
Nora mengangkat teleponnya dengan hati-hati. Ia menempelkan jarinya di bibirnya, meminta teman-temannya untuk diam. Ia hanya menunggu bagaimana lelaki itu akan memulai pembicaraan, walaupun ia tahu pembicaraan itu mungkin akan membuatnya marah.
"Cepat ngomong, jangan basa-basi!" bentak Nora dengan kesal.
"Haha, iya. Kamu sama sekali nggak bisa diajak bercanda. Hari ini pernikahan kami, lalu saya harap kamu bisa datang," kata lelaki itu dengan santai.
Nora tertawa sinis dengan memijat pelipisnya. Pria brengsek itu masih tidak tahu malu untuk mengundang dirinya, setelah adanya penolakan kasar olehnya malam itu. Ia berharap pernikahan itu akan berakhir buruk bagi mereka berdua.
"Kamu yakin nggak mau datang?" tanya lelaki itu lagi.
Ayahnya mulai mengajaknya melakukan panggilan video. Ia mengarahkan ponselnya kepada seorang wanita yang menangis tersedu-sedu. Wanita itu terduduk di lantai dengan menatap ke arah kamera. Wajahnya terlihat memohon dan berteriak agar tidak melanjutkan pernikahan.
Nora yang melihat seketika tersenyum palsu. Ia berdecak kagum dengan bertepuk tangan, walaupun sebenarnya ia sangat emosi dan ingin membunuh lelaki itu sekarang. Apalagi bundanya yang terlihat mengemis akan cinta kepada ayahnya yang brengsek. Ia sangat tidak menerima hal ini.
"Tuan Satria, Anda sangat brengsek. Demi wanita itu, Anda memperlakukan Bunda saya layaknya budak uang. Padahal jika dilihat dari mana pun, Bunda saya lebih sempurna. Anda akan menyesal karena memilih batu kerikil yang berasal dari lumpur, dibandingkan berlian yang berkilau indah di mata orang lain," ucap Nora dengan suara lantang yang mungkin bisa didengar oleh teman-temannya.
"Haha, saya tunggu kedatangan kamu," kata lelaki itu dengan cuek.
Nora menatap layar ponselnya dengan sangat kesal. Ia mengangkat ponselnya ke atas, tapi sebelum ia bisa melemparnya, ada seseorang yang mencegahnya. Giselle, teman baiknya, merampas ponselnya dan mematikannya.
"Gue pulang duluan," pamit Nora dengan beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya.
"Giselle, lo pulang dulu ya. Gue mau nyusul Nora, takutnya dia nekat," celetuk Yudha dengan berlari menyusul Nora.
Yudha melihat Nora yang tampak menelepon seseorang di depan taman. Gadis itu terlihat gelisah juga marah secara bersamaan. Nora tampaknya sedang menunggu kedatangan supirnya.
Yudha menarik tangan sahabatnya. Ia membawa gadis itu menuju parkiran taman. Ia memberikan sebuah helm yang membuat Nora agak kebingungan.
"Gue bakal nganter lo. Gue nggak tega liat lo sedih kayak gini," ucap Yudha dengan simpati. "Ayo naik ke motor gue!"
Nora ingin naik, tetapi sebelum mereka berangkat ada seseorang yang mencegah mereka berdua pergi. Ervin, adik kandung Nora, kini berdiri di depan keduanya dengan ekspresi wajah dingin. Lelaki itu menepuk motor Yudha agar memintanya turun dari motor.
"Ada apa, Vin? Gue lagi buru-buru," protes Yudha dengan melepaskan helmnya.
"Gue aja yang antar Nora. Lo mending antar pacar lo sendiri, nggak baik pacar sendiri diajak tapi nggak diantar pulang," ucap Ervin dengan memegang tangan Nora dengan raut wajah serius.
Mereka yang ada di sana seketika terkejut. Bukan karena raut wajah lelaki itu, tetapi panggilan lelaki itu yang tidak menggunakan kakak di depan nama Nora. Sekarang lelaki itu terlihat seperti anak cowok yang tidak terima gadisnya dibawa orang lain.
