
Selama di taman matanya melirik Ervin yang menggenggam tangannya. Tangan hangat itu terlihat tidak ingin melepaskannya. Namun, hal itu tidak membuatnya senang karena Ervin juga menggenggam tangan Joy.
Nora merasa sangat risih apalagi tatapan mata tertuju kepadanya. Ia tersenyum canggung pada akhirnya genggaman tangan itu dirinya lepas. Kali ini atau seperti biasa dirinya mengalah sebagai orang yang lebih dewasa.
Nora berjalan di belakang bersama Giovanni yang cuman bermain akan ponselnya. Lelaki itu kelihatannya tidak bersemangat untuk melakukan jalan-jalan pada hari ini. Mungkin sikapnya terlihat biasa saja, tetapi raut wajah tidak bisa berbohong.
"Lo diajak sama Ervin, Kak?" tanya Nora dengan mengangkat alisnya.
Giovanni justru berdecak kesal dengan menjawab, "Lo banyak nanya, ya? Iya, gue diajak sama Ervin."
Nora cuman tersenyum menatap Ervin yang tengah berbincang-bincang dengan Joy. Tatapannya tidak lepas dari perhatian Giovanni yang menatapnya dari tadi.
Giovanni cuman memperhatikan gerak-gerik Nora yang terlihat tidak baik-baik saja. Lelaki itu berdecak kesal saat mengetahuinya lalu tertawa begitu saja. Hal itu membuat perhatian Nora kembali kepada Giovanni.
"Kak, lo masih waras, kan?" tanya Nora dengan mengerutkan keningnya.
"Otak gue masih waras, tapi jiwa gue nggak. Jadi lo juga awalnya diajak Ervin lalu dia ngasih taunya lagi sendiri? Wah, nggak bener Ervin." Giovanni menatap Ervin dengan merenggangkan ototnya.
"Gue tau waktu dia ngajak. Dia ngasih tau kalau bareng lo sama Joy," ucap Nora dengan diam menatap pohon Mahoni.
Nora menatap pohon tua itu dengan tersenyum dan menundukkan tubuhnya sekilas. Pohon itu mungkin menjadi saksi sejarah kebahagiaan orang lain selama beberapa tahun terakhir. Ia berharap bisa seperti pohon yang hidup secara mandiri, tetapi bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain.
Nora dengan Giovanni memilih untuk diam dalam pemikiran masing-masing. Mereka menatap ke arah Ervin yang tengah asyik berfoto bersama Joy. Nora dengan Giovanni menatap satu sama lain dengan raut wajah datar.
"Kak Nora! Bang Gio! Ayo kita fotbar!" teriak Joy dengan melambaikan tangannya. Gadis itu cuman tersenyum tanpa tahu yang sebenarnya terjadi kepada Nora juga Giovanni.
Nora tersenyum manis dengan melambaikan tangannya. Ia berlari kecil tanpa sengaja menabrak seseorang. Ia meminta maaf, tetapi dapat didengar gadis itu berteriak juga mengeluarkan mutiara kasar dari bibirnya.
Nora tertegun waktu mendengarkan suara gadis itu. Ia merasa sangat familiar dengan suara itu. Namun, ternyata yang benar saja gadis itu merupakan Giselle. Saat ini Giselle sedang bersama dengan Yudha, mereka tampak menggunakan pakaian couple.
Giselle juga terkejut melihat keberadaan sahabatnya. Gadis itu mulai memegang kedua pundak Nora dengan mulai memutar tubuh gadis itu. Mereka berdua mengundang perhatian Giovanni, Joy, dan Ervin.
Giselle menatap ketiga orang yang bersama dengan berdecak kesal. Gadis itu sepertinya sama sekali tidak menyukai keberadaan mereka kecuali Giovanni. Giselle segera menarik tubuh Nora dan Giovanni agar ikut bersamanya.
"Nora maksud lo teman itu dia? Lo itu susah banget gue kasih tau. Gue itu nggak pengen lo sakit hati atau cuman dimanfaatin, doang. Masa gue harus harus jelasin berkali-kali," ketus Giselle yang tidak menyadari Yudha sosok pacarnya ditinggal bersama Ervin dan Joy.
