
Yudha merasakan tarikan kuat di lengannya. Dia menoleh dan melihat tatapan penuh kebencian dari papanya. Tatapan yang selalu ditujukan padanya setiap kali dia melakukan kesalahan. Pesta ulang tahun perusahaan papanya hari ini harus dibubarkan begitu saja karena aksi nekatnya.
Papanya menyeretnya menuju kamar hotel yang awalnya disewa untuk para tamu. Namun, karena kejadian tadi, semua uang yang dikeluarkan papanya menjadi sia-sia. Dia tidak peduli dengan protes dan tangisan Yudha yang merintih kesakitan.
"Sakit, Pa. Tolong jangan siksa Yudha lagi!" pinta Yudha dengan berlutut juga menggosok kedua telapak tangannya. Air matanya mulai terjatuh karena ketakutan.
Yudha menggeleng lemah sambil menunduk. Air mata sudah membasahi pipinya yang pucat. Dia takut melihat mata papanya yang menyala-nyala. Apalagi ketika dia melihat cambuk hitam yang tersembunyi di balik jas papanya.
Yudha hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sebentar lagi ia kembali merasakan sakit. Ia harus menahan teriakan juga sambil menghitung, jika tidak dirinya akan kembali mendapat siksaan dari awal.
Di dalam kamar, papanya menutup pintu dengan keras lalu menunjuk wajah Yudha dengan jari telunjuknya. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan yang tak tertahankan. "Kamu tahu apa kesalahan kamu?" tanyanya dengan suara menggelegar.
Yudha menggelengkan kepalanya. Wajahnya menunduk agar tidak ketahuan menangis lagi. Ia takut papanya akan semakin marah besar karena melihatnya menangis juga ketakutan.
Papanya berjongkok dengan tujuan menatap dirinya. Tangan sang papa mencengkeram keras tengkuknya lalu mengarahkan kepadanya sehingga bisa menatap matanya. Pria paruh baya itu berdecih dengan menepuk-nepuk pipi Yudha menggunakan cambuk miliknya.
"Kesalahan kamu karena tidak bermain musik dengan baik, bahkan kalah dengan anak gadis!" ujarnya sambil menepuk-nepuk pipi Yudha dengan cambuknya.
Yudha merasakan sakit di pipinya yang terasa panas. "Itu .... Papa juga tahu bukan jika Nora sudah bermain musik dari TK. Ayahnya sendiri yang mengajarkan dia," jawab Yudha dengan tubuh gemetar. Ia sangat takut jawabannya membawa petaka bagi dirinya sendiri.
Jawabannya itu langsung mendapat balasan cambukan di punggungnya. Yudha meringis dan menahan teriakan. Dia sudah terbiasa dengan siksaan ini. Tapi itu tidak membuatnya menjadi kebal. Setiap kali cambuk itu menyentuh kulitnya, dia merasakan luka baru di hatinya.
"Itu salah kamu karena tidak bisa mengalahkan dia! Kamu juga membuat saya mengeluarkan banyak uang untuk les musik, tetapi kamu tetap tidak bisa!" bentak papanya tanpa ampun.
Yudha cuman diam dengan mata berkaca-kaca. Ia menahan rasa sakit sendirian. Sekarang tidak ada yang bisa membantunya karena hotel ini sudah sepi sejak kejadian tadi. Malam ini nasibnya untuk tersiksa.
"Ssshh .... sakit, Pa." Yudha memohon dengan suara lirih.
Papanya tidak menghiraukan permohonannya. Dia malah menambah keras cambukannya. "Kamu juga membuat saya kesal. Apakah kamu tidak bisa membuat suami Nyonya Rayna pergi dengan memanfaatkan putrinya? Kedatangan dia membuat saya rugi besar! Bagaimana nasib perusahaan saya, hah?!"
Yudha hanya diam dengan menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa melakukan hal itu. Semua itu sama sekali tidak berada dalam kuasa. Ia bahkan tidak tahu jika ayah Nora bisa bertindak seperti itu kepada keluarganya sendiri. Awalnya ia dan Giselle sendiri iri dengan Nora karena yang mereka tahu Nora mempunyai keluarga harmonis. Kenyataannya Nora menyimpan semua masalah sendirian. Gadis itu benar-benar sangat kuat.
"Tidak bisa menjawab! Baik, jika begitu hitung dari satu jangan sampai ada yang lupa! Jika tidak ulang dari awal!"
Yudha mulai menghitung dengan air keringat yang mengalir. Keringat tersebut tercampur air matanya.
"Kamu ini suka sekali membuat saya marah!Kenapa kamu tidak bisa seperti Giovanni dan Nora yang selalu membawa prestasi untuk sekolah?! Kamu juga apa tidak bisa seperti kakakmu itu yang selalu membuat saya bangga, hah?! Selain, beban buat saya kamu bisa apa?!"
Yudha tertawa miris di dalam hati. Dia sudah bosan dibanding-bandingkan dengan orang lain. Dia merindukan kakaknya yang sudah lama pergi dari rumah ini. Dia ingin ikut bersamanya dan meninggalkan papanya yang kejam ini. Rasanya ia ingin menyerah lalu menyusul mamanya yang telah pergi meninggalkan dirinya menuju sang pencipta. Mengapa Tuhan begitu jahat padanya dan teman-temannya? Apa salah mereka sehingga harus menderita seperti ini?
