
“Apa kamu yang menjual potion disini kemarin ?” Suara gagah sesosok manusia berkepala serigala mengejutkan Joe yang sedang menyiapkan barang dagangannya.
“I-Iya. Ada perlu apa ya ?” Setelah mempunyai skill alchemist, Joe sering menjual potion-potion tersebut. Walaupun terbilang potion biasa, tapi sangat membantu ketika melakukan perburuan. Sehingga banyak menarik minat para newbie (player baru).
“Berapa potion yang akan kamu jual hari ini ?”
“M-mmzt, sekitar 50 botol” Jawab Joe sedikit bingung dengan orang didepannya. Tampak lawan bicaranya merupakan seorang player yang memiliki level tinggi, tentunya potion yang dijual Joe tidak akan membantu banyak jika ia gunakan.
“Akan aku beli semuanya”
“Ech”
“Aku akan membeli semua potion yang kamu jual hari ini” Jelas knight berjirah keperakan merespon tatapan kaget
penjual potion tersebut.
“Jadi, berapa harga semuanya ?”
”Aku biasanya menjual 20 Forint perbotol”
“kalau 50 botol, jadinya…”
“Euuuh, jadinya…”
‘berapa ya ? di dunia ini aku gak bisa menggunakan kalkulator.’ Batin joe kebingungan karena tak ada alat bantu
hitung yang dapat ia gunakan.
“Ini 1000 Forint, semuanya aku bayar” Knight tersebut menangkap gelagat bingung penjual potion tersebut. Dia sedikit bingung mengingat biasanya para pedagang sangat pandai dalam menghitung uang.
“Ah iya, Namaku Tony. Aku dari guild Thunder Phoenix. Aku berharap kedepannya kamu bisa mendistribusikan potion-potionmu ke guild kami.”
“Tenang saja, aku akan membelinya dengan harga normal”
“Ah-Baiklah” Joe menerimanya dengan ceria. Joe berjualan untuk mengisi waktunya, dia masih trauma untuk kembali berburu monster. Joe takut levelnya akan menurun lagi.
Setiap 3 hari sekali, Joe mentransaksikan potion-potion miliknya yang kadang ditukar dengan beberapa skill book, membantu meningkatkan levelnya atau dengan beberapa ribu Forint.
“Ah, hari ini aku mau ngapain ya ?”
“Ah iya, jam 11 malam nanti ada maintenance. Katanya maintenance malam ini akan sedikit lama, sekitar 5 jam”
“Oh iya, aku belum memetik daun lagi. Aku harus segera memetik, besok jadwal transaksi dengan Kak Tony”
“Sebelum Maintenance aku harus siapkan semua bahannya”
Joe bergegas ke pinggir hutan tempat biasa dia memetik daun untuk bahan potion-nya.
…..
“Hoaaam, pelajaran olah raga memang melelahkan”
“Ech, jam berapa ini ?”
“Gawat, aku tertidur”
“Ech, jam 1 pagi. Sepertinya maintenance masih berjalan”
“Kok sepi banget ya, hampir gak ada suara apapun.”
“Mumpung sepi, aku coba masuk lebih dalam lagi ah”
Ketika maintenance, semua mobs tidak akan menyerang kecuali dia diserang terlebih dahulu. Akan tetapi, karena kebanyakan fitur dimatikan, maka tidak ada player yang log in ketika maintenance. Seakan yang dilakukan semua sia-sia. Hal ini sengaja dilakukan supaya tidak ada bug atau kesalahan ketika melakukan perawatan.
“Wow, ada gua”
“Masuk ah, aku dari dulu ingin mencoba menjelajah seperti film P*nji sang petualang”
“Sepi banget. Gelap juga”
‘Krek’
“Ech apa yang aku injak ?”
Bleb bleb bleb, tiba-tiba banyak lampu menyala disepanjang terowongan gua tersebut. Anehnya, lantai gua tersebut rata bagai lantai sebuah istana. Di ujung gua tersebut ada ruangan dengan sebuah array ditengahnya. Tepat di tengah array tersebut terdapat sebuah Kristal berwarna biru cerah.
“Wah, ada harta karun. Sepertinya tidak apa jika aku ambil”
Jeng jeng
‘Selamat anda menemukan sebuah hidden quest’
‘ Hidden Quest : Hidup seperti Larry”
Selamatkan sebuah dunia dari ancaman para Demon
Batas Level : Tidak ada
Kesulitan : S
Batas Waktu : Tidak ada
Penyesuaian Kondisi : - Title The king of Wizard diberikan
- Title The king of Knight diberikan
- INT +100
- DEX +100
- STR +100
Reward : ?
“Hmmmzt, quest-nya menarik. Apalagi tidak ada batas waktu untu menyelesaikannya. Tuhkan, aku bilang ini rezeki nomplok. Muehehe”
“Eh, Reward-nya masih tanda Tanya. Sepertinya suatu yang besar”
‘Apakah anda akan menerima quest ini ?’
“YES”
“Auto diterima pokoknya”
Tiba-tiba array dan Kristal yang ada disana menyala dengan terang dan tubuh Joe tiba-tiba menghilang, berubah menjadi butiran cahaya. Ketika dia tersadar, sebuah suara mengejutkanya
“Larry, kamu sudah sadar ?”
“Ech, dimana aku ?”