
Nora merasa ada yang berubah dalam dirinya sejak kejadian yang membuatnya terluka. Ia tidak lagi dekat dengan Ervin, lelaki yang selama ini ia anggap sebagai adiknya. Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya atau menyendiri di ruangan musik. Ia tidak lagi ramah dan ceria seperti biasanya. Ia bahkan mengabaikan Ervin yang mencoba mendekatinya.
Ervin bingung dengan sikap Nora. Ia tidak tahu apa yang telah ia lakukan salah padanya. Ia merasa bersalah dan sedih. Ia merasa Nora tidak membutuhkannya lagi. Ia merasa Nora membencinya.
Suatu hari, ketika ia dan Giovanni hendak pergi ke kelas, ia mendengar suara piano yang keras dan marah dari ruangan musik. Ia penasaran siapa yang sedang bermain piano dengan perasaan seperti itu. Ia meminta Giovanni untuk duluan, sementara ia mengintip ke dalam ruangan.
Di sana, ia melihat Nora yang sedang menekan tuts piano dengan kasar. Di sebelahnya ada Giselle dan Yudha yang mencoba menenangkan dan menasehatinya. Tapi Nora tidak peduli. Ia terus bermain piano dengan penuh emosi.
Ervin terkejut melihat Nora seperti itu. Ia belum pernah melihat gadis itu marah sebesar itu. Ia bisa merasakan betapa sakitnya hati Nora dari musik yang ia mainkan. Musik yang menyuarakan kekecewaan, kesakitan, dan kemarahan sekaligus.
Yudha dan Giselle akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Nora sendirian. Mereka berharap Nora bisa menenangkan diri sendiri. Mereka berjalan keluar dari ruangan dan terkejut melihat Ervin yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ervin? Lo ngapain di sini?" tanya Yudha heran. Bukankah seharusnya Ervin sudah di kelas?
Giselle menatap Ervin dengan sinis. Ia yakin Ervin adalah penyebab semua masalah Nora. Ia membenci Ervin yang telah membuat sahabatnya berubah menjadi orang yang penuh amarah.
"Lo lihat sendiri kan? Lo udah bikin Nora jadi kayak gitu! Lo udah bikin Gio menjauh dari gue! Lo udah bikin hidup gue sengsara! Lo anak ******! Lo pasti ...." Giselle melontarkan kata-kata kasar pada Ervin, tapi ia dicegah oleh Yudha yang menarik tangannya.
Yudha meminta maaf kepada Ervin atas perilaku Giselle. Ia tahu Giselle sedang emosi karena khawatir dengan Nora. Ia berharap Ervin tidak tersinggung.
Ervin hanya tersenyum getir dengan mengepalkan tangannya. Ia tidak mau berdebat dengan Giselle. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan Nora. Ia memilih untuk masuk ke ruangan musik dan mendekati Nora yang masih duduk di depan piano.
Ia berani menghentikan permainan piano Nora dengan menarik tangannya perlahan. Ia kaget melihat jari-jari Nora yang merah dan lecet karena terlalu keras memainkan piano. Ia merasa iba pada gadis itu.
"Kak Nora, jangan kayak gini lagi ya. Nanti tangan lo sakit," ucap Ervin lembut sambil mengelus tangan Nora.
Nora menarik tangannya dari pegangan Ervin dengan kesal. Ia tidak mau disentuh oleh lelaki itu. Ia merasa lelaki itu tidak tulus peduli padanya. Tapi ia juga merasa lelah dan frustasi. Ia akhirnya meletakkan kepalanya di pangkuan Ervin dan menutup matanya.
Ervin diam saja dengan mengelus rambut Nora pelan-pelan. Ia membiarkan gadis itu bersandar padanya dan beristirahat dari segala kekacauan yang ada di hati dan pikirannya. Ia ingin tahu apa yang membuat gadis itu begitu sedih dan marah. Ia ingin membantunya.
"Gue capek banget, Vin. Gue pengen hilang dari dunia yang kejam ini," bisik Nora dengan suara lirih. Ia meraih tangan Ervin yang mengelus rambutnya dan meletakkannya di pipinya. Ia merasakan kehangatan dari tangan lelaki itu.
"Kakak, jangan pernah menyerah pada mimpi-mimpi yang selalu menghiasi hati dan pikiran kakak. Meskipun kakak merasa lelah dan terluka oleh kejamnya dunia ini, jangan berhenti berjuang. Istirahatlah sejenak, tapi bangkitlah kembali dengan semangat baru. Dunia ini memang penuh dengan tantangan dan rintangan, terutama kepada orang-orang yang baik hati seperti kakak. Tapi ingatlah, kakak tidak sendirian. Ada yang selalu mengawasi kakak dari atas, ada yang selalu mencintai kakak dari dalam. Kakak adalah cahaya yang menerangi kegelapan, kakak adalah harapan yang mengalahkan putus asa. Kakak adalah pemenang yang pantas bahagia," ucap Ervin dengan tersenyum manis sambil memegang tangan gadis itu.
