dia sudah menghancurkan keluarga mereka? Apa dia tidak peduli dengan perasaan bunda dan dirinya? Nora mengalihkan pandangannya ke gitar di pangkuannya. Dia mulai memetik senarnya dengan lembut, menciptakan melodi yang sedih dan merdu. Dia juga menyanyikan lirik yang sesuai dengan hatinya.


Satria, ayahnya, menghentikan panggilan teleponnya. Dia mendengar suara gitar dari ruang keluarga. Dia berjalan ke sana dengan wajah tenang. Dia melihat Nora duduk di sofa, bermain gitar. Dia tersenyum dan mendekatinya.


“Hey, sayang, apa kabar?” dia bertanya dengan ramah.


Nora tidak menjawab. Dia terus bermain gitar, seolah-olah tidak ada orang lain di ruangan itu.


Satria tidak keberatan. Dia duduk di sebelah Nora dan meraih gitar dari tangannya. Dia mulai memainkan lagu yang berbeda, lagu pop yang ceria dan riang.


“Kenapa kamu main lagu itu terus? Lagu itu terlalu sedih untuk dinyanyikan di rumah,” dia menyela dengan nada bernyanyi.


“Itu karena Anda saja yang tidak mengerti,” Nora menjawab dengan sinis.


Satria mengabaikan sindiran putrinya. Dia terus bermain gitar dan bernyanyi. Dia merasa senang bisa melakukan hal ini lagi setelah sekian lama. Dia sudah lupa rasanya bersenang-senang dengan cara positif. Dia sudah lama tidak menyentuh alat musik ini.


Asisten rumah tangga yang melihat kejadian ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu bahwa Nora dan Satria tidak akur. Mereka tahu bahwa Nora membenci Satria karena perselingkuhan juga sifat kasar sang ayah yang membuat bundanya selalu bersedih. Mereka tahu bahwa Satria mencoba mendekati Nora dengan cara-cara yang salah. Mereka memilih untuk menjauh dari konflik antara anak dan ayah itu.


Nora menatap Satria dengan penuh amarah. Dia melihat pria itu bermain gitar dengan riang, seolah-olah tidak ada masalah di dunia ini. Dia merasa ada ulat yang merayap di hatinya. Kemudian, dia teringat masa kecilnya yang bahagia. Masa di mana bundanya masih ada di sampingnya, memberinya kasih sayang dan perhatian. Masa di mana Satria masih menjadi ayah yang baik, yang selalu meluangkan waktu untuknya dan mengajaknya bermain musik bersama. Masa di mana Satria masih menjadi idola dan panutannya.


Sekarang, semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi keluarga yang hangat dan harmonis baginya. Hanya ada rumah yang dingin dan sepi. Hanya ada Satria yang egois dan brengsek.


“Pinjam.” Nora berkata dengan keras, menepuk tangan Satria yang memegang gitar.


“Tidak bisa, kamu harus panggil aku Ayah dulu baru aku kasih gitar ini.” Satria menolak dengan bercanda, menyembunyikan gitar di belakang tubuhnya.


Nora menghela napas panjang. Dia sebenarnya tidak mau memanggil Satria Ayah, karena dia merasa pria itu tidak pantas mendapat gelar itu. Tapi, dia butuh gitar untuk latihan besok. Besok adalah hari pertama dia menjadi mentor bagi adik kelasnya yang ikut ekstrakurikuler musik.


“Ayah, tolong kasih gitar itu.” Nora meminta dengan terpaksa.


Satria tersenyum puas dan memberikan gitar itu kepada Nora.


“Terima kasih, Ayah.” Nora berkata dengan datar.


Di ruang keluarga, terdapat dua orang yang saling diam tanpa berbicara. Mereka berdua memiliki perasaan yang berbeda. Satria merasa senang bisa berinteraksi dengan putrinya, meskipun hanya sebentar. Nora merasa kesal harus berurusan dengan ayahnya, meskipun hanya sebentar.


...****************...


Keesokan harinya, Nora membawa gitar kesayangannya ke sekolah. Dia berjalan di koridor dengan bangga. Banyak adik kelas yang menatapnya dengan kagum. Dia menuju ke ruang kelasnya. Teman-teman sekelasnya langsung heboh saat melihat Nora membawa gitar.


“Wah, Nora bawa gitar lagi nih!”


“Udah lama gak liat lo main gitar, Nor!”


“Kita harus seru-seruan hari ini, yuk!”


"Nora, lo bawa gitar lagi? Gue mau liat dong!" Teman sekelasnya berkata sambil mendekati Nora.


“Lo dapet gitar dari mana, sih? Kok bagus banget?” teman sekelasnya bertanya dengan penasaran.


“Dari ayah gue.” Nora menjawab dengan singkat.