Giovanni yang merupakan kakak dari Giselle pun hanya diam. Biasanya selalu tidak menyukai saat Giselle memegang ataupun ikut campur akan urusannya. Namun, sepertinya kali ini lelaki itu cuman diam karena merasa bosan menjadi nyamuk di antara Ervin juga Joy.
Nora hanya memperhatikan saja dari kejauhan. Ia melihat jika wajah lelaki itu menunjukkan kemarahan dan rasa kesal. Awalnya lelaki itu melakukan panggilan telepon dengan tenang walaupun tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Namun, lelaki itu berteriak dengan keras yang membuat mereka terkejut.
"Itu salah Mama! Sampai kapanpun Ervin tidak bakal menerima hari ini. Terserah Mama mau berhubungan dengan siapapun. Ervin tidak ada hubungan dengan hal ini!"
Nora berjalan menghampiri Ervin ekspresi wajah lelaki itu terlihat sangat suram. Setidaknya walaupun hari ini dirinya tidak terlalu mood dengan lelaki itu, tetapi kelihatannya lelaki itu masih perlu sebuah sandaran. Namun, justru ia sekali lagi kalah dengan orang lama.
Nora kembali menjadi diam begitu saja. Ia menundukkan wajahnya dengan menghela napas. Namun, ia tidak boleh untuk egois sehingga menghambat pikiran dewasa miliknya. Akhirnya ia memilih mendekati Ervin yang menundukkan wajahnya.
"Gue nggak tau ...."
Namun, belum menyelesaikan pembicaraan Ervin langsung menyerang tubuhnya dengan sebuah pelukan. Ia mendengar sebuah napas yang terburu-buru juga tubuh gemetar dari lelaki itu. Akhirnya ia mengelus pundak lelaki itu agar membuatnya menjadi lebih tenang.
"Jangan sedih lagi, Vin! Gue nggak suka liat lo kayak gini. Bukannya apa-apa tapi rasanya sakit aja. Kalau lo ada masalah bisa aja curhat sama gue atau .... sama Joy," ucap Nora dengan tersenyum melihat Joy yang menatapnya terkejut.
"Dari mana kakak tau nama gue?" tanya Joy dengan berusaha menghilangkan rasa terkejut miliknya.
"Masalah itu nggak penting. Nanti gue kasih tau waktu gue percaya sama lo," ungkap Nora yang kini masih belum mempercayai motif gadis itu yang muncul baru-baru ini. Sebelumnya waktu Ervin mendapatkan perundungan gadis itu tidak ada di sampingnya.
Nora mencoba menenangkan perasaan Ervin baik dengan mengelus lembut rambutnya maupun membisikkan kata-kata manis. Teman-temannya juga Joy yang melihat hal itu seketika menjadi penasaran juga ragu terutama Giselle. Giovanni juga mulai menatap sinis dengan tertawa kecil.
"Gue tau lo anggap dia kayak adek karna ngerasa sendirian di rumah nggak punya saudara, tapi jangan bego, Ra!" protes Giselle dengan wajah cemberut.
"Bodoh banget! Gitu aja nggak tau," cemooh Giovanni dengan menatap remeh Giselle.
Giovanni hampir saja diserang Yudha jika bukan karena teriakan Nora yang menghentikan mereka. Nora melepaskan pelukannya dengan menatap ke arah mereka dengan menghela napas. Ia menunjuk ke arah Giovanni dan Yudha dengan menatap malas.
Giselle yang melihat sama sekali tidak berminat untuk membantu pacarnya dari kemarahan Nora. Namun, ia justru cemberut karena Nora buka seorang cowok. Jika Nora seorang cowok ia pastikan akan dia jadikan seorang pacar. Nora sangat cocok menjadi pacar ideal yang baik.
"Dunia apa ini? Gue tinggal dimana." Joy bahkan merasa bingung sekali melihat kejadian hari ini. Ia merasa kenyataan sangat terbalik dengan fakta dunia biasanya.
Nora berhenti menunjuk wajah Yudha dan Giovanni. Ponselnya berdering yang membuatnya diam. Namun, melihat orang yang melakukan panggilan membuatnya merasa kesal dan emosinya naik.
"Sial, ngapain cowok brengsek itu nelpon!" maki Nora dengan menatap layar ponselnya.