The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Kebohongan Atau Kejujuran?



Nora menatap jendela kelas dengan tatapan kosong. Ia tidak bisa melupakan perkataan Giselle yang membuatnya bingung. Apakah ia harus mengikuti rencana jahat sahabatnya itu untuk mendekati Ervin? Apakah ia harus berpura-pura membencinya agar bisa mendapatkan bantuan dari sahabatnya? Nora merasa tidak nyaman dengan ide itu. Ia tidak ingin berbohong pada dirinya sendiri dan pada Giselle.


Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka buku ekonomi di mejanya. Ia sudah mempelajari materinya semalam, tetapi ia ingin mengulanginya lagi. Ia melihat guru ekonomi yang sedang berdiri di depan papan tulis. Ia mengacungkan tangannya dengan sopan.


"Pak, boleh saya bertanya tentang PDB? Saya sudah membaca buku teksnya, tetapi saya masih merasa kurang mengerti. Bisa tolong jelaskan lagi dengan cara yang lebih mudah dimengerti?" tanya Nora dengan ramah.


"Tentu saja, Nora. Saya senang Anda tertarik dengan pelajaran ini. PDB adalah singkatan dari Produk Domestik Bruto. Itu adalah ukuran dari nilai total barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu," jelas guru ekonomi dengan sabar.


"Jadi, PDB itu menunjukkan seberapa kuat ekonomi suatu negara? Bagaimana cara menghitungnya, Pak?" tanya Nora lagi dengan antusias.


"Ya, PDB itu salah satu indikator untuk menilai kinerja ekonomi suatu negara. Cara menghitungnya adalah dengan menjumlahkan semua pengeluaran yang terjadi di dalam negeri. Rumusnya adalah PDB \= C + G + I + (X - M), di mana C adalah konsumsi rumah tangga, G adalah belanja pemerintah, I adalah investasi, X adalah ekspor, dan M adalah impor," jawab guru ekonomi dengan detail.


"Oh, saya mengerti sekarang. Jadi, PDB itu tidak memperdulikan siapa yang memiliki faktor produksi yang ada di dalam negeri? Misalnya, jika ada perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia dan menghasilkan barang dan jasa di sini, itu termasuk dalam perhitungan PDB Indonesia?" tanya Nora lagi dengan penasaran.


"Benar sekali, Nora. Anda sangat cerdas. PDB hanya memperhatikan tempat produksinya, bukan kepemilikannya. Jika Anda ingin mengetahui nilai produksi yang dihasilkan oleh warga negara suatu negara, baik yang tinggal di dalam maupun luar negeri, Anda harus menggunakan PNB," ujar guru ekonomi dengan pujian.


"Terima kasih banyak atas penjelasannya, Pak. Saya jadi lebih paham tentang PDB dan PNB," ucap Nora dengan senyum lebar.


Guru ekonomi tersenyum balik dan mengakhiri pelajarannya. Murid-murid lain bersorak-sorai karena mereka bisa istirahat sejenak. Guru ekonomi meninggalkan kelas dengan senang hati.


Nora tertawa kecil melihat reaksi teman-temannya. Ia tahu mereka tidak suka pelajaran ekonomi dan bosan mendengarkan pertanyaannya. Tapi ia tidak peduli. Ia suka belajar hal-hal baru dan menantang dirinya sendiri.


"Ra, kita lanjutkan rencana kita, yuk? Ayo kita ke kantin sekarang. Gue punya ide bagus buat ngedeketin Ervin," ajak Giselle yang datang ke meja Nora.


Nora menoleh ke arah Giselle dengan ragu-ragu. Ia tidak yakin apakah ia mau mengikuti rencana Giselle atau tidak. Ia takut akan menyakiti Ervin atau dirinya sendiri.


"Nora, gue serius, nih. Ini kesempatan emas buat lo dapetin Ervin sebagai ajang balas dendam. Lo harus berani ambil risiko sedikit, dong. Lo harus pura-pura sayang sama dia dulu biar dia jatuh dalam pesona lo. Terus lo harus sering deketin dia dengan alasan belajar, ngobrol, atau ngasih kado. Pokoknya lo harus bikin dia jatuh cinta sama lo dengan cara apapun," ujar Giselle dengan bersemangat.


"Ra, gue nggak setuju sama rencana Giselle. Ini nggak adil buat Ervin. Lo nggak boleh main-main dengan perasaannya. Lo harus jujur sama dia dan sama diri lo sendiri. Lo harus tunjukin sifat asli lo yang baik dan cantik. Lo nggak perlu balas dendam sama Ervin. Dia nggak salah sama sekali," kata Yudha yang mendengar percakapan mereka.


"Gue nggak minta pendapat lo, Yudha. Ini urusan gue sama Nora. Lo nggak usah ikut campur. Lo cuma pacar gue, bukan penasihat gue," bentak Giselle dengan kesal.


Nora merenungkan rencana Giselle untuk mendapatkan hati Ervin. Ia merasa tidak ada cara yang efektif untuk mendekatinya. Ia tahu Ervin juga pintar, jadi membantunya belajar tidak akan berguna. Ia sudah sering berbicara dengannya, tetapi Ervin tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik. Ia tidak berani memberinya hadiah atau mengajaknya jalan-jalan tanpa alasan yang jelas.


