The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 18 Rencana



“Paman, ini tanduk yang kau minta”


“Hahaha, kau hebat bocah. Bagaimana bisa kau mendapatkan tanduk Black Minotaur dengan waktu secepat ini”


“Tentunya, dengan banyak bantuan paman, ehehe”


“Baiklah, besok pagi datanglah kemari. Aku akan menyelesaikannya malam ini”


“Baiklah paman, aku pulang dulu”


“Tunggu bocah, siapa namamu ?”


“Namaku Larry paman”


“Hmmmzt,kau bocah yang menarik. Hati-hati di jalan bocah, jangan lupa bawa bayaran untukku, hahahaha” Gema tawa si pemilik toko mengantar kepulangan Larry


‘Terus, maksudnya nanyain namaku buat apa hah ? pada akhirnya tetap memanggilku dengan sebutan bocah’ batin Larry seraya melambaikan tangannya.


“Sungguh anak yang menarik, mengingatkanku pada Asmos” Grail menutup toko senjatanya petang itu, dia teringat ketika membuatkan sebilah pedang untuk komandan pasukan sebuah kerajaan.


…......


 


“Tak ku sangka, ternyata bagian tubuh yang hilang tidak tumbuh kembali ketika aku merubahnya menjadi undead”


“Apakah minotaur tanpa tanduk masih bisa disebut minotaur ya ?”


“Entahlah, yang pasti aku harus segera mengisi pasukan undeadku”


Setelah mencari tanduk minotaur, Larