
Nora merasakan dinginnya malam di wajahnya. Ia menatap bundanya yang tersenyum sendu di samping ayahnya yang baru saja datang. Ayahnya yang selalu membuat kekacauan di rumah, yang selalu menyakiti bundanya, yang selalu membuat Nora membenci hidupnya. Nora tidak tahan lagi melihat penderitaan bundanya. Ia memasang headset di telinganya, mencoba menghilangkan suara-suara yang mengganggu pikirannya. Ia mencoba menenangkan diri dengan mendengarkan musik dan menulis catatan harian.
Ia tidak peduli lagi dengan urusan rumah tangganya. Itu kata-kata bundanya sendiri. Tapi apakah bundanya benar-benar bahagia? Apakah bundanya tidak merindukan cinta dan kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari suaminya? Apakah bundanya tidak ingin hidup normal seperti keluarga lain?
Nora menoleh ke arah Giselle dan Yudha, sahabat-sahabatnya yang selalu ada untuknya. Mereka juga tampak khawatir dengan keadaan Nora dan bundanya. Mereka masih tidak tahu betapa Nora membenci ayahnya, betapa Nora ingin melarikan diri dari rumah ini, betapa Nora ingin hidup bebas dan bahagia.
Tapi malam ini, semua harapan itu sirna. Kedatangan ayahnya membawa malapetaka bagi mereka semua. Ayahnya yang tiba-tiba menampar bundanya di depan banyak orang, tanpa alasan yang jelas. Ayahnya yang membuat aib keluarga mereka terbongkar di depan publik. Ayahnya yang membuat mereka menjadi bahan gosip dan sensasi media.
Nora melihat para wartawan yang berkerumun di sekitar bundanya, yang menyerbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan dan tidak penting. Nora merasa jijik dan marah dengan perilaku mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keluarga mereka, tentang rahasia-rahasia yang disembunyikan di balik kemewahan dan kekayaan mereka. Mereka hanya ingin mengeruk untung dari penderitaan orang lain.
Nora melepaskan headsetnya dengan geram. Ia tidak bisa membiarkan bundanya diserang seperti itu. Ia harus membela bundanya, ia harus melindungi bundanya, ia harus menyelamatkan bundanya.
Ia berjalan dengan cepat menuju kerumunan wartawan, mendorong mereka dengan kasar. Ia berdiri di depan bundanya, melingkarkan tangannya di pinggang bundanya, menatap para wartawan dengan tatapan dingin dan tajam.
"Selamat malam, Nona Nora," sapa salah seorang wartawan dengan nada manis. "Saya dari Majalah Gossip. Apakah Anda bisa memberi komentar tentang insiden yang baru saja terjadi? Apa yang menyebabkan ayah Anda menampar ibu Anda? Apakah ada masalah dalam rumah tangga Anda?"
Nora menggigit bibirnya, merasakan amarah dan kesedihan yang bercampur di dadanya. Ia ingin sekali melampiaskan perasaannya, tapi ia tahu itu hanya akan membuat situasi semakin buruk. Ia menarik napas lagi, lalu menjawab dengan nada dingin.
"Maaf, saya tidak akan memberi komentar apapun tentang hal itu," ucap Nora singkat. "Itu adalah urusan pribadi keluarga saya dan saya tidak ingin media mengintervensinya. Saya harap Anda menghormati privasi kami dan tidak menyebarkan berita yang tidak benar atau fitnah."
"Tapi Nona Nora," desak wartawan itu lagi. "Publik berhak tahu tentang kehidupan pribadi tokoh-tokoh publik seperti Anda dan ibu Anda. Apakah Anda tidak takut reputasi ibu Anda tercemar karena ulah ayah Anda? Apakah Anda tidak marah atau sedih dengan perlakuan ayah Anda?"
Nora merasa kesabarannya habis mendengar pertanyaan-pertanyaan yang semakin menjurus ke arah gosip dan sensasi. Ia menatap tajam wartawan itu, lalu berkata dengan suara keras dan jelas.
