The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Pernyataan Cinta Nora



Ervin kembali mendekati ranjang tempat Nora terbaring lemah. Gadis itu kini telah tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ervin merasa bersalah melihat kakak tirinya yang harus menderita karena ulah mamanya yang kejam.


Dengan hati-hati, ia mengangkat selimut dan memeriksa pakaian Nora. la teringat melihat gadis itu masih mengenakan baju yang sama sejak tadi. Baju itu pasti sudah basah oleh keringat dan bisa membuat Nora semakin demam. Ervin menoleh ke sekeliling kamar dengan cemas dan bingung.


la ingin pergi mencari bantuan, tetapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu menarik tangannya. Ia menoleh dan melihat Nora telah membuka matanya dengan lemah. Gadis itu menempelkan pipinya yang hangat ke tangan Ervin. Ervin merasakan denyut jantungnya berpacu dengan liar. la menatap Nora dengan gugup seolah ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan.


Kau adalah bidadari jelita yang selalu kuimpikan. Kau adalah asmara yang terpendam di dalam hatiku. Namun, kita terpisah oleh ikatan darah yang tak seharusnya ada. Kau adalah kakakku, aku adalah adikmu, meski hanya setengah darah. Kau adalah bidadari yang kini menderita, menghadapi dunia yang tak adil.


Dia hanya bisa berdoa dalam hati, memohon agar takdir tidak begitu kejam pada mereka. Dia tahu dunia ini tidak pernah berpihak pada cinta mereka. Mereka terpisah oleh status, oleh keluarga, oleh takdir. Andai saja mereka bisa hidup bebas, andai saja dia bisa memberikan segalanya untuknya, andai saja dia bisa melindunginya dari rasa sakit.


“Jangan tinggalkan aku,” bisik Nora lemah. Matanya berkaca-kaca menatap Ervin yang hendak beranjak dari sampingnya. Tubuhnya terasa lemas dan panas, seolah-olah ada api yang membakar jantungnya.


“Aku cuma mau cari Bibi,” Ervin berusaha menenangkan Nora dengan mengusap pipinya yang basah. Dia merasakan denyut nadi gadis itu yang semakin cepat. Dia ingin sekali memeluknya erat-erat, tapi dia tahu itu tidak pantas.


Nora menggeleng pelan. Dia tidak mau ditinggal sendirian di kamar ini. Dia tidak mau kehilangan Ervin, satu-satunya orang yang menyayangi dengan tulus selain bunda dan teman-temannya. Dia menunjuk jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas lebih.


“Bibi sudah pulang,” kata Nora lirih.


Ervin terkejut. Dia lupa bahwa Bibi, asisten rumah tangga keluarga Nora, hanya bekerja sampai jam sepuluh malam. Dia bingung harus bagaimana. Dia tidak bisa membiarkan Nora dalam keadaan demam tinggi tanpa bantuan. Tapi dia juga tidak bisa memanggil mama nya, karena dia tahu mama nya akan memanfaatkan situasi ini untuk merusak hubungan mereka.


Ervin melihat Nora tersenyum tipis padanya. Gadis itu bangkit perlahan dengan bantuan Ervin. Dia berjalan gontai menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.


“Tunggu di sini,” kata Nora dengan suara serak.


Ervin mengangguk. Dia kembali ke tempat tidur dan duduk di sisi lainnya. Dia melihat ponsel Nora berdering di atas meja nakas. Dia melihat ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Mungkin itu obat yang dia pesan online tadi untuk Nora.


Ervin mengambil ponsel itu dan menjawab panggilannya sambil berdiri dan keluar kamar. Sebelum itu, dia menoleh ke arah Nora dan berkata, “Tunggu sebentar ya. Ini dari ojek online kemungkinan obat sudah sampai.”


Nora merasa lega ketika ia berhasil mengunci pintu kamarnya. Ia tidak ingin ada yang mengganggu saat ia hendak mengganti pakaiannya. la sudah cukup lelah dengan semua perlakuan Ervin, adik tirinya yang tidak peka sama sekali.


la membuka lemari pakaian dan memilih beberapa helai pakaian dalam dan baju yang nyaman. la melepas pakaiannya yang sudah basah karena demam. la menikmati sejenak hembusan angin yang menerpa kulitnya, membuatnya kedinginan. la pun mulai mengenakan pakaian baru dengan gerakan lambat, karena tubuhnya masih terasa lemas.


Ervin terpana melihat pemandangan di depan matanya. Ia melihat Nora yang masih setengah telanjang, dengan wajah basah. Perut Nora terlihat begitu mulus. Ervin merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, seolah ada api yang membakar.


“Ervin masuk aja.” Suara Nora membuyarkan lamunannya. Ervin segera menutup pintu dengan cepat dan berbalik badan. Ia merasa malu dan bersalah telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.


“Ervin masuk aja.” Suara Nora terdengar lagi dari balik pintu. Ervin ragu-ragu untuk masuk kembali. Ia takut Nora marah atau tersinggung dengan kejadian tadi. Ia takut Nora membencinya karena sudah melihat tubuhnya.


Ervin terkejut ketika pintu tiba-tiba terbuka. Ia melihat Nora yang sudah berpakaian rapi, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hanya telinganya yang sedikit merah, menunjukkan rasa malunya. Ervin tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan.


Nora berjalan ke arah kasurnya tanpa menatap Ervin. Ia duduk di tepi kasur dan mengambil obat yang masih dipegang Ervin. Ia tersenyum manis dan berkata, “Terima kasih ya, Ervin. Kamu baik sekali.” Ervin merasakan hatinya berdebar-debar ketika Nora memegang tangannya erat. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh arti, seolah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.


Nora mengecup pipi Ervin dengan lembut, lalu memeluk tubuhnya erat-erat. Ervin terkejut, tetapi tidak menolak. Ia merasakan denyut jantung Nora yang berdetak cepat di dadanya. Ia tersenyum dan mengelus rambut Nora yang halus dan wangi.


“Ervin, jangan pernah tinggalkan aku, ya. Aku cinta kamu.” Nora berbisik di telinga Ervin, membuat lelaki itu merinding.


Ervin menarik napas dalam-dalam. Ia tidak yakin apa yang didengarnya. Apakah Nora benar-benar mencintainya, atau hanya mengucapkan hal itu karena kondisinya Yang tidak stabil?


Ervin bangkit dari kasur dan mengambil gelas berisi air putih dan obat dari meja samping. Ia memberikannya kepada Nora dengan senyum penuh kasih sayang.


“Minum ini, biar kamu segera sembuh.” Ervin berkata dengan lembut.


Nora menerima gelas itu dengan senyum tipis. Ia menelan obatnya tanpa ragu, lalu meminum air putihnya habis. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas ini.


“Aku nggak apa-apa kok, Vin. Aku udah sering sakit-sakitan kayak gini. Dulu malah lebih parah.” Nora mencoba menenangkan Ervin dengan kembali berbaring di kasur. Ia menarik tangan Ervin agar mendekat kepadanya.


Ervin tidak bisa menolak permintaan Nora. Ia mendekap tubuh Nora yang hangat dan lemah. Ia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Ia ingin melindungi Nora, menjaga Nora, bahkan mencintai Nora.


“Tapi kita saudara tiri.” Ervin bergumam dalam hati, sambil menatap wajah Nora yang cantik dan polos. Ia merasa bersalah karena memiliki perasaan seperti itu terhadap saudara tirinya sendiri.