
Nora merasakan beban tanggung jawab yang berat di pundaknya. Ia tidak bisa begitu saja melepaskan jabatannya sebagai ketua ekstrakurikuler musik di sekolahnya. Ia harus berjuang untuk menjaga eksistensi dan kualitas ekstrakurikuler yang ia cintai itu. Namun, ia juga manusia biasa yang bisa lelah dan jenuh. Apalagi hari ini, setelah seharian bersekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, ia harus menghadapi anak-anak kelas sepuluh yang baru bergabung dengan ekskulnya.
Ia melihat mereka membawa gitar dengan wajah-wajah penuh semangat. Mereka tampak tidak sabar untuk belajar memainkan alat musik itu. Nora tersenyum tipis. Ia ingat betapa ia juga pernah merasakan hal yang sama ketika ia pertama kali bergabung dengan ekskul musik. Ia suka sekali bermain gitar dan bernyanyi. Ia merasa hidupnya lebih berwarna dengan musik.
Nora duduk di depan anggota yang lain. Ia memeluk gitar kesayangannya dan mengecek nada-nadanya. Ia melirik anak-anak yang lain yang sedang asyik berbincang-bincang. Ia tahu bahwa hari ini adalah hari yang penting bagi mereka. Hari ini adalah hari pertama mereka mengikuti ekskul musik.
"Perhatian, semua!" teriak Nora dengan suara lantang. Ia ingin segera memulai latihan.
Namun, suaranya tenggelam oleh suara-suara riuh rendah dari anak-anak yang tidak menghiraukannya. Mereka terus saja bercanda dan tertawa tanpa peduli dengan Nora.
Nora merasa kesal. Ia tidak suka jika ada yang tidak menghormati dirinya sebagai ketua ekskul musik. Ia ingin mereka serius dan fokus dalam belajar musik.
Salah satu anggota kepengurusan ekskul musik, yaitu Raka, melihat ekspresi Nora yang mulai geram. Ia segera berdiri dan berjalan ke arah drum yang ada di pojok ruangan. Ia memukul drum dengan keras, membuat suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan.
Semua orang terkejut dan menutup telinganya. Mereka menoleh ke arah Raka yang masih memukul drum dengan wajah datar.
"Udah-udah, Raka! Cukup!" teriak Nora sambil menahan telinganya.
Raka berhenti memukul drum dan kembali duduk di tempatnya.
"Maaf, Nora," ucap Raka dengan nada polos.
"Nggak papa, Raka," balas Nora sambil tersenyum simpul.
Ia kemudian menatap anak-anak kelas sepuluh dengan tatapan tajam.
"Kalian semua, dengar gue baik-baik!" ucap Nora dengan nada dingin.
"Selama kalian masuk ekskul musik yang gue pimpin, gue harap kalian bisa jaga sikap kalian. Kalau gue atau kakak-kakak yang lain ngomong, kalian harus diam juga dengar. Jangan ngobrol-ngobrol atau main hp. Kalau gue liat kalian kayak gini lagi, jangan harap guru bisa nolongin kalian. Ini etika dasar yang harusnya udah kalian tau dari kecil," lanjut Nora sambil memetik senar gitarnya untuk menegaskan ucapannya.
Anak-anak kelas sepuluh langsung terdiam dan menunduk malu. Mereka merasa takut dengan marahnya Nora. Mereka hanya tahu bahwa Nora adalah kakak kelas yang baik dan ramah, tapi ternyata dia juga bisa marah seperti itu.
Nora melihat reaksi mereka dan merasa puas. Ia berharap mereka bisa mengerti maksudnya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Nora kemudian memainkan gitarnya dengan lembut dan menatap adik-adik kelasnya dengan senyum hangat.
"Oke, sekarang kita mulai latihan, ya. Siapa di sini yang udah bisa main gitar atau alat musik lain? Angkat tangan, dong," ajak Nora dengan nada ceria.
Beberapa anak mengangkat tangan mereka dengan ragu-ragu. Nora melihat mereka dengan antusias dan menunjuk salah satu anak yang mengangkat tangan.
