The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Ervin Malu



Setelah kejadian tadi mereka kini duduk di kursi bagian dekat jendela. Nora menatap ke arah Giovanni dan Joy yang duduk disamping Ervin. Ia menatap ke arah samping dimana ada jendela dengan mempertahankan ekspresi wajahnya.


Apalagi waktu itu juga ia melihat Ervin tertawa manis bersama gadis itu. Lelaki itu sama sekali tidak pernah tertawa dengan lepas waktu bersama dirinya. Ia memainkan ponselnya dengan memutar musik cukup keras dan bernyanyi.


Kedua orang itu berhenti tertawa dengan terkejut waktu musik itu berdentum kencang. Musiknya berhenti waktu Yudha mematikan musik itu. Yudha menatap Nora dengan tidak percaya ternyata gadis itu benar-benar sudah berubah tidak seperti sahabat yang ia kenal.


"Ngapain? Gue mau denger musik apa salah?" cecar Nora dengan menatap heran ke arah sahabatnya.


"Nggak salah tapi lo ganggu! Kalau mau ngerusuh jangan di sini!" bentak Giovanni dengan menunjuk wajah Nora.


Nora hanya menatap Giovanni dengan tenang. Ia menepis tangan Giovanni yang berada di wajahnya. Ia sangat tidak menyukai orang yang berbicara dengan menunjuk wajahnya terlihat sangat tidak tahu tata krama.


Giselle yang melihat pun seketika berdecak kagum. Ia tidak peduli lagi takut kepada Giovanni untuk sekarang. Ia harus membantu sahabatnya untuk balas dendam sekaligus menghilangkan Ervin dari pandangan kakaknya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


"Heh, Bang Gio! Jangan mentang-mentang tua nggak sopan negur Nora dengan cara itu! Itu hak dia, dong!" geram Giselle dengan menunjuk wajah Giovanni.


Giovanni yang melihat pun seketika menatap adiknya dengan tidak percaya. Kata-kata tidak bisa keluar lagi dari mulutnya. Kali ini ia kalah telak karena sang adik.


Nora kembali menatap ke arah Ervin yang sedang menepuk pundak Joy tidak tahu apa alasannya. Ia menghela napas gusar dan harus banyak bersabar jika mencintai orang yang dikenalnya dan adik tirinya senin. Dibandingkan orang lama ia sama sekali tidak bisa melawan, tetapi bukan Nora jika tidak jenius dalam melakukan apapun.


Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan tersenyum. Namun, ia tidak tahu jika Ervin menatapnya dengan sendu. Mereka sama-sama mencintai satu sama lain, tetapi rasa gengsi dan tidak percaya diri lebih mendominasi.


Saat mereka ingin makan, beberapa orang datang dengan membawa gitar. Salah satu cowok menepuk pundak Nora dengan tersenyum disambut oleh senyuman manis oleh gadis itu.


"Ra, ini ada temen gue yang mau minta ajarin lo main gitar." Lelaki yang merupakan teman satu ekstrakurikuler musik menepuk pundak temannya.


"Kenapa nggak lo aja yang ajarin? Dia temen lo, kan?" tanya Nora dengan mengerutkan keningnya.


"Nggak mau katanya, Ra! Dia maunya sama lo!" Salah satu cowok tertawa dengan menepuk pundak temannya.


"Apaan, njir?! Gue nggak mau diajarin kalian karna kalian nggak mau serius!" Cowok itu tampaknya merasa kesal dan malu bersamaan waktu digoda temannya.


Nora yang melihat seketika tertawa saja. Teman-temannya yang di sana hanya diam melihat pembicaraan Nora dengan sekumpulan cowok itu. Waktu Nora ditarik oleh para cowok itu pun Giselle tampak tersenyum lebar, ia tahu maksud cowok dan Nora. Namun, Yudha tidak berpikiran begitu juga bukan karena pacarnya mungkin ia akan menarik tangan Nora agar tidak berkumpul dengan sekumpulan cowok.


Giselle menatap ke arah Ervin. Ia tersenyum puas waktu melihat Ervin diam walaupun gadis di sampingnya terlihat mengajaknya bicara. Tampaknya Ervin mulai masuk dalam perangkap cinta Nora.


Nora memetik gitar dengan melingkar tangannya di tubuh lelaki yang diajarkan olehnya. Jika dilihat tampak seperti pelukan dari belakang. Orang-orang di kantin yang melihat tampak berbisik.


"Aaaa, gue iri banget sama mereka!"


