The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Rooftop dan Luka



Nora, Giselle, dan Yudha melangkah cepat menuju rooftop di sekolahnya. Mereka ingin mencari ketenangan di tempat yang sepi dan angin sepoi-sepoi. Dunia ini memang sangat kejam bagi mereka. Semua orang sangat munafik sampai-sampai hanya membicarakan dirinya di belakang. Namun, lebih baik seperti itu daripada harus berhadapan langsung dengan omongan pedas dan sinis yang bisa melukai hati mereka lebih dalam.


Semakin tumbuh dewasa, mereka semakin tahu bahwasanya harus lebih bisa kuat. Hari demi hari mereka semakin sensitif terhadap pembicaraan orang lain. Omongan jahat itu seperti sebuah boomerang bagi mereka. Awalnya ingin cepat dewasa justru mereka ingin kembali ke masa kecil setidaknya masih bisa merasakan kebahagiaan walaupun cuman sedikit.


"Bokap lo yang udah pukul lo?" celetuk Nora dengan menunjuk punggung Yudha yang tampak bungkuk.


Yudha cuman terkejut sementara. Ia hanya tersenyum getir menatap Nora yang mengetahui rahasianya. Padahal ia berharap tidak ada yang mengetahui hal ini. Ia tidak ingin dianggap lemah sebagai lelaki apalagi harus menjaga dua gadis yang sangat ia sayangi, yaitu Giselle pacarnya dan Nora sahabat terbaiknya.


Giselle terkejut mendengar perkataan Nora. Gadis itu menarik pundak Yudha agar pundak lelaki itu menghadapi dirinya. Gadis itu tertegun tatkala melihat pakaian Yudha ada sedikit bercak darah. Gadis itu segera membuka seragam Yudha ke atas dengan raut wajah terkejut. Di bawah seragamnya, ia melihat luka memar dan lebam di punggung Yudha yang tampak menyakitkan.


"Yudha .... lo nggak obatin luka ini?" tanya Giselle menatap sang pacar dengan khawatir. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


Yudha hanya bergeming tanpa mengindahkan tatapan khawatir dari kekasihnya. Ia cuman memegang kedua telapak tangan Giselle begitu saja. Lelaki itu menatap Giselle dengan sayang dan minta maaf dengan pandangannya.


Nora menatap Yudha dengan bersedih. Ia kembali ikut merasakan sakit hati waktu melihat orang tersayangnya lagi-lagi merasakan penderitaan. Ia tahu Yudha sering disiksa oleh ayahnya padahal dirinya dan bundanya sudah mengajak Yudha untuk tinggal bersama, tetapi lelaki itu memilih menolaknya. Namun, penyiksaan kali ini sangat parah dan membuatnya kecewa dan marah kepada ayah lelaki itu.


"Giselle kita bawa pacar lo ke UKS dulu. Sini gue bantu bawa dia," ajak Nora dengan memegang salah satu tangan Yudha.


Mereka bertiga kembali berjalan menuju UKS. Di perjalanan mereka mendapatkan tatapan mata, tetapi mereka tidak terlalu berani untuk berbisik maupun menggosip. Mereka tahu bahwa orang-orang hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya mereka sampai di UKS yang tengah dijaga oleh anak-anak PMR. Nora tersenyum waktu mereka membantu Yudha untuk duduk di kasur. Matanya menangkap sosok gadis yang juga dekat dengan Ervin akhir-akhir ini. Ia melihat gadis itu yang berbicara dengan teman-teman satu ekstrakurikuler.


Matanya memperhatikan gadis itu tanpa sadar cukup lama. Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna coklat yang terurai indah di bahunya. Matanya yang bulat dan hidungnya yang mancung membuat wajahnya tampak cantik dan anggun. Bibirnya yang merah muda tersenyum manis saat ia tertawa bersama teman-temannya.


Namun, sebuah panggilan menganggu dirinya juga orang-orang yang berada di dalam UKS. Ia meminta maaf kepada orang-orang di dalam lalu keluar dari ruangan dengan mengangkat panggilan telepon.


"Halo."


"..."


"Baik, apakah identitas gadis itu menganggu perusahaan dan rumah sakit keluarga?"


"..."


"Baguslah, jangan lupa terus pantau dia di luar sekolah!"


Nora mematikan panggilan telepon. Matanya menatap seorang gadis itu dengan tersenyum sinis. Sebuah file yang berisikan nama Bravey Princess Joy, ternyata salah satu anak dari pemilik perusahaan Brave.


"Gue nggak akan biarin kalau lo cuman manfaatin Ervin," gumam Nora dengan menatap ke arah Joy.


Namun, Nora tersadar dengan apa yang dilakukan olehnya. Ia menggelengkan kepalanya akhirnya memilih untuk menuju tempat Yudha dan Giselle berada. Ia bersama Giselle memilih untuk menemani Yudha di UKS untuk beberapa waktu.


