
"Eh, Ra! Koridor angkatan kita nggak di sana!" Yudha berteriak tatkala melihat Nora berjalan menyeberang lapangan upacara bukannya belok ke arah kanan.
Nora melangkah cepat meninggalkan lapangan upacara yang terik. Ia tidak peduli dengan teriakan Yudha yang mengingatkannya bahwa koridor angkatan mereka berada di arah yang berlawanan. Ia hanya menunjuk ke depan, ke arah ruangan berpintu putih yang dijaga oleh sekelompok murid menggunakan rompi merah. Mereka adalah anggota PMR yang siap menolong siapa pun yang terluka.
Nora tidak sendiri. Ia ditemani oleh Ervin, Giovanni, dan Yudha. Ervin baru saja terlibat perkelahian dengan murid lain karena masalah sepele. Wajah Ervin paling parah, penuh luka dan memar. Nora merasa bersalah karena ia yang membuat Ervin seperti ini.
Sesampainya di depan ruangan UKS, mereka disambut ramah oleh anak-anak PMR. Salah satu dari mereka menarik tangan Ervin dan membawanya ke dalam. Nora mengikuti langkahnya dengan penasaran. Ia ingin tahu siapa yang akan mengobati Ervin.
Di dalam ruangan, Nora melihat seorang gadis manis dengan rambut panjang dan mata sipit sedang membersihkan luka-luka di wajah Ervin dengan hati-hati. Gadis itu tampak serius dan fokus, sementara Ervin tersenyum lebar dan sesekali menggoda gadis itu. Mereka berdua tampak begitu akrab dan mesra.
“Lo kenal dia?” tanya Nora tanpa bisa menyembunyikan rasa iri di suaranya.
“Kepo lo, Nora. Lo nggak punya hubungan apapun sama Ervin sampai harus tau semua masalahnya,” potong Giovanni dengan nada sinis. Ia tidak suka melihat Nora yang selalu ikut campur urusan orang lain.
Nora menoleh ke arah Giovanni dan tersenyum lebar dengan sarkasme. Ia tidak mau berdebat dengan kakak kelas yang sombong itu. Ia kembali memperhatikan Ervin dan gadis itu, yang masih asyik bercanda tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Nora merasa seperti nyamuk di antara manisnya bunga. Ia merasa tidak dianggap sama sekali oleh Ervin, padahal ia sudah berusaha menjadi teman baiknya. Ia ingat betapa dulu ia juga merasakan hal yang sama saat Yudha pacaran dengan Giselle, adik Giovanni.
Nora mengeluarkan ponselnya dari kantong seragamnya dan melihat jam di layar. Sudah hampir pukul sebelas siang. Mereka sudah membuang-buang waktu cukup lama di sini, padahal mereka masih harus menjalani hukuman dari guru BK karena perkelahian tadi.
Yudha melihat ekspresi kesal Nora dan menahan senyumnya. Ia menepuk pundak Ervin untuk memberi isyarat agar segera selesai. Ervin terkejut dan meminta maaf karena telah membuat mereka menunggu lama.
Nora berjalan keluar lebih dulu dari mereka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yudha menggelengkan kepalanya heran. Ia tahu Nora adalah gadis yang penyabar dan ramah, tapi sepertinya kali ini ia benar-benar kesal.
“Dari mana lalu sampai mana kita bersihin?” tanya Nora ketus saat mereka sampai di koridor kelas sebelas. Ia ingin segera menyelesaikan hukuman ini agar bisa pulang.
“Semua halaman depan kelas sebelas harus kalian bersihin sampai kinclong. Gue sama dia bakal ngawasin kalian dari dekat,” perintah Giovanni sambil menunjuk Yudha sebagai partnernya.
“Jangan coba-coba curang atau kabur, ya! Gue nggak akan kasihan sama kalian!” tambah Giovanni sambil menatap Nora dan Ervin dengan tatapan tajam. Ia tidak akan memberi kelonggaran sedikit pun kepada mereka.
Nora mengangguk pelan dan mengambil sapu yang ada di depan kelas. Ia memilih untuk membersihkan bagian dari kelas XI IPA 5 sampai XI IPS 3. Ervin dan Yudha hanya bisa melihatnya dengan bingung. Tadi Nora tampak ramah dan hangat, sekarang ia berubah menjadi cuek dan dingin.
“Teman lo udah gila, ya?” sindir Giovanni sambil melihat Nora yang sibuk menyapu. Ia heran melihat gadis itu berubah sikap begitu cepat.
“Maksud lo?! Jangan nyari masalah, ya!” bentak Yudha yang selalu emosi jika berhadapan dengan Giovanni. Ia tidaK suka kakak kelas itu mengganggu temannya.
Giovanni hanya memutar bola matanya berkata, "Dih, gue bilangin lo ke Mommy kalau lo cuman manfaatin Giselle, doang. Biar lo tau rasa perusahaan bokap lo nggak dapat saham lagi dari mereka."
Mereka berdua diam tanpa berkata-kata lagi. Mereka berpisah untuk mengawasi Nora dan Ervin yang sedang bekerja keras. Keduanya tampak fokus mengerjakan tugas tanpa mengeluh.