"Anjir, cewek gue meluk cowok lain!"


"Diliat-liat Nora sama cowok itu cocok juga."


"Kalau nggak salah cowok itu anak Paskibra."


"Pantes aja kekar! Cakep asu! Liat aja nggak lama Nora pasti suka."


Sekarang giliran lelaki itu mencoba memainkan gitar walaupun ada yang salah. Nora juga bernyanyi agar tidak membuat lelaki itu gugup. Ia bahkan juga memberikan senyuman manisnya melihat permainan yang serius. Tampaknya walaupun berpura-pura ingin belajar gitar lelaki itu tampak serius ingin belajar.


Giselle tidak salah tebak ia mencoba membuat perangkap cinta untuk Ervin. Namun, Giselle dan yang lain kecuali salah satu teman ekstrakurikuler musik tidak tahu jika ini bagian dari rencananya. Tadi waktu ia duduk di kursi berhadapan dengan Ervin. Ia mengirimkan pesan kepada temannya untuk membantu berpura-pura.


Nora mengamati perubahan raut wajah Ervin secara berskala. Ia antara puas atau tidak melihatnya karena dirinya masih belum tahu apakah itu ekspresi cemburu atau bagaimana. Namun, yang penting ia sudah tahu Ervin tidak menyukainya dekat dengan cowok lain.


"Latihannya udah, ya? Kapan-kapan lagi, deh!" seru Nora dengan mengedipkan matanya kepada sekumpulan cowok itu.


Para cowok itu memberikan isyarat oke kepadanya. Akhirnya ia bisa kembali duduk bersama Ervin dan teman-temannya. Ia merasakan tatapan menuju kepadanya, tetapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Lo kenal cowok itu?" tanya Ervin dengan menatap mata Nora.


"Beberapa kenal, sih. Tapi sisanya enggak sama cowok yang minta ajarin," jawab Nora dengan tersenyum lebar. "Seru banget bisa main musik apalagi liat ada orang yang niat belajar musik."


"Gue nggak suka liat lo deket cowok itu. Lo nggak tau kalau bisa aja itu kesempatan buat nyari hal negatif ke lo, Kak? Keliatan banget apalagi lo kayak meluk dia, Kak. Lo nggak liat ekspresi wajahnya tadi," beber Ervin dengan mendengus karena saking kesal.


Nora yang melihat seketika tertawa cukup senang. Melihat ekspresi wajah kesal dari Ervin membuatnya yakin ada peluang untuk mendekati lelaki itu. Namun, berbanding terbalik dengan Giovanni yang menepuk jidatnya. Ervin terlalu ketahuan sekali jika sedang cemburu dan itu mempermudah Nora melaksanakan rencana liciknya.


Joy yang melihat pun seketika menatap sinis Nora. Tatapan itu sangat berbeda dengan awal mereka bertemu. Semua itu karena rahasia pembicaraan Giselle dan Nora bocor karena Giovanni sehingga pandangan Joy terhadap Nora agak berubah.


Joy mulai memeluk lengan Ervin dengan erat. Ervin juga tidak berniat melepaskan sama sekali. Hal itu membuat Nora menjadi kesal, tetapi sama sekali tidak membuat ekspresi wajahnya berubah.


Nora tersenyum manis dengan menopang tengkuknya di atas telapak tangannya. Ia menatap mata Ervin dengan tatapan berbinar. Ia juga tidak melepaskan tatapannya ke arah lengan Ervin yang dipeluk erat oleh Joy kelihatannya gadis itu mulai berani terang-terangan melawan dirinya.


"Tenang aja mereka baik, kok. Modus dari cowok nggak bakal mempan karna gue nggak suka cowok," ucap Nora secara terang-terangan.


Giovanni, Ervin, Joy, kedua sahabat Nora, dan penghuni kantin yang mendengar seketika terkejut. Perkataan Nora yang satu ini membuat murid-murid lain bergosip. Mereka mungkin tidak menyangka dengan pernyataan Nora.


"Gue nggak suka cowok, tapi cowok yang ini beda lagi." Nora mengatakan hal itu cukup keras dengan tersenyum manis. Tatapannya tertuju kepada Ervin yang membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya.


"Oh, gitu. Joy ayo kita pergi habis ini ada presentasi!" ajak Ervin dengan menarik tangan Joy secara keras bahkan gadis itu belum siap sama sekali.


Nora menatap kepergian Ervin dengan tertawa kecil berkata, "Lucu juga."