"Lo bisa main alat musik apa?" tanya Nora dengan penasaran.
"Biola, Kak," jawab anak itu dengan malu-malu.
"Wow, bagus sekali. Biola itu alat musik yang indah. Lo harus terus kembangkan bakat lo itu," puji Nora dengan tulus.
Anak itu tersenyum senang dan mengangguk-angguk.
Nora lalu bertanya kepada anak-anak yang lain yang juga bisa main alat musik. Ia ingin tahu seberapa besar potensi mereka dalam bidang musik. Ia berpikir bahwa mungkin saja mereka bisa membuat penampilan atau mengikuti lomba dengan alat musik yang berbeda-beda.
Setelah itu, Nora mengajarkan anak-anak yang belum bisa main gitar cara memainkan gitar secara dasar. Ia menjelaskan tentang bagian-bagian gitar, cara menyetem gitar, dan cara memainkan beberapa kunci gitar yang sering digunakan dalam lagu-lagu populer. Ia melakukannya dengan sabar dan teliti. Ia tidak ingin ada yang merasa kesulitan atau tertinggal.
Setelah selesai melakukan latihan, mereka duduk melingkar di lantai. Mereka melakukan perkenalan diri karena tadi tidak sempat untuk berkenalan karena suasana yang tegang. Akhirnya, anak-anak kelas sepuluh mulai bisa berbaur dan tertawa bersama kakak-kakak kelasnya yang akan melatih mereka selama satu semester ke depan sebelum dilantik menjadi anggota tetap ekskul musik.
"Iya, ada apa?" sahut Nora dengan ramah.
"Kak Nora keren banget. Kakak berani ngelawan anak-anak nakal sama pihak sekolah. Aku nggak pernah bisa kayak gitu," ucap Lina dengan kagum.
"Buat apa takut sama mereka? Mereka cuma bisa ngandelin kekerasan doang. Kalau kita takut, mereka makin suka ngeremehin kita. Kita harus berani melawan mereka dengan cara kita sendiri," ujar Nora dengan tenang.
"Aku salut sama Kak Nora. Aku nggak salah gabung ekskul ini. Semoga kita bisa jadi teman, ya, Kak," kata Lina dengan senyum manis.
Nora mengangguk dan merangkul pundak Lina dengan akrab.
"Tentu saja kita teman. Kita satu keluarga di ekskul ini. Kita harus saling mendukung dan membantu," ucap Nora dengan hangat.
Mereka lalu tertawa bersama dan melanjutkan obrolan-obrolan seru yang membuat suasana menjadi lebih akrab dan menyenangkan.
...****************...
Nora menikmati angin sore yang sejuk di wajahnya saat ia berjalan menuju parkiran sekolah. Ia baru saja selesai mengajar anak kelas sepuluh cara bermain gitar dan ingin segera pulang. Namun, matanya tertambat pada sebuah pemandangan yang tidak biasa. Di lapangan basket, ia melihat dua sosok lelaki yang sedang asyik beradu kebolehan. Salah satunya adalah Ervin, adik kelasnya yang biasanya pendiam dan tidak suka olahraga. Orang yang selalu menjadi sasaran anak-anak nakal.
Nora merasa heran dan penasaran. Sejak kapan Ervin bisa bermain basket dengan lincah dan gesit? Apakah ia memiliki bakat terpendam yang baru saja terungkap? Nora tidak bisa menahan diri untuk tidak mengabadikan momen itu. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai memfoto Ervin dari jarak jauh.
Nora memperhatikan wajah Ervin yang tampak serius dan fokus. Matanya yang tajam menatap bola dan lawannya dengan penuh determinasi. Bibirnya yang tipis kadang mengeluarkan napas pendek saat ia berlari atau melompat. Nora merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ia merasa takut sekaligus kagum melihat Ervin yang berbeda dari biasanya. Ia tidak menyadari bahwa telinganya sudah memerah karena malu.