"Lo harus manfaatin status lo sebagai kakak tirinya, Ra. Lo harus kasih dia perhatian lebih dari biasanya. Lo harus cari tahu apa yang dia suka dan benci. Lo harus bikin dia nyaman dan senang sama lo," kata Giselle dengan berapi-api.


"Gis, gue nggak yakin bisa ngelakuin semua itu. Lo nggak takut Ervin malah curiga sama gue?" tanya Nora dengan cemas.


"Ra, lo harus percaya diri dong. Lo kan cantik dan baik hati. Lo pasti bisa bikin Ervin jatuh cinta sama lo. Lagian, gue juga bakal bantu lo kok. Gue punya ide bagus nih," bisik Giselle dengan rahasia.


Giselle mulai menceritakan ide-idenya kepada Nora dengan hati-hati agar tidak didengar oleh Yudha. Ia khawatir Yudha akan menggagalkan rencana mereka karena terlalu baik.


Nora mendengarkan ide Giselle dengan tertarik. Ia merasa ide itu cukup cerdas dan mungkin bisa berhasil. Ia mengangguk-angguk dengan setuju.


"Gue suka ide lo, Gis. Tapi gue butuh bantuan lo buat ngelakuinnya," ucap Nora dengan bersyukur.


"Tenang aja, Ra. Gue bakal atur semuanya. Lo tinggal ikutin aja," janji Giselle dengan memberi isyarat OK.


Yudha yang melihat mereka hanya bisa menghela napas dengan kesal. Ia merasa diabaikan oleh pacar dan sahabatnya. Ia tidak setuju dengan rencana mereka untuk mempermainkan Ervin.


"Sabar aja, Yud. Cewek-cewek emang gitu," gumam Yudha sambil menepuk dada.


...****************...


Nora, Giselle, dan Yudha berjalan menuju kantin untuk makan siang. Namun, di pintu masuk kantin, mereka melihat beberapa orang yang menghalangi jalan mereka. Mereka adalah murid-murid yang tidak suka dengan Ervin, Giovanni, dan Joy karena mereka dianggap aneh dan berbeda.


Giselle yang melihat itu langsung tersenyum licik dan mendorong Nora ke depan.


"Ra, ini kesempatan emas buat lo tunjukin kasih sayang lo ke Ervin. Ayo terobos masuk ke kantin dan selamatkan dia dari para penindas itu," ujar Giselle sambil menepuk pundak Nora.


Nora menoleh ke arah Giselle dengan bingung. Ia tidak tahu apa maksud Giselle dengan perkataannya itu.


"Maksud lo apa?" tanya Nora dengan gerakan bibir saja.


"Lo harus pura-pura jadi pahlawan Ervin biar orang-orang itu takut sama lo dan berhenti ganggu dia," bisik Giselle dengan cepat.


Nora yang mendengar itu langsung menggeleng-geleng kepala dengan kaget. Ia tidak mau berbohong pada Ervin seperti itu. Ia memang sudah ada niat untuk membantu lelaki itu dari awal.


"Ide yang sangat bagus, Gis. Tenang aja dari tadi gue udah mau ngelakuin itu," ucap Nora dengan tersenyum.


"Bagus. Percaya deh, ini cara paling ampuh buat bikin dia sadar kalau lo sayang sama dia," desak Giselle dengan meyakinkan.


Nora masih ragu-ragu untuk mengikuti saran Giselle. Tapi ia melihat Ervin yang sedang dikeroyok oleh orang-orang itu dan ia merasa kasihan. Ia ingin menolong Ervin dari perlakuan tidak adil itu.


"Baiklah, gue coba," ucap Nora dengan pasrah.


Nora berjalan mendekati kerumunan orang-orang itu dengan berani. Ia bertepuk tangan dengan keras agar menarik perhatian mereka.


"Hei! Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian ganggu adek gue?" teriak Nora dengan marah.


"Adek lo? Siapa adek lo?" tanya salah satu dari mereka dengan sinis.


Nora tidak menjawab pertanyaan itu. Ia langsung menarik tangan Ervin dan menariknya ke depan. Ia menatap Ervin dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.


"Ervin, lo baik-baik aja? Lo nggak kenapa-napa, kan?" tanya Nora dengan lembut.


Ervin yang merasakan sentuhan Nora langsung terkejut. Ia menatap Nora dengan tak percaya. Ia tidak mengerti mengapa Nora tiba-tiba bersikap seperti itu.


"Kak, gue baik-baik aja kok. Nggak usah khawatir," jawab Ervin dengan tersenyum tipis.


Nora yang melihat senyum Ervin langsung terpesona. Ia merasa hatinya berdebar-debar. Ia tanpa sadar memeluk Ervin dengan erat.


Semua orang yang melihat itu langsung tercengang. Mereka tidak menyangka Nora akan memeluk Ervin seperti itu. Apalagi Ervin yang juga terkejut dengan pelukan Nora. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Nora melepaskan pelukannya setelah beberapa detik. Ia tersadar bahwa ia telah melakukan sesuatu yang nekat. Ia menatap orang-orang di sekitarnya dengan malu-malu.


