
Nora tidak berangkat sekolah seperti biasa pada pagi itu. Ia memilih untuk mengunjungi tempat yang selalu memberinya ketenangan. Tempat di mana ia bisa bermain dengan anak-anak terlantar yang menganggapnya sebagai kakak. Ia merasa bersyukur masih memiliki bunda yang sangat mencintainya, meskipun hidup keluarganya tidak seindah yang orang-orang kira.
Panti asuhan itu tampak seperti sebuah rumah impian di tengah taman yang hijau dan rimbun. Dindingnya putih bersih, atapnya merah menyala, dan jendela-jendelanya besar dan cerah. Di atas pintu masuk, terpampang tulisan “Rumah Kasih Sayang” yang terbuat dari kayu berukir indah. Di halaman belakang, terdapat berbagai permainan yang selalu dipenuhi oleh suara tawa anak-anak.
Nora memasuki panti asuhan dengan membawa beberapa makanan yang ia beli di jalan. Ia disambut oleh anak-anak yang berlari ke arahnya dengan wajah gembira. Mereka memeluk Nora erat-erat dan menariknya untuk masuk ke dalam.
"Kak Nora! Lama banget nggak ke sini, sih. Kan, kami jadi kangen," ujar salah satu anak dengan mata berbinar-binar.
"Maaf, ya, akhir-akhir ini kakak lagi sibuk. Nanti kakak bakal sering ke sini, deh." Nora menjawab sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
Anak-anak itu mengaitkan jari kelingking mereka dengan jari Nora sebagai tanda janji. Mereka lalu mengajak Nora untuk bermain bersama mereka. Mereka bermain petak umpet, masak-masakan, dan lain-lain. Nora menikmati setiap momen yang ia habiskan bersama mereka.
Di sini, ia bisa melupakan sejenak masalah yang menimpanya di rumah. Di sini, ia bisa merasakan kebahagiaan yang murni dan tulus dari anak-anak yang tidak memiliki apa-apa selain kasih sayang.
"Mereka sangat senang waktu kamu datang. Sebenarnya waktu kamu tidak ada mereka selalu murung," kata ibu panti yang melihat Nora dari kejauhan.
"Iya, Bu. Nora juga bahagia bisa main bareng mereka. Mereka selalu saja membuat Nora tertawa bareng," balas Nora dengan senyuman hangat.
Ibu panti tersenyum melihat raut wajah Nora yang berseri-seri, meskipun ia tahu itu hanya sebuah topeng. Wanita tua itu mendekati Nora dan menepuk pundaknya dengan lembut.
"Ibu tahu kamu sedang mendapatkan masalah. Jika kamu sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ingin berbagi. Ibu bisa menjadi pendengar yang baik," ucap ibu panti dengan suara lembut.
Nora hanya tersenyum tipis. Ibu panti memang selalu tahu bagaimana perasaannya. Sebenarnya kebahagiaan itu sangatlah rapuh bagi Nora. Ia hanya ingin semua orang bahagia, terutama sang bunda.
"Ibu juga tahu apa masalah yang Nora hadapi," lanjut Nora dengan memeluk tubuh ibu panti yang sangat hangat baginya. Hal yang sangat jarang ia lakukan dengan sang bunda, karena bundanya selalu saja dilanda sedih sehingga membuatnya ragu.
"Ibu tidak bisa kasih kamu saran karena mungkin saja bunda kamu punya alasan yang jelas. Kita sebagai anak tidak ada yang pernah tahu apa yang pernah dialami mereka di masa lalu juga masalah dan penyesalan mereka. Kita sebagai anak hanya bisa menasihati bukan memaksakan kehendak diri sendiri," kata ibu panti dengan bijaksana.
Nora yang mendengar hanya diam. Pikiran-pikiran negatif yang ada di otaknya mulai menghilang. Ia merasa bersalah sudah mengatakan kata sensitif yang tidak disukai sang bunda. Mungkin habis ini ia akan meminta maaf kepada sang bunda.
Nora melepaskan pelukannya kepada ibu panti. Ia tersenyum sangat manis hanya beliau yang bisa menghilangkan rasa kekhawatiran dirinya di saat hatinya sudah salah arah. Memang hanya ibu panti yang bisa menyelesaikan masalahnya.
"Terima kasih, Bu. Selama ini cuman Ibu yang bisa kasih pengertian ke Nora," ucap Nora dengan tersenyum sangat lebar.
Ibu panti hanya mengangguk pelan dengan tersenyum hangat. Ia menatap pakaian Nora yang mengenakan seragam sekolah. Ia menggelengkan kepalanya dengan tertawa kecil.
"Kamu tidak pergi sekolah lagi? Nora jika kamu pengen datang ke sini habis sekolah saja, ya. Kamu seharusnya bersyukur masih bisa bersekolah dengan tinggi."
"Maaf, Bu. Nora cuman berencana sekolah tapi datangnya lebih lambat," jawab Nora dengan meringis pelan.
"Iya, lain kali jangan mengulangi. Kasihan orang tua kamu yang sudah banting tulang untuk menyekolahkan kamu."
Nora mengangguk kepalanya dengan pelan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan kencang. Ternyata hanya sebuah panggilan telepon dari Yudha. Ia mengangkat panggilan telepon dengan seadanya.
"Halo, tumben banget lo telpon gue."
"..."
"Hah?! Iya-iya ini gue otw ke sekolah."
"Jangan nakal, ya! Buat Ibu bangga sama kalian. Kakak pergi dulu, ya. Soalnya ada masalah yang harus kakak urus," pamit Nora dengan berlutut di atas rumput. Ia membuka lebar tangannya disambut pelukan hangat oleh anak-anak.
"Tapi kakak nanti bakal ke sini lagi, kan?"
"Iya, kakak nanti ke sini lagi, kok. Kan, kakak udah janji sama kalian," jawab Nora dengan tersenyum manis. "Kalau gitu kakak pergi dulu, ya."
Anak-anak panti melambaikan tangannya dengan berteriak, "Dadah, kakak cantik!!"
...****************...
Nora masuk ke dalam sekolah, tetapi harus melewati guru pengawas untuk memberitahukan jika dirinya bukan terlambat melainkan izin telat masuk ke sekolah. Saat diizinkan ia segera berlari menuju ruangan BK. Ia mengetuk pintu dengan napas tersengal.
"Masuk!"
Di dalam terlihat ada Yudha dengan Giovanni yang berdiri juga guru BK yang menatap tajam. Di kursi terlihat beberapa anak yang terluka begitu juga Ervin yang tengah duduk. Lelaki itu tampak berantakan juga terluka seperti yang lain.
Nora berjalan dengan menundukkan tubuhnya saat guru mengamati dirinya. Ia berjalan mendekat kepada Ervin yang cuman menundukkan wajahnya. Ia mengangkat kepala Ervin yang berdarah juga ujung bibir lelaki itu yang tampak robek.
"Kenapa bisa gini, Vin? Mereka bully lo lagi?" tanya Nora dengan suara yang sangat lembut.
"Kita mana ada bully dia! Dia aja yang tiba-tiba nyerang cewek kita!" Salah satu orang yang duduk di sana tampak menyuarakan kebenaran.
Nora menatap mata Ervin yang menolak tatapannya. Ia hanya menghela napas panjang setidaknya bersyukur Ervin masih bisa melawan orang, tetapi ia tidak tahu pasti apa alasannya. Ia melihat lelaki itu tampak menatap lelaki lain dengan tajam.
Nora segera membawa tubuh Ervin ke dalam pelukannya. Kepala Ervin tampak bersandar di perutnya. Ia mengelus rambut Ervin agar membuatnya menjadi tenang. Hal itu terus ia lakukan sampai napas lelaki itu jadi tenang.
"Apa yang dia ngomongin itu bener, Vin?" tanya Nora dengan tenang agar tidak membuat lelaki itu merasa disudutkan.
Ervin menganggukkan kepalanya di dalam pelukannya berkata, "Gue nggak suka sama mereka, Kak. Mereka semua ngehina kakak waktu lo nggak ada di sekolah."
Nora tertegun bahkan elusan lembut di rambut Ervin terhenti. Ia menatap ke arah tiga cewek dengan dua cowok yang tengah duduk di samping Ervin. Ia menghela napas panjang sebenarnya ia tidak memperdulikan perkataan mereka. Pada dasarnya munafik merupakan sifat alami manusia.
"Ervin nggak perlu dengerin omongan mereka. Sekarang urusannya udah selesai," ucap Nora dengan tersenyum manis. "Hukuman buat Ervin saya juga akan ikut menjalankan, Pak."
Ervin menatap Nora dengan tidak percaya. Giovanni juga Yudha hanya menatap satu sama lain lalu menjauh satu sama lain. Mereka hanya tidak mempercayai ucapan Nora.
"Tapi ..."
"Gue nggak suka penolakan," sela Nora dengan mengelus pipi lelaki itu.
Sang guru hanya berdeham kecil dengan menatap tajam mereka berkata, "Hukuman kalian adalah menyapu halaman koridor kelas sebelas yang akan diawasi langsung oleh Yudha juga Gio."
Nora mengangguk-angguk kepalanya pelan. Ia menarik tangan Ervin untuk berdiri tidak lupa berterima kasih kepada gurunya.
"Semangat banget," cibir Giovanni dengan memutar matanya.