The Unexpected Twist

The Unexpected Twist
Rasa Bersalah Ervin



Nora dan bundanya menghilang tanpa jejak setelah kejadian mengerikan itu. Hanya Ervin yang tahu kemana mereka pergi, tapi ia bersikeras untuk merahasiakannya. Ia tidak peduli dengan dua orang yang terus mendesaknya untuk membocorkan alamat tujuan Nora.


"Kak, gue nggak bisa ngasih tau. Ini permintaan sahabat kakak sendiri. Kalau Kak Giselle sama Kak Yudha mau tau, cari tau sendiri aja. Gue nggak bisa ngasih tau, maaf." Ervin menolak dengan tegas sambil menatap dingin kedua remaja itu.


"Ervin! Gue khawatir sama Nora! Lo harusnya nganterin dia sampai tujuan! Kenapa lo biarin dia naik taksi online?! Lo nggak mikir kalau itu jebakan dari pria brengsek itu?!" Yudha berteriak sambil mendorong Ervin dengan kasar.


Giovanni yang melihatnya segera menarik tangan Yudha dan mendorongnya ke dinding. Ia mencengkeram leher Yudha dengan kuat sambil mendekatkan wajahnya.


"Lo ngomong mulu kayak cewek. Liat pacar lo aja, nggak heboh kayak lo," Giovanni menyindir sambil menunjuk Giselle yang menangis di pojok ruangan.


Yudha meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman Giovanni. Ia merasakan sakit di leher dan tangannya. Ia hanya bisa melampiaskan kemarahannya dengan berkata kasar.


"Anjing, mampus lo!" Yudha berteriak sambil menendang kaki Giovanni.


Giselle yang melihat kakaknya diserang segera berlari ke arah mereka. Ia berusaha melerai pertengkaran mereka sambil menangis.


"Udah, udah, berhenti! Kalian berdua ngapain sih?! Kita harus nyari Nora, bukan malah ribut!" Giselle menjerit sambil menarik tangan Giovanni dan Yudha.


Ervin yang menyaksikan semua ini hanya bisa menggelengkan kepala. Ia heran dengan tingkah laku ketiga temannya itu. Mereka sudah berumur 17 tahun, tapi masih suka bertengkar karena hal sepele. Ia memutuskan untuk meninggalkan mereka dan pulang ke rumahnya.


Ervin berjalan menuju halte bus yang tidak jauh dari sekolahnya. Ia menunggu bus yang akan membawanya pulang. Ia tidak sabar untuk sampai di rumah dan beristirahat. Ia merasa lelah dengan semua masalah yang menimpanya hari ini.


Bus akhirnya datang dan Ervin segera naik ke dalamnya. Ia mencari tempat duduk yang kosong dan duduk di sana. Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk melupakan segalanya.


Setelah beberapa lama, bus sampai di halte terakhir yang merupakan desa tempat Ervin tinggal. Ervin turun dari bus dan berjalan menuju rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter dari halte. Ia berharap tidak ada yang mengganggunya di jalan.


Namun, harapannya pupus saat ia mendengar bisikan-bisikan dari para tetangga yang melihatnya lewat. Mereka mencibir dan menghina Ervin dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Tuh, anak ****** itu! Ibunya suka godain pria kaya! Liat aja nanti bakal diusir sama istri tuanya!"


Ervin mengernyitkan dahinya saat mendengar kata-kata itu. Ia baru sadar bahwa ibunya mungkin sudah mendapatkan incaran baru dari pria kaya. Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi ia yakin bahwa ia pasti sudah menikah.


Ervin berlari dengan cepat menuju rumahnya. Ia ingin memastikan bahwa ibunya masih ada di rumah dan tidak pergi dengan pria itu. Ia tidak mau kehilangan ibunya seperti yang terjadi pada Nora.


Pria yang membantu ibunya adalah pria yang sama yang ia lihat dua hari yang lalu. Pria yang menyakiti istri dan anaknya sendiri. Pria yang baru saja menikah dengan wanita lain.