“Wow, ayah lo baik banget, ya. Gue aja minta gitar sama bokap gue nggak dikasih-kasih.” Teman sekelasnya berkomentar dengan iri.


Nora hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Dia tidak mau membahas ayahnya lebih lanjut. Dia tahu bahwa ayahnya bukan orang baik seperti yang dikira teman-temannya.


Bel masuk berbunyi, dan semua murid bergegas menuju lapangan olahraga. Mereka semua membawa seragam olahraga berwarna biru sapphire dengan garis putih di lengan dan leher. Nora juga mengikuti mereka dengan senang, sampai dia mendengar bahwa mereka akan belajar sepak bola hari ini. Dia lebih suka basket atau voli daripada sepak bola.


“Nora, lo masih temenan sama dia? Padahal gue udah bilang dia nggak baik buat lo.” Giselle berkata sambil memijat pundak Nora, sahabatnya.


Nora hanya menggeleng pelan. Dia tidak mau berdebat lagi dengan Giselle tentang hal itu. Dia menarik tangan Giselle untuk segera berganti pakaian. Mereka berdua tertawa-tawa sambil melangkah menuju kamar mandi. Tapi, tanpa sengaja, mereka menabrak seorang siswi yang sedang membawa buku-buku yang jatuh berserakan di lantai.


Nora segera membantu siswi itu mengambil buku-bukunya. Dia meminta maaf dengan sopan atas kejadian tadi. Saat dia menatap wajah siswi itu, dia terkejut. Dia mengenalnya.


“Terima kasih, Kak Nora.” Siswi itu berkata dengan senyum manis.


“Sama-sama. Maaf, ya, gue harus pergi dulu.” Nora menjawab dengan tergesa-gesa. Dia menarik tangan Giselle dan berlari meninggalkan siswi itu.


Siswi itu adalah murid kelas sepuluh yang pernah merawat Ervin, cowok yang akhir-akhir ini dekat dengan Nora. Cewek itu tampak mengenali Nora, padahal Nora tidak tahu siapa dia. Nora merasa ada yang aneh dengan senyum Rani. Apakah dia tahu sesuatu?


...****************...


Mereka berolahraga seperti biasa. Tidak ada yang spesial, hanya pemanasan, latihan tendangan, dan permainan kelompok. Sesekali terdengar teriakan dan cekcok antara kelompok yang kalah dan menang. Hal ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi para murid.


Nora dan Giselle pergi ke kantin bersama beberapa teman sekelas lainnya. Mereka membawa gitar milik Nora, atas permintaan teman-temannya. Beberapa murid lain masih asyik bermain sepak bola.


“Nih, gitar-nya. Jangan main sembarangan, ya. Ini gitar kesayangan gue!” Nora berkata sambil meletakkan gitar di meja kantin. Dia pergi membeli minuman dan roti untuk sarapannya.


Kejadian itu tidak luput dari pandangan Ervin yang sedang duduk bersama Giovanni di sudut lapangan. Mereka duduk di tempat yang agak jauh dari Nora dan teman-temannya. Ervin tidak bisa lepas memperhatikan Nora. Dia terpesona oleh gadis itu.


“Bang, gue baru tau kalau Kak Nora jago main gitar.” Ervin berkata sambil menoleh ke Giovanni.


“Ya iyalah, dia kan ketua ekstrakurikuler musik tahun ini. Waktu kelas sepuluh, dia pernah ikut FLS2N lomba cipta lagu dan menang juara satu. Gue aja kaget waktu itu.” Giovanni menjelaskan sambil mengangguk-angguk.


Ervin semakin kagum dengan Nora. Dia merasa bahwa gadis itu sangat hebat dan berbakat. Tapi, dia juga merasa minder dan ragu untuk mendekatinya. Bagaimana tidak, Nora adalah anak orang kaya dengan prestasi yang banyak.


“Tapi lo nggak usah khawatir sih, walau gitu orangnya nggak sombong kayak cewek gila itu.” Giovanni menambahkan sambil mengangkat bahu tampak menghina adik kandungnya sendiri.


"Hmm, iya sih. Tapi gue tetap ragu." Ervin bergumam sambil menatap Nora yang sedang tertawa bersama teman-temannya.


Nora sedang asyik bermain gitar dan menyanyi bersama teman-temannya di kantin. Dia melupakan semua masalahnya sejenak. Dia melupakan Ervin yang menjadi korban kekerasan tapi tidak berani mengungkapkannya. Dia melupakan cewek yang mungkin tahu sesuatu tentang Ervin. Dia melupakan Satria yang mencoba menjadi ayah baginya tapi gagal total. Dia hanya ingin menikmati musik dan persahabatan. Dia hanya ingin bahagia.