"Kalian lihat gelang ini!" ucap Nora sambil mengangkat pergelangan tangan Ervin. Di situ terdapat gelang yang diberikan oleh Nora kepada Ervin sebagai tanda perlindungan dirinya.


"Gelang ini adalah hadiah dari gue buat Ervin. Itu artinya Ervin adalah milik gue seutuhnya. Kalian nggak punya hak buat ganggu dia lagi. Paham?" ucap Nora dengan tegas sambil menunjuk gelang itu.


Orang-orang yang mendengar perkataan Nora langsung diam. Mereka merasa takut dan bersalah. Mereka tidak tahu bahwa Nora akan membela Ervin seperti itu.


"M-maaf, Kak. Kami nggak akan ganggu Ervin lagi," ucap salah satu dari mereka dengan ketakutan.


"Mending kalian cabut dari sini sekarang juga sebelum gue marah," ancam Nora dengan dingin.


Orang-orang itu langsung bubar dan meninggalkan kantin dengan cepat. Mereka tidak mau berurusan lagi dengan Nora dan Ervin.


Nora menghela napas lega setelah berhasil mengusir orang-orang itu. Ia menoleh ke arah Ervin dengan canggung. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan setelah memeluknya seperti itu.


"Ervin, maaf ya gue ngelakuin itu tadi. Gue cuma mau nolong lo dari orang-orang jahat itu," ucap Nora dengan tertawa canggung.


Ervin yang mendengar perkataan Nora hanya bisa tersenyum manis. Ia merasa senang dan bahagia karena Nora mau membela dan memeluknya seperti itu.


"Nggak apa-apa, Kak. Malah gue harus berterima kasih sama lo karena udah ngebantu gue," ucap Ervin dengan jujur.


Nora merasa lega mendengar jawaban Ervin. Ia berharap Ervin tidak marah atau benci padanya karena pelukan itu.


"Tapi, Kak, boleh gue nanya sesuatu?" tanya Ervin dengan penasaran.


"Apa?" tanya Nora balik dengan hati-hati.


"Lo bilang gue milik lo seutuhnya. Itu maksudnya apa?" tanya Ervin menatap Nora dengan tatapan penasaran. Ia ingin tahu apa maksud Nora dengan mengatakan bahwa ia miliknya seutuhnya.


Nora merasa gugup dengan pertanyaan Ervin. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa mengatakan bahwa itu hanya pura-pura untuk mengusir orang-orang yang mengganggunya. Ia juga tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah ungkapan cintanya yang sebenarnya.


"Lo nggak jawab?" desak Ervin dengan penasaran.


Nora menelan ludah dengan susah payah. Ia mencoba mencari alasan yang masuk akal.


"Kan, kita udah jadi kakak adik tiri, Ervin. Jadi, secara tidak langsung, kita udah jadi keluarga. Jadi, gue merasa lo adalah milik gue sebagai kakak lo," jawab Nora dengan berbohong.


Ervin mendengar jawaban Nora dengan kecewa. Ia berharap Nora akan mengatakan sesuatu yang lebih romantis dan menyentuh hatinya. Ia merasa Nora hanya menganggapnya sebagai adik tiri, bukan sebagai pacar.


"Oh, gitu," ucap Ervin dengan datar.


Nora merasakan ada sesuatu yang salah dengan nada suara Ervin. Ia merasa Ervin tidak puas dengan jawabannya.


"Ervin, lo nggak marah kan sama gue?" tanya Nora dengan khawatir.


"Ngga kok, Kak. Gue ngerti kok maksud lo," jawab Ervin dengan pura-pura tersenyum.


Nora merasa lega mendengar jawaban Ervin. Ia berpikir bahwa Ervin sudah menerima alasan dan pelukannya.


"Syukurlah, Ervin. Gye takut lo benci sama aku karna gue ngelakuin itu tadi," ucap Nora dengan senang.


"Ngga lah, Kak. Gue malah senang lo mau ngebela gue dari orang-orang jahat itu," ucap Ervin dengan ikut senang.


Nora dan Ervin saling tersenyum dan berpelukan lagi. Mereka merasa dekat dan nyaman satu sama lain.


Giselle yang melihat adegan itu dari kejauhan langsung bersorak dalam hati. Ia merasa rencananya berhasil dengan sempurna. Ia berpikir bahwa Ervin sudah mulai jatuh cinta satu sama lain.


"Gue hebat banget! Gue berhasil bikin Ervin jatuh dalam pesona Nora! Gue pastikan Nora akan berhasil dalam rencananya!" batin Giselle dengan bangga.


Yudha yang melihat adegan itu dari kejauhan langsung menggeleng-geleng kepala dengan sedih. Ia merasa rencananya gagal total. Ia berpikir bahwa Ervin sudah terjebak dalam permainan Giselle.


"Gue bodoh banget! Gue nggak bisa ngebantu Ra dan Ervin jadi jujur! Gue adalah sahabat terburuk di dunia!" batin Yudha dengan menyesal.