"Gue nggak peduli." Ervin mengambil helm lelaki itu dengan naik ke atas motor Yudha. Lalu menarik tangan Nora agar naik ke atas motor dan mereka segera pergi dari taman.
Yudha melotot tajam saat Ervin membawa motornya tanpa izin dengan berteriak, "Ervin, kapan gue ngasih izin bawa motor gue! Ervin, balik nggak!"
...****************...
Ervin mengabaikan teriakan Yudha. Ia melewati jalanan kota yang penuh kendaraan dengan cepat dan lihai. Matanya yang tajam menelusuri jalanan kota sembari menancap gas dengan kecepatan tinggi. Di jalanan yang ramai, mereka berdua hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata.
Nora diam dengan memegang pinggang lelaki itu. Ia menundukkan wajahnya dengan beberapa kali menghela napas karena gelisah. Ia tidak tahu pasti bagaimana situasi di rumahnya. Ayahnya secara terang-terangan sangat tidak tahu malu melaksanakan pesta di rumah atas kepemilikan bundanya.
"Belok kiri, Vin," arah Nora dengan suara agak kencang karena sedang berada di jalan.
Sesampainya di perumahan elite, mereka berdua disambut dengan orang-orang yang datang ke pernikahan. Jalan perumahan terlihat sangat ramai, apalagi sebuah rumah mewah yang diisi oleh banyak orang.
Nora segera turun dari motor. Ia memotong jalur yang terlihat banyak orang. Di pekarangan rumahnya, ia melihat ada bundanya yang berlutut di kaki ayahnya. Ia yang melihat seketika tertawa miris, bundanya masih saja mengemis cinta sang ayah.
Ia berjalan bersama Ervin segera membawa Rayna untuk pergi keluar dari rumah. Ervin segera memesan taksi online di ponselnya ke alamat yang tidak diketahui karena ia tahu gadis itu perlu membawa bundanya pergi sejauh mungkin. Nora, gadis itu saja yang mengetahui lokasi mereka akan berhenti.
Ervin menunggu Nora dengan menatap jalanan. Ia melihat sebuah banner pernikahan, tetapi hal itu tampak membuatnya terkejut sampai melirik ke arah bundanya Nora. Nama pengantin wanita tampak sangat familiar baginya. Seketika pemikirannya menjadi terganggu jika bukan Nora yang menepuk pundaknya mungkin kini ia masih berada dalam pikirannya.
"Gue pergi dulu, Vin. Makasih banyak buat hari ini," ucap Nora dengan tersenyum tulus.
Kepergian Nora membawa Ervin dalam penuh tanda tanya. Ia memfoto banner pernikahan dan rumah mewah milik Nora. Ia mengirimkan foto itu kepada seseorang. Ia hanya berharap kejadian ini tidak benar terjadi dan hanya salah paham.
Di sisi lain, Nora dan Rayna terlihat tidur di dalam mobil. Mereka berdua menenangkan pikiran masing-masing. Mereka terlihat sangat depresi melihat perilaku Satria yang diberikan kepada mereka, yaitu menikah kedua kalinya atas dasar keinginannya sama sekali tidak memberitahu istri dan putrinya.
"Bunda, apa tahu ayah melakukan pernikahan di rumah kita?" tanya Nora dengan menarik pundak bundanya agar menatap matanya.
Rayna menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia sama sekali tidak mengetahui tindakan yang dilakukan oleh suaminya. Suaminya dengan tega hati melakukan pernikahan di rumahnya bahkan tanpa izin sama sekali langsung membawa para tamu juga pengantin wanita menerobos rumahnya.
"Ayah kamu sama sekali tidak pernah meminta pendapat Bunda," jawab Rayna dengan memijat pelipisnya.
"Ya udah, berarti Nora bisa menuntut mereka. Mungkin istri muda Ayah akan bermain licik nantinya," desis Nora sembari menatap jalanan dengan tangannya yang mengepal tanpa sepengetahuan bundanya.