"Cukup!" bentak Nora. "Saya sudah bilang saya tidak akan memberi komentar apapun tentang hal itu. Ini adalah urusan keluarga saya dan saya tidak ingin media ikut campur. Saya juga ingin mengingatkan Anda bahwa ada pasal hukum yang melindungi hak privasi warga negara dan melarang media untuk menyebarkan berita tanpa izin pihak terkait atau menyebarkan berita gosip yang merugikan orang lain. Jika Anda melanggar pasal tersebut, saya tidak segan-segan untuk melaporkan Anda ke pihak berwajib. Sekarang, tolong tinggalkan saya dan jangan ganggu kami lagi!"
Perkataan dari Nora membuat para wartawan merasa kecewa karena tidak bisa menerbitkan berita yang panas. Mereka mundur dengan perlahan, masih mencoba mendapatkan gambar atau rekaman dari Nora dan bundanya.
Nora membantu bundanya berdiri, dibantu oleh Giselle yang menggandeng tangannya. Yudha dan Giovanni juga ikut turun dari panggung untuk membantu mereka keluar dari kerumunan wartawan. Mereka melihat beberapa rekan dan klien wanita yang mencoba menenangkan Rayna, bunda Nora, yang terlihat menangis.
Satria, ayah Nora, yang melihat semua itu hanya tertawa saja. Ia mendekatkan diri ke arah media dengan membawa beberapa undangan di tangan. Ia memberikan undangan itu kepada para wartawan, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Ia tersenyum lebar, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan santai.
"Saya sangat kecewa kepada Rayna. Dia selalu saja menghina saya hanya karena waktu itu dipecat dari pekerjaan. Dia menganggap saya seseorang beban. Padahal dulu saya yang selalu mendukung dia waktu keluarganya tidak menyukai cita-citanya sehingga sampai sukses. Saya juga yang memberikan uang kuliah sampai lulus bukankah dia terlalu angkuh juga sombong sampai melupakan orang yang mendukungnya," dalih Satria dengan menghela napas panjang.
Para media yang melihat seketika tidak hanya diam. Mereka mulai memberikan berbagai macam pertanyaan yang membuat Nora kesal. Gadis itu menghirup udara berkali-kali mencoba untuk tenang dan tidak terlihat gila. Ia berjalan menghampiri sang ayah dengan tatapan ingin membunuh.
Namun, belum sampai mendekati ayahnya. Ayahnya melemparkan beberapa undangan ke udara yang membuat beberapa media berebut. Nora mengambil sebuah undangan yang berada di bawah kakinya.
Yudha yang melihat hal itu segera menahan tubuh Nora agar tidak jatuh. Gadis itu terlihat gemetar melihat undangan pernikahan miliknya ayahnya. Orang-orang yang melihat selain media hanya diam. Mereka sama sekali tidak ingin ikut campur dalam permasalahan kali ini.
Nora berjalan menuju sebuah meja yang berisikan sebuah lilin menyala. Nora merasakan panasnya api yang membakar undangan pernikahan ayahnya. Ia melihat kertas itu berubah menjadi abu di atas meja, seolah-olah melambangkan akhir dari hubungan keluarga mereka. Ia tidak peduli dengan tatapan terkejut dan heran dari para tamu yang menyaksikan aksinya. Ia tidak peduli dengan cemoohan dan hinaan dari media yang mengabadikan momen itu. Ia hanya peduli dengan bundanya, yang terlihat pucat dan lemah di sampingnya.
Nora menarik tangan bundanya, membawanya keluar dari ruangan pesta. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, dari tempat yang hanya membawa kenangan buruk bagi mereka. Ia ingin membawa bundanya ke tempat yang lebih tenang dan damai, tempat di mana mereka bisa melupakan semua masalah mereka.
Ia melirik ke arah ayahnya, yang berdiri di panggung dengan senyum licik di wajahnya. Ayahnya yang tidak pernah sayang kepada mereka, yang tidak pernah menghargai bundanya, yang tidak pernah bertanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ayahnya yang selalu berselingkuh dengan wanita lain, yang selalu memperlakukan bundanya dengan kasar, yang selalu membuat Nora membenci dirinya sendiri.
Ayahnya yang baru saja menampar bundanya di depan banyak orang, tanpa alasan yang jelas. Ayahnya yang baru saja mengumumkan pernikahannya dengan wanita lain, tanpa memikirkan perasaan bundanya. Ayahnya yang baru saja menghancurkan harapan Nora untuk hidup bahagia bersama bundanya.
Nora merasa jijik dan marah kepada ayahnya, lebih dari sebelumnya. Ia ingin meludahi wajah ayahnya, ia ingin menampar balik ayahnya, ia ingin membunuh ayahnya. Tapi ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ia tahu itu hanya akan membuat ayahnya semakin senang melihat penderitaan mereka.
Nora menahan tangisnya, lalu berkata dengan suara lantang dan tegas.
"Saya Nora Rachel Shopia bersama Rayna Grace Dahlia tidak akan pernah menerima dan melupakan kejadian hari ini," kata Nora dengan nada dingin. "Kami tidak menerima pernikahan ini dan tidak akan hadir dalam semua acara, sehingga bisa dikatakan pernikahan keduanya Anda tidak sah dimata hukum!"
Setelah mengatakan hal itu, Nora menarik bundanya untuk pergi dari pesta. Nora tidak lupa berpamitan dengan para penyelenggara pesta dan tamu lain dengan sopan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Yudha, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Yudha sempat menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang, tapi Nora menolaknya dengan halus.
Selama di perjalanan, bundanya terus menangis tersedu-sedu di kursi penumpang. Nora menyetir mobil dengan hati-hati, sambil menepuk-nepuk pundak bundanya dengan lembut. Ia mencoba menenangkan bundanya dengan berkata-kata manis dan menyanyikan lagu-lagu kesukaan bundanya.
Nora sangat mencintai bundanya, satu-satunya orang yang selalu mendukung dan menyayangi Nora tanpa syarat. Nora sangat sedih melihat bundanya menderita karena ulah ayahnya. Nora sangat marah kepada ayahnya karena telah menyakiti bundanya.
Nora ingin membuat bundanya bahagia, meskipun hanya sebentar. Ia ingin membawa bundanya ke tempat favorit mereka berdua, taman bermain di pinggir kota. Ia ingin bermain bersama bundanya di sana, seperti saat Nora masih kecil. Ia ingin melihat senyum dan tawa bundanya lagi.
Tapi sepertinya harapan itu sia-sia. Bundanya terlalu bersedih untuk bisa tersenyum atau tertawa lagi. Bundanya tertidur di bangku taman, dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Bundanya bermimpi buruk tentang ayahnya, dengan tubuh yang bergetar dan bibir yang berbisik.
Nora menatap bundanya dengan sayang, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. Ia berharap bundanya bisa tidur nyenyak dan bermimpi indah. Ia berharap bundanya bisa bangun dengan perasaan lebih baik. Ia berharap bundanya bisa melupakan ayahnya dan hidup bahagia bersama Nora.
Nora menatap ke atas langit, melihat bintang-bintang yang bersinar di kegelapan. Ia mengangkat tangannya, seolah-olah ingin menyentuh bintang-bintang itu. Ia berdoa kepada Tuhan, memohon agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi masalah ini. Ia berdoa kepada Tuhan, meminta agar diberi kebahagiaan dan kedamaian untuk dirinya dan bundanya.
Nora meneteskan air mata, lalu tersenyum sendiri. Ia tahu hidup ini tidak mudah, ia tahu hidup ini penuh penderitaan. Tapi ia juga tahu hidup ini penuh harapan, ia juga tahu hidup ini penuh cinta. Ia tidak akan menyerah, ia tidak akan putus asa. Ia akan terus berjuang, ia akan terus bersinar.
"Sampai kapan bunda mau menderita? Nora capek liatnya," gumam Nora menatap bundanya dengan menghela napas.