Ervin bisa melihat jika mata gadis itu berbinar-binar. Ia senang akhirnya gadis itu bisa tersenyum kepadanya. Senyuman manis itu akhirnya bisa memecahkan dinding es yang membuat mereka tidak berbicara satu sama lain.
"Terima kasih, Ervin. Lo sangat baik sama gue," ucap gadis itu dengan suara lembut.
"Lo juga sangat baik ke gue, kak. Gue senang bisa jadi tempat bersandar lo," balas Ervin dengan hangat.
Mereka berdua saling berpandangan dengan penuh arti. Mereka merasakan ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan.
...****************...
Nora duduk di bangku taman bersama Giselle tanpa Yudha saat ini. Mereka berdua duduk dengan menyantap es-krim kesukaan mereka sambil bercengkerama. Ia tahu akhir-akhir ini sahabatnya tengah mengkhawatirkan dirinya.
"Ra, kenapa sih lo kayak gitu? Gue takut sama lo waktu itu," ucap Giselle dengan menatap anak-anak yang masih berada di sekolah.
"Sekarang gue nggak bisa ngasih tau, Gis. Ini rahasia keluarga gue jadi maaf ya," balas Nora dengan memeluk tubuh sahabatnya. Ia bukannya tidak ingin berbagi bersama Giselle dan Yudha, tetapi rasanya hanya tidak ingin memberatkan mereka dengan masalahnya.
Giselle akhirnya cuman diam saja. Jika urusan keluarga Nora memang sangat sensitif. Ia juga tidak terlalu ingin mencari lebih dalam urusan keluarga sahabatnya jika Nora tidak ingin bercerita. Ia juga sama seperti Nora bedanya lebih sedikit terbuka.
"Yuk, kita pulang! Lo istirahat dulu, Ra. Lo pasti capek banget, kan?" ajak Giselle dengan menggenggam tangan sahabatnya.
Mereka berjalan melewati lapangan upacara sekolah. Ia melihat Ervin yang lagi-lagi berbicara dengan gadis PMR itu. Ia hanya menghela napas dengan menarik tangan Giselle.
"Eh, itu Ervin sama siapa, ya? Gue baru tau kalau Ervin deket sama cewek selain lo, Ra. Apa mungkin mereka pacaran?" celetuk Giselle yang tidak tahu membuat Nora kembali menjadi tidak mood.
Nora berjalan meninggalkan Giselle tanpa menjawab pertanyaannya. Ia merasa sakit hati melihat Ervin bersama gadis lain. Ia tidak tahu kenapa ia merasa begitu, padahal ia dan Ervin bukan apa-apa.
"Gue nggak suka sama Ervin!" bantah Nora dalam hati.
Giselle yang melihat reaksi Nora segera menyusulnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
"Ra, tunggu! Lo nggak usah marah-marah gitu dong. Gue cuma nanya aja kok," ucap Giselle dengan mencoba menenangkan Nora.
"Lo nggak ngerti, Gis. Lo nggak ngerti apa-apa!" bentak Nora dengan emosi.
Mata-mata murid mulai tertuju kepada mereka. Mereka memberikan jalan kepada Nora yang terlihat marah dan kesal. Mereka lagi-lagi dibuat bingung oleh tindakan Nora.
Ervin yang mendengar suara Nora segera berlari ke arah mereka. Ia menarik tangan Giselle agar mengikuti langkah Nora. Giselle pada akhirnya cuman diam dengan memutar bola matanya.
"Kak Nora kenapa lagi?" tanya Ervin dengan khawatir.
"Nggak tau tiba-tiba aja dia marah," jawab Giselle dengan menghela napas.
Keduanya akhirnya hanya bisa pasrah dengan menghela napas gusar. Rasanya Nora seperti orang yang lagi pms dan tidak ingin diganggu. Seketika Giselle teringat sesuatu dengan membuka kalender di ponselnya.
"Oh, gosh! Gue lupa ini minggu Nora pms!" seru Giselle dengan menepuk jidatnya. Ia melupakan hal penting ini dimana ia harus ekstra sabar dan berhati-hati menghadapi Nora yang sangat sensitif dan mudah tersinggung.
"Lo nggak usah khawatir lagi. Gue udah tau alasannya," ucap Giselle sambil menunjukkan kalendernya kepada Ervin.
"Tapi ..."
"Dah, sana! Jangan ganggu gue!" teriak Giselle dengan mendorong tubuh Ervin. Pada akhirnya mereka berpisah dengan Giselle yang menyusul Nora.