Nora beralih dari mode foto ke mode video. Ia ingin merekam seluruh pertandingan basket antara Ervin dan Giovanni, teman sekelasnya yang juga jago basket. Nora bersembunyi di balik tiang listrik dan semak-semak agar tidak ketahuan oleh mereka. Ia terus merekam sampai pertandingan usai.
Namun, tiba-tiba Nora dibuat terkejut oleh sesuatu yang tidak ia harapkan. Ervin mengelap keringat di wajahnya dengan mengangkat bajunya. Nora melihat perut rata dan otot-otot Ervin yang terbentuk dengan sempurna. Nora merasa nafasnya tercekat dan jantungnya berdebar-debar. Ia segera menghentikan rekaman videonya dan mengalihkan pandangannya.
Namun, rasa malunya berubah menjadi rasa kesal saat ia melihat seorang gadis yang mendekati Ervin dengan membawa air mineral di tangannya. Gadis itu tampak manis dan ramah saat ia menawarkan air minum kepada Ervin dan mengobati luka-luka kecil di tangannya. Ervin tampak menerima perhatian gadis itu dengan senyum lebar di wajahnya.
"Damn! Siapa sih cewek itu? Apa hubungannya sama Ervin, huh?" gumam Nora dengan kesal. Ia merasa iri tanpa alasan yang jelas. Ia hanya khawatir Ervin hanya dijadikan mainan oleh gadis itu, bukan karena apa-apa.
Nora kembali membuka kamera ponselnya dan mengambil foto gadis itu dengan zoom maksimal. Ia berniat untuk mencari tahu identitas gadis itu dengan bantuan anak buah bundanya yang bekerja di bidang intelijen. Nora tidak tahu bahwa ia sedang mengintai ketiga remaja itu dengan cara yang sangat berbahaya.
Di belakangnya, ada sosok yang sangat menyeramkan yang mendekatinya Ervin juga gadis itu. Sosok itu adalah Giovanni, kakak kelas Ervin yang juga ikut bermain basket tadi.
"Meong."
Seekor kucing kuning muncul dari semak-semak dan mengeluskan kepalanya di kaki Nora. Nora yang melihatnya langsung kaget dan ketakutan. Ia membenci kucing karena ada alasan khusus. Ia mencoba menyingkirkan kucing itu dengan tangannya, tapi kucing itu malah menggigit jarinya.
"Auw!" teriak Nora kesakitan. Ia tidak sengaja menginjak ekor kucing itu saat ia menarik tangannya. Kucing itu pun berteriak kesakitan dan marah. Nora semakin panik dan memeluk tiang listrik. Ia berusaha menjauh dari kucing itu yang terus mengikutinya.
"Hust, meong jangan nakal, ya. Gue nggak niat nyakitin lo jadi lo jangan nyakitin gue," ucap Nora dengan gemetar.
Saat ia ingin pergi, ketiga remaja itu sudah mengetahui keberadaannya. Mereka berjalan mendekati Nora dengan tatapan curiga dan sinis. Giovanni memberi isyarat kepada Ervin dan gadis itu untuk diam dan tidak menyapa Nora. Ia ingin melihat reaksi Nora saat ia menyerangnya dari belakang.
Nora semakin ingin berteriak saat kucing itu berlari kecil menghalangi jalannya. Ia tidak punya pilihan selain berlari secepat kilat menuju mobilnya yang terparkir di dekat sana. Ia tidak peduli lagi dengan Ervin atau gadis itu. Ia hanya ingin selamat dari kucing itu.
"Bunda ada monster!" teriak Nora saat ia masuk ke dalam mobilnya. Ia kaget saat melihat kucing itu ikut masuk ke dalam mobilnya melalui jendela yang terbuka. Ia langsung menutup jendela dan mengunci pintu mobilnya.
Dari kejauhan, Ervin, Giovanni, dan gadis itu mendengar suara teriakan Nora yang bergema. Mereka saling pandang dan tertawa geli melihat tingkah Nora yang lucu dan konyol.