****************


Sejak menemani Yudha mengobati luka, mereka memilih untuk kembali ke dalam kelas. Namun, saat dijalan ada orang yang menabrak pundak Nora. Nora seketika terdorong ke belakang jika bukan karena Giselle yang memegang tubuhnya mungkin saat ini dirinya terjatuh.


"Gue nggak ngelakuin apapun, kok. Lo aja yang baperan," jawab gadis itu dengan acuh tak acuh.


Yudha segera berdiri di depan kedua gadis itu agar tidak bertengkar. Ia merasakan sakit di punggungnya yang masih berdarah, tetapi ia menahannya demi melindungi Giselle dari gadis yang mencari masalah. Yudha cuman bisa menarik tubuh Giselle perlahan tanpa bisa menghentikan gadis itu yang hampir memukul pacarnya jika bukan karena Nora yang menahannya.


"Lo jangan main pakai fisik, ya. Gue nggak bakal masalahin hal ini, tapi kalau kalian main-main pakai fisik. Gue bakal buktikan kalau kalian yang salah di sini," ucap Nora dengan menunjuk sebuah CCTV yang terpajang di pojok dinding dengan nada dingin.


"Cih, orang yang sok cantik sama keluarga cemara. Taunya cuman anak yang nggak disayang buktinya bokap lo mau nikah lagi," ejek gadis itu dengan menyeringai.


"Daripada lo yang sok tau mana jelek. Muka kayak babi celeng aja bangga banget koar-koar." Giovanni yang akhirnya buka suara semenjak menonton kejadian tadi di kerumunan para murid dengan nada sinis.


Para cewek yang mencari masalah itu menatap tajam Giovanni. Akhirnya mereka pergi dengan diberikan sebuah sorakan ramai. Pada akhirnya meninggalkan murid-murid yang diusir oleh Yudha karena sudah sangat mengganggu jalan juga orang lain.


Namun, mereka tidak tahu jika Nora ikut pergi meninggalkan kerumunan. Nora berjalan dengan wajah yang agak pucat tiap detik. Matanya menelusuri lorong sekolah sampai di sebuah tempat yang banyak semak-semak bisa dibilang tempat bagian belakang sekolah.


Di sana merupakan sebuah tempat persembunyian yang sangat bagus. Tidak ada yang berani untuk diam di tempat ini karena katanya menyeramkan. Pada akhirnya Nora cuman diam dengan menundukkan wajahnya.


Nora mengeluarkan sebuah permen karet dari balik saku seragamnya. Ia memakan lalu menguyah permen karet dengan menundukkan wajahnya. Sesekali ia bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa sedih juga stres yang dialami olehnya kini.


"Lo rupanya di sini."


Nora menatap ke arah Ervin yang berada di depannya. Ia cuman tertawa kecil begitu saja dengan menggelengkan kepalanya. Ternyata masih ada saja yang bisa menemukan dirinya di tempat seperti ini.


"Ngapain di sini? Nggak masuk kelas emangnya," ucap Nora sesekAli meniup permen karet itu dengan nada santai.


Ervin menggelengkan kepalanya. Ia berjalan lalu ikut bersandar di dinding samping Nora. Ia mengamati gadis itu yang cuman diam sedari tadi. Gadis itu terlihat sangat tenang dalam keadaan apapun, sepertinya Nora mencoba untuk kuat dalam keadaan saat ini.


Ervin yang melihat juga ikut sedih. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat melihat Nora yang tampak murung. Ia ingin membuat Nora tersenyum lagi seperti biasanya. Namun, tanpa diduga hal apa yang membuatnya sangat berani kini. Ia menarik tangan Nora lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Mereka berdua cuman diam tanpa mengatakan sepatah kata. Hal ini membuat Nora merasakan sebuah kehangatan di dalam sebuah kegelapan hatinya. Ia membalas pelukan lelaki itu dengan meletakkan kepalanya di dada lelaki itu.


“Makasih, aku hari ini capek banget, Vin. Aku sampai nggak tau harus ngomong apa,” gumam Nora dengan mengeratkan pelukannya.


Ervin tersenyum lembut saat mendengar gumaman Nora. Ia mengelus rambut Nora dengan lembut dan mencium puncak kepalanya.


“Tenang aja, Nor. Aku ada di sini buat lo. Aku nggak akan ninggalin lo sendirian,” bisik Ervin dengan lembut.


Nora mendongakkan kepalanya dan menatap Ervin dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat wajah Ervin yang tampan dan baik hati. Ia melihat matanya yang bersinar dan bibirnya yang menawan. Ia merasakan jantungnya berdebar-debar saat Ervin mendekatkan wajahnya ke wajahnya.


“Ervin …,” panggil Nora dengan suara lirih.


“Ya?” jawab Ervin dengan suara lembut.


"Nggak papa," jawab Nora yang