
Nora merasa hari ini berbeda dari biasanya. Ia tidak bisa berkonsentrasi di sekolah, pikirannya melayang ke arah yang tidak ia inginkan. Ia teringat perkataan lelaki itu yang membuat hatinya berdebar-debar sekaligus bingung. Apa maksudnya? Apa ia serius? Apa ia hanya bercanda?
Ia tidak menyadari bahwa ia sudah menjadi pusat perhatian di kelas. Tidak ada yang berani mengganggunya atau menggosipkannya. Semua murid tahu bahwa Nora adalah gadis yang cantik, pintar, dan baik hati. Ia juga tidak pernah terlibat dalam masalah apapun, bahkan ketika kasus itu menyeret namanya.
Ibu guru yang sedang mengajar pun melihat Nora dengan tatapan khawatir. Ia tahu bahwa Nora adalah murid kesayangannya, yang selalu aktif dan rajin di kelas. Tapi hari ini, ia tampak lesu dan murung. Ibu guru ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi ia tidak mau mengganggu proses belajar mengajar.
"Nora," panggil ibu guru dengan suara lembut.
Nora terkejut dan bangkit dari lamunannya. Ia melihat ibu guru menatapnya dengan senyum hangat. Di atas mejanya, ada penghapus papan tulis yang ia harus bawa ke depan kelas.
"Maaf, Bu. Saya tidak akan mengulangi lagi," ucap Nora dengan suara lirih. Ia merasa malu karena ketahuan melamun di kelas.
"Tidak apa-apa, Nak. Saya tahu ini baru pertama kali kamu melakukan hal seperti ini. Mungkin kamu sedang banyak pikiran," kata ibu guru dengan pengertian.
Nora tersenyum tipis dan berjalan ke depan kelas dengan membawa penghapus papan tulis. Ia merasa bersyukur karena ibu guru tidak marah padanya. Ia berharap hari ini segera berakhir.
Bel pulang akhirnya berbunyi, menandakan waktu istirahat bagi para murid. Nora segera membereskan tasnya dan bersiap untuk pulang. Ia ingin segera bertemu dengan bundanya dan menceritakan semua yang terjadi padanya.
"Nora, ayo kita ke mall! Gue traktir lo makan apa aja yang lo mau! Gue juga mau beliin lo baju baru!" ajak Giselle, sahabatnya sejak kecil, dengan semangat.
Nora menoleh ke arah Giselle dan Yudha yang sudah berdiri di sampingnya. Ia melihat ekspresi khawatir di wajah mereka. Mereka pasti tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Terima kasih ajakannya, Gis. Tapi kali ini gue nggak bisa ngikut kalian. Gue pengen ketemu Bunda dulu," jawab Nora dengan sopan.
Giselle mengerutkan keningnya. Ia merasa Nora selalu menutup diri dari mereka. Padahal ia selalu terbuka dengan Nora tentang segala hal. Ia ingin membantu Nora melewati masa-masa sulit ini.
"Yakin lo nggak mau ikut kita? Lo nggak usah takut apa-apa, kita kan temen lo," coba Giselle membujuk.
Nora menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Gue yakin, Gis. Gue cuma pengen ketemu Bunda. Soalnya Bunda hari ini pasti bawa kabar baik bagi gue."
Giselle menghela napasnya. Ia tahu bahwa Nora adalah orang yang mandiri dan dewasa. Ia tidak suka merepotkan orang lain dengan masalahnya. Tapi Giselle khawatir bahwa Nora akan semakin terpuruk jika tidak ada yang menemaninya.
"Oke, kalau gitu. Tapi lo janji ya, kalau lo ada apa-apa kabarin gue atau Yudha aja. Kita kan sahabat, lo nggak perlu malu atau takut sama kita," kata Giselle dengan serius.
Nora mengangguk-angguk. Ia berterima kasih pada Giselle dan Yudha yang selalu ada untuknya.
Nora pun berpamitan dan berjalan keluar dari kelas. Ia melihat beberapa murid yang menyapanya dengan ramah. Ia tersenyum dan membalas sapaan mereka. Ia merasa lega karena mereka masih menghormatinya sebagai dewi sekolah, meskipun kasus itu telah membawa namanya.
Giselle dan Yudha menatap kepergian Nora dengan perasaan campur aduk. Mereka ingin mengikuti Nora, tapi mereka juga tidak mau mengganggunya. Mereka berharap Nora bisa kembali bahagia tanpa ada beban pikiran.
"Yudha, gimana kalau kita kencan aja? Udah lama banget kita nggak jalan bareng," usul Giselle dengan manja.
Yudha tersenyum dan merangkul pundak Giselle. "Boleh aja, sayang. Ada tempat yang lo mau kunjungi?"
"Gue tau ada cafe baru yang katanya bagus banget. Namanya Luna, di seberang taman dekat sekolah kita. Katanya tempatnya romantis banget, apalagi pas malam hari. Ada lampu-lampu bulan dan bintang yang bikin suasana jadi magis," cerita Giselle dengan antusias.
"Wah, kedengarannya menarik. Ayo kita kesana!" ajak Yudha dengan semangat.