Waktu berlalu dengan cepat, tapi Nora masih saja sibuk menyapu. Ia tidak peduli dengan debu yang terbang ke wajahnya atau keringat yang membasahi punggungnya. Ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Saat mereka sedang membelakangi satu sama lain, Nora tanpa sengaja membentur sesuatu yang keras dan kokoh. Ia menoleh dan ternyata itu adalah punggung Ervin. Ervin juga menoleh dan tersenyum canggung. Ia mengira Nora marah padanya karena kejadian tadi.
“Nora, coba liat apa yang lo kerjain! Lo udah nyapu berkali-kali tapi masih banyak debu! Lo kalah sama Ervin, padahal dia cowok! Gue nggak habis pikir, padahal lo cewek harusnya bisa lebih bersih dari Ervin!” omel Giovanni sambil menunjuk-nunjuk Nora.
Nora hanya bisa tersenyum pahit mendengar perkataan Giovanni yang menyindir pekerjaannya yang masih kurang. "lya, gue tau kalau pekerjaan gue masih kurang. Tapi lo tau sendiri hidup gue itu udah diperlakukan keluarga seperti Ratu. Jadi gue nggak pernah nyentuh atau bersih-bersih kayak ini," jawabnya dengan nada tenang.
Giovanni terdiam, tidak bisa lagi menyanggah ucapan Nora. Gadis itu memang selalu biSa membalikkan keadaan dengan perkataannya yang bijak.
Nora berjalan kembali untuk membersihkan kekacauan yang ada di lantai kelas. Namun, tanpa ia sadari, lantai perbatasan licin karena ember yang berisi air pel tidak sengaja terdorong kakinya saat tubuh mereka saling berbenturan. Dalam sekejap, ia terjatuh dengan keras, menimbulkan bunyi yang cukup mengagetkan, meskipun tidak sampai mengganggu penghuni kelas yang sedang belajar.
Nora masih terduduk di atas lantai. Tatapannya kosong, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ervin yang melihat segera mendekatinya dan membantunya untuk berdiri, tetapi gadis itu sepertinya masih linglung.
Ervin menjentikkan jarinya di depan wajah Nora. Kemudian Nora tersadar dan menatap wajah Ervin yang khawatir. Seketika wajahnya memerah, ia merasa malu bukan kepalang.
Yudha berlari pelan ke arah Nora. la terus bertanya kepada sahabatnya, tetapi Nora seperti lebih memilih untuk diam. Ia tampak cemas, padahal yang terluka itu bokongnya bukan kepalanya, tetapi Nora tampak linglung saat ini.
Giovanni menertawakan pemandangan di depan matanya. la melihat Nora, gadis yang selalu berwibawa juga seorang dewi Prestige di sekolah, terpeleset di lantai dan terduduk diam layaknya orang tidak waras. la tidak percaya bahwa Nora bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu, apalagi di hadapan Ervin, cowok yang disukainya diam-diam. Giovanni merasa ini adalah momen langka yang harus Ia nikmati.
"Ya ampun, Nora. Lo pasti malu banget ya. Nggak usah ditanya lagi, pasti malu," ujar Giovanni sambil menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.
Ervin merangkul tubuh Nora yang lemas dan mengangkatnya ke pundaknya. Gadis itu berontak dan memukul-mukul punggung Ervin dengan tangannya yang lemah. Tapi Ervin tidak peduli. Ia malah tersenyum saat merasakan Nora menyembunyikan wajahnya di belakang lehernya, seolah malu dengan keadaannya. Napas hangat Nora meniup-niup kulit Ervin, membuatnya merinding.
“Malu gue, Vin. Nggak usah kemana-mana,” bisik Nora dengan suara lirih. Lengannya melingkar erat di leher Ervin, seakan takut kehilangan pegangan.
Ervin terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Ia menoleh sedikit dan menatap Nora dengan mata berbinar. Gadis itu menunduk lagi, merah padam di pipinya. Ervin menghela napas dan menurunkan Nora dengan hati-hati. Ia menepuk-nepuk pundaknya dan berkata, “Tenang aja, gue nggak bakal ninggalin lo.”
Mereka kembali sibuk dengan tugas membersihkan lantai sekolah yang kotor. Nora kali ini bekerja dengan serius, menyapu setiap sudut ruangan dengan teliti. Ia tidak mau ada debu yang tersisa, apalagi setelah kejadian tadi yang membuatnya merasa bersalah pada Ervin tidak lupa kejadian memalukan tadi. Ervin juga tidak kalah rajin, ia mengelap lantai dengan arah sesuai. Mereka bekerja sama dengan baik dan cepat, tanpa banyak bicara.
Nora melihat Ervin berjalan menuju keluar koridor kelas sebelas setelah selesai membersihkan lantai. Ia berlari pelan dan menarik pergelangan tangan Ervin dengan lembut. Ia tersenyum canggung dan berkata, “Makasih.”
Ervin mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Nora yang tiba-tiba. Ia bertanya, “Makasih buat apa?”
“Makasih karna lo ngebela gue bahkan sampai kena masalah. Gue bahkan nggak tau harus balas lo gimana,” ungkap Nora dengan mata bersinar.
Ervin tersenyum manis dan mengacak rambut Nora dengan lembut. Ia berkata, “Nggak usah balas apa-apa, Kak. Gue cuma ngelakuin apa yang harus gue lakuin.”
Nora menatap kepergian Ervin dengan menahan senyuman. Ia memegang rambutnya yang berantakan dan bergumam, “Apaan, sih?”