Ervin tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Pria yang sedang membantu ibunya memasukkan barang-barang ke dalam mobil mewah adalah pria yang sama yang ia lihat menyakiti istri dan anaknya sendiri dua hari yang lalu. Pria yang baru saja menikah dengan wanita lain. Pria yang ternyata adalah ayah dari Nora, sahabatnya yang selalu membantunya dan peduli padanya.


Ervin merasa seperti tersambar petir. Ia tidak menyangka bahwa ibunya akan berbuat seperti ini. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada Nora, gadis yang selalu ada di sisinya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Nora bahwa ibunya adalah wanita yang merusak rumah tangga orang tuanya.


"Kamu? Bukankah kamu itu teman dari putri saya yang datang menjemput Rayna dua hari yang lalu?" Pria itu bertanya dengan heran sambil mengerutkan kening.


Ervin hanya bisa tersenyum pahit. Ia ingin kabur dari sana, tapi ibunya menahan tangannya. Ibunya adalah Gendis Ayu Cemara, wanita berusia 31 tahun yang memiliki tubuh langsing dan tinggi. Ia selalu memperhatikan penampilannya dan mengenakan pakaian yang menonjolkan kecantikan dan kemewahan. Ia memiliki rambut panjang yang diwarnai pirang, mata cokelat, hidung mancung, dan bibir merah. Ia suka memakai perhiasan dan aksesori yang mahal dan mencolok. Wanita yang dianggap wanita murahan oleh warga desa.


"Stop, Ma! Ervin nggak mau lagi mama kayak gini! Kalau pengen hidup enak jangan kayak gini, Ma! Mama kayak gini bikin Ervin malu sama nggak enak sama Kak Nora! Dia orang yang selalu bantu putra Mama selama di sekolah tapi ... mama hancurin kepercayaan dia sama Ervin!" Ervin berteriak dengan marah sambil meneteskan air mata.


Para warga desa yang mendengar itu segera bergosip. Mereka menatap Gendis dengan sinis dan jijik. Mereka sudah muak dengan ulah Gendis yang selalu membuat masalah di desa mereka. Mereka tidak tahan melihat wajah tebal Gendis yang tidak punya rasa malu.


Pria itu segera menarik Gendis ke sampingnya dan berkata, "Ervin, kamu tidak boleh seperti itu kepada Mama kamu."


"Oh, begitu? Lalu Om sama Mama sebagai orang dewasa boleh menyakiti kami yang merupakan anak tidak bersalah? Om sepertinya sudah tidak waras karena mau meninggalkan Bunda dari Kak Nora yang merupakan Direktur perusahaan arsitektur demi Mama saya yang tidak memiliki pekerjaan apapun hanya tahu menghabiskan uang. Otak Om yang tidak waras karena sudah menyakiti dua wanita yang menyayangi Om!" Ervin melontarkan kata-kata pedas sambil menunjuk wajah pria itu.


Ervin ingin mengatakan lebih banyak lagi, tapi ia terdiam saat melihat dua orang remaja keluar dari rumahnya dengan wajah bingung. Mereka adalah Rama Sunnie Shawn dan Juliana Daisy Rayne, adik kembar Ervin yang paling ia sayangi. Mereka masih bersekolah di kelas 7 SMP. Mereka memiliki sifat yang berbeda-beda.


Rama adalah anak yang nakal dan suka membuat masalah. Ia mirip dengan ibunya dalam hal menyukai uang dan kemewahan. Ia tidak peduli dengan perasaan orang lain.


"Biarin aja, sih, Bang. Lagian lumayan kita dapat uang saku lebih banyak," Rama berkomentar dengan acuh tak acuh.


Daisy adalah anak yang baik dan sopan. Ia mirip dengan kakaknya dalam hal tidak toleran terhadap perbuatan ibunya. Ia selalu berusaha untuk menjaga nama baik keluarganya.


"Jangan gitu, Bang Rama! Perbuatan Mama salah masih aja didukung," Daisy protes dengan kesal.


Ervin merasa tidak berdaya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah dan berharap Nora tidak membencinya.


"Maaf, Nora," Ervin berbisik sambil menatap langit yang cerah.