Giselle dan Yudha berjalan ingin masuk ke dalam cafe Luna, tempat favorit para remaja untuk menghabiskan waktu bersama. Cafe ini terkenal dengan dekorasi yang indah dan romantis, terutama di malam hari. Lampu-lampu kecil berbentuk bulan dan bintang menghiasi langit-langit dan dinding cafe, menciptakan suasana yang hangat dan ajaib. Nama cafe ini diambil dari legenda tentang seorang alpha yang menemukan mate-nya yang bernama Luna, seorang wanita cantik dan kuat yang menjadi ratu dari semua serigala.
Mereka baru saja ingin masuk ke dalam cafe, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara keras dari dalam.
“Hey, jangan ngalangin jalan!”
“Ah, iya. Maaf, Kak.” Yudha buru-buru menarik tangan Giselle dan mencari tempat duduk yang kosong. Ia hanya tidak ingin mencari masalah untuk kali ini.
Mereka memilih duduk di dekat tempat para barista bekerja, berharap bisa berbicara dengan Giovanni nanti. Namun, sebelum mereka sempat menyapa, seorang lelaki muda dengan rambut hitam datang menghampiri mereka dengan membawa buku catatan.
“Kakak mau pesan apa?” tanya lelaki itu dengan sopan.
Dia adalah Ervin, adik kelas Giselle yang juga bekerja di cafe Luna. Giselle tidak suka padanya, karena dia selalu mengganggu Nora dan merebut Giovanni dari dirinya. Lelaki itu bagaikan sebuah benalu dalam hidupnya.
“Americano satu, Vanilla Latte satu, sama Red Velvet Cake. Kami cuman pesan itu, Vin. Makasih,” jawab Yudha dengan ramah.
“Tunggu sebentar nanti gue antar ke sini,” kata Ervin dengan senyum tipis.
Ervin hendak pergi, tetapi tiba-tiba Giselle menarik tangannya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Sejak kapan Bang Gio kerja di sini? Kenapa dia harus kerja di tempat kayak gini?! Ini pasti gara-gara lo, kan?” ucap Giselle dengan nada sinis.
Giselle marah karena dia tahu bahwa Giovanni tidak miskin dan mempunyai banyak uang. Giovanni adalah anak sulung dari keluarga kaya raya yang memiliki perusahaan besar selain keluarga Nora. Dia seharusnya tidak perlu bekerja keras seperti ini.
“Maaf ini nggak sesuai dengan pekerjaan gue. Urusan keluarga kalian bisa diselesaikan secara pribadi,” jawab Ervin dengan tenang.
Ervin tidak mau terlibat dalam masalah keluarga Giselle. Dia hanya ingin bekerja dengan tenang untuk mengumpulkan uang. Ia sama sekali tidak berurusan sebagai orang yang membuat Giovanni bekerja.
Giovanni yang melihat kejadian itu segera meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menuju meja Giselle dan Yudha. Dia menarik tangan Ervin dan menatap adiknya dengan tatapan dingin.
“Kalau ada masalah jangan lampiaskan ke adek gue, Gis. Asal lo tau kenapa gue ngelakuin kerja di sini,” kata Giovanni sambil berjongkok agar sejajar dengan Giselle.
“Asal lo tau semua itu karna lo, bajingan. Karna dengan kehadiran lo ngebuat gue susah. Gue harus sudah payah kerja buat uang saku gue yang trus dipotong karna lo,” bisik Giovanni dengan nada rendah.
Giovanni mengatakan hal itu dengan penuh kesal dan sakit hati. Dia merasa tidak dihargai oleh orang tuanya yang selalu memanjakan Giselle dan mengabaikannya. Dia juga merasa membenci gadis itu seumur hidupnya.
Giselle terkejut mendengar perkataan kakaknya. Dia merasa bersalah juga karena tidak pernah tahu masalah ini. Dia hanya bisa menatap Giovanni dengan mata berkaca-kaca. Dia berlari keluar dari cafe sambil mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nomor orang tuanya dan menelepon mereka.
Namun, tidak ada yang menjawab. Dia melambaikan tangannya dan menaiki taksi yang lewat. Dia tidak peduli dengan Yudha yang berteriak memanggilnya. Dia harus bertemu dengan orang tuanya dan menuntut perminta maaf dari mereka.
Dia tiba di depan gedung perusahaan milik keluarganya. Tempat di mana ayah dan ibunya bekerja. Tempat yang akan diwariskan kepada Giovanni dan dirinya.
Dia masuk ke dalam gedung dengan tergesa-gesa. Dia tidak memperhatikan para karyawan yang menyapanya. Dia langsung menuju ruangan ayahnya. Di sana dia melihat ayah dan ibunya sedang berbicara dengan serius. Mereka terkejut melihat kedatangan putri kesayangannya.
“Dad! Mom! Maksudnya apa potong uang saku Bang Gio?! Kalian tidak tahu karena itu Bang Gio harus cari uang di luar sana!” teriak Giselle dengan air mata yang mengalir deras.
“Dan itu ngebuat Bang Gio jadi benci Giselle,” tambah Giselle di dalam hatinya.
Ayah dan ibunya segera memeluk Giselle dan menenangkannya. Mereka sangat panik melihat putri kesayangannya menangis dengan tersedu-sedu.
“Sudah princess milik Daddy tidak boleh sedih. Nanti cantiknya hilang,” kata ayahnya dengan lembut.
“Iya, Daddy. Tapi janji Daddy sama Mommy nggak ngulang gitu lagi, kan?” tanya Giselle di dalam pelukan hangat kedua orang tuanya.
“Iya, apa yang tidak bagi putri kami,” kata ibunya dengan sayang.