
Suasana sekolah menjadi gaduh dan tegang. Para siswa dipaksa masuk ke dalam kelas masing-masing oleh para guru yang bersenjatakan tongkat dan senter. Mereka akan melakukan razia ponsel untuk mencari tahu siapa yang melaporkan kasus perundungan di sekolah ke polisi. Kasus itu telah membuat nama sekolah tercoreng dan reputasi sekolah terancam.
Nora duduk di bangku paling belakang, memandang pintu dengan tatapan dingin. Ia tidak bisa memahami sikap para guru yang lebih mementingkan nama baik sekolah daripada kesejahteraan siswa. Ia tidak bisa menyetujui cara mereka mengintimidasi dan mengancam siswa yang berani berbicara.
"Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan melakukan razia ponsel! Nora, kamu harus membantu saya!" ujar seorang guru yang masuk ke dalam kelas dengan suara keras.
Para siswa langsung heboh dan gempar. Beberapa buru-buru menyembunyikan ponsel mereka di dalam tas, laci, atau bahkan sepatu. Nora meraih ponselnya dari dalam saku roknya dan memegangnya erat-erat.
Guru itu mulai berkeliling kelas, menggeledah setiap meja dan kursi. Dia mengumpulkan ponsel-ponsel yang ditemukannya dan meletakkannya di atas meja gurunya.
"Jangan coba-coba berbohong atau menyembunyikan ponsel kalian!" bentak guru itu. "Saya akan mengecek semua ponsel kalian satu per satu dan mencari bukti-bukti yang berkaitan dengan kasus perundungan itu!"
Nora bangkit dari kursinya dan berdiri di depan guru itu dengan berani. "Saya menolak untuk memberikan ponsel saya, Pak," kata Nora dengan tegas.
"Apa? Apa yang kamu katakan?" tanya guru itu dengan terkejut. Nora biasanya adalah siswa yang patuh dan nurut, tetapi hari ini ia malah melawan.
"Saya tidak mau memberikan ponsel saya, Pak," ulangi Nora. "Saya merasa hal ini sudah melanggar hak saya sebagai siswa."
Nora berkata dengan tenang dan mantap. Ia tidak peduli jika guru itu marah atau jika teman-temannya membencinya. Ia tahu apa yang ia lakukan adalah benar.
"Hak apa, Nora? Kamu pikir kamu bisa seenaknya menentang otoritas sekolah hanya karena keluarga kamu adalah donatur terbesar di sekolah?"
"Ponsel itu adalah barang pribadi yang berisi data-data penting dan rahasia. Bapak tidak berhak mengambil dan mengintip isi ponsel saya tanpa izin. Ini melanggar pasal 28G ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya," ucap Nora dengan fasih.
"Nora, kamu harus mengerti bahwa kami melakukan ini demi kepentingan bersama," kata guru itu dengan nada merayu. "Kami ingin menjaga nama baik sekolah ini dari cap buruk yang bisa ditimbulkan oleh kasus perundungan itu."
"Ya, saya mengerti hal itu, Pak. Saya tahu bahwa kasus ini bisa merugikan sekolah secara finansial maupun moral. Saya tahu bahwa orang tua akan ragu untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sini. Saya tahu bahwa guru-guru akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan mereka. Saya tahu bahwa siswa-siswa akan sulit mendapatkan beasiswa atau pekerjaan di masa depan," ucap Nora dengan nada datar. "Saya tahu semua itu, Pak. Bapak tidak perlu menjelaskan lagi kepada saya."
"Lalu kenapa kamu menolak untuk bekerja sama dengan kami? Ini demi kepentingan bersama."
"Kepentingan bersama? Nyatanya masih banyak orang yang menderita akibat kasus ini, Pak. Khususnya para korban yang dirundung dan dianiaya oleh para pelaku. Mereka butuh keadilan dan perlindungan, bukan penutupan mata dan telinga." Nora hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan gurunya.
Nora menjadi pusat perhatian di kelasnya. Semua siswa menatapnya dengan tatapan bermacam-macam. Ada yang kagum, ada yang takut, ada yang benci, dan ada yang iri. Mereka tidak menyangka bahwa Nora adalah orang yang melaporkan kasus perundungan di sekolah ke polisi. Kasus itu telah membuat heboh seluruh sekolah dan membuat para guru panik.
"Bapak dan teman-teman tidak perlu mencari tahu lagi. Saya adalah orang yang melaporkan kasus itu ke polisi," kata Nora dengan tenang sambil menunjukkan sebuah riwayat chat di ponselnya. "Saya sudah selesaikan masalah ini dan saya pastikan sekolah tidak akan terkena dampak buruk. Saya hanya menyeret para pelaku saja. Saya juga tidak ingin sekolah ini mendapatkan cap buruk."
Para siswa terdiam mendengar pengakuan Nora. Mereka kira orang yang membongkar kasus ini adalah orang kalangan bawah yang tidak punya nyali untuk melawan para pelaku. Ternyata orang itu adalah siswa paling sempurna, siswa yang sudah dianggap dewi Prestige. Akhirnya mereka memilih diam dan tidak membahas kasus itu lagi.
"Biarin aja, Gis," jawab Nora acuh tak acuh. Ia sedang tidak ingin berbicara tentang hal itu.
...****************...
Kabar tentang Nora yang melaporkan kasus perundungan ke polisi segera menyebar ke seluruh sekolah. Hal ini juga sampai ke telinga Ervin. Lelaki itu menatap teman sekelasnya dengan tak percaya. Ia sempat ragu, tetapi ternyata benar adanya.
"Gila, sih. Ternyata Kak Nora yang laporin."
"Udah ah, nggak usah ngomongin itu lagi. Kak Nora juga udah bilang kalau kasus itu nggak bakal ganggu aktivitas sekolah. Lo tau sendiri lah gimana sifat Kak Nora. Dia nggak bakal pernah bohong."
Ervin beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari kelas yang sepi tanpa guru. Katanya para guru lagi sibuk untuk memperbaiki citra sekolah karena kasus pagi tadi.
Ia berlari menuju kelas XI IPS 1 dengan tergesa-gesa. Kelasnya lumayan jauh dari lorong kelasnya. Saat sampai ia bahkan lupa untuk meminta izin masuk ke dalam kelas kakak kelasnya. Beberapa mata langsung menyorotinya dengan sinis.
"Ngapain tuh orang masuk seenaknya."
"Iya, nggak sopan banget jadi adkel."
Ervin sekarang tidak peduli dengan omongan mereka. Ia berjalan lurus ke arah meja Nora yang duduk di belakang kelas. Ia menghembuskan napas panjang saat melihat gadis itu yang bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
"Nggak belajar, Vin?" tanya Nora dengan nada datar.
Ervin menggelengkan kepalanya. Ia menatap mata Nora dengan serius. Namun, yang ditatap justru membalas tatapannya dengan dingin.
"Ngapain laporin ini ke polisi, Kak?" tanya Ervin sambil duduk di atas meja depan Nora agar bisa menatap mata kakak kelasnya secara langsung.
Nora mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepalanya berkata, "Lo sama aja kayak mereka ternyata. Demi nama baik sekolah lo rela nyawa taruhannya?"
"Enggak gitu maksudnya, Kak. Gue ...."
"Apanya, Vin?" potong Nora yang bingung dengan reaksi lelaki yang satu tahun lebih muda darinya.
"Gue cuman khawatir sama lo," ucap Ervin dengan napas tersengal.