...****************...
Nora menatap dingin ayahnya yang menyodorkan sebuah undangan pernikahan padanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia memukul meja makan dengan keras hingga membuat suara berdentum. Seketika paginya menjadi buruk. Ia sudah tidak ingin makan lagi.
"Bunda, Nora pamit dulu!" pamit Nora dengan mencium pipi bundanya. Dia bergegas pergi tanpa menghiraukan ayahnya yang mencoba memanggilnya.
"Hati-hati di jalan! Minta Mamang jangan bawa cepat-cepat!" teriak Rayna dengan melambaikan tangannya.
Nora berjalan menuju garasi. Ia mengambil sebuah mobil merah kesayangannya. Ia hanya ingin sendirian menuju perjalanan ke sekolah walaupun tampaknya bundanya tidak terlalu mengetahui hal ini.
Selama di jalan, dia tidak bisa menikmati pemandangan sekitarnya. Pikirannya masih terbayang-bayang kejadian semalam. Dia hampir saja menabrak motor di depannya karena lengah.
Saat sampai di sekolah, dia memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia melihat banyak orang yang membicarakan keluarganya dengan sinis. Tapi dia tidak peduli dengan mereka. Dia sudah terbiasa mendengar gosip-gosip itu.
"Gue nggak nyangka. Kasian banget Nora pasti dia nggak jadi keluarga kaya lagi, Haha."
"Lo salah ngomong! Justru bokap dia parasit dalam keluarga. Kabar ini baru aja ketauan kalau bokap Nora itu pengangguran sama pria hidung belang!"
"Iya, gue denger gitu. Yang kaya itu nyokap sama keluarga nyokap dia! Bokap dia itu cuman beban."
Nora tidak terlalu memperdulikan hal ini sama sekali. Memang benar adanya pria itu merupakan sebuah parasit dalam keluarganya. Jika bukan karena bundanya yang selalu mempertahankan ayahnya. Ia akan memastikan pria itu akan tidak bisa tahan hidup di kota ini.
Nora yang sudah bosan mendengar gosip. Alhasil ia memilih keluar dari mobil. Orang-orang yang melihatnya keluar dari mobil seketika terkejut. Mereka mungkin tidak pernah akan menyangka dirinya akan menyetir mobil sendirian karena dirinya sering menggunakan supir. Namun, mereka mungkin lebih terkejut karena takut pembicaraan sampai ke telinganya.
Waktu ia berjalan orang-orang hanya menatapnya. Orang-orang itu tidak ada yang berani membicarakan tentang dirinya. Ia bisa berjalan dengan santai menuju kelasnya tanpa terganggu akan gosip.
Sampai di dalam kelas, ia telah disambut oleh Giselle yang menatapnya dengan sendu. Gadis itu membawa dirinya ke dalam pelukannya. Gadis itu tiba-tiba menangis yang membuatnya tersenyum begitu saja.
Namun, yang membuatnya terkejut Yudha dengan wajah pucat ikut menangis di depannya. Lelaki itu juga ikut menangis. Tangisan yang tidak pernah diperlihatkan kepada Nora dan teman sekelasnya, kecuali Giselle dan papanya. Ketiga sahabat itu terus berpelukan dengan menangis bersama, kecuali Nora yang hanya tersenyum dengan mengelus punggung kedua sahabatnya. Ia tahu jika semua ini sangatlah berat bagi mereka.
Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca lalu menangis tersedu-sedu. "Nora kalau lo ada masalah jangan kayak gini! Lo bisa aja curhat ke gue! Lo selama ini anggap gue apa?!" ujarnya dengan nada marah dan sedih.
Nora tersenyum lembut sambil membalas pelukan Giselle. Dia merasa beruntung masih punya sahabat seperti dia. Tapi dia terkejut ketika Yudha juga ikut memeluknya dari belakang. Lelaki itu menangis dengan isak tangis. Wajah dan hidungnya merah karena menahan sakit. "Nora .... maaf nggak bisa lindungi lo sebagai sahabat cewek satu-satunya," bisiknya dengan suara lirih.
Nora merasakan sesak di dadanya. Dia tahu betapa beratnya hidup Yudha yang selalu disiksa oleh papanya. Dia juga tahu betapa rapuhnya hati Giselle yang selalu tidak diperdulikan oleh kakaknya. Mereka bertiga sama-sama menderita, tapi mereka selalu saling mendukung.
Nora tertawa kecil lalu berkata, "Nggak papa gue punya kalian aja udah bersyukur. Lain kali gue bakal lebih terbuka sama kalian."
Mereka bertiga tersenyum sambil masih berpelukan. Penghuni kelas hanya bisa diam sambil menahan tangisan. Mereka merasa iba dengan nasib ketiga sahabat itu. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan penderitaan seperti itu. Rasanya hari ini cukup mengharukan juga menyedihkan. Masa yang sangat berat sering mereka alami, tetapi tidak bisa menceritakan kepada siapapun karena rasa takutnya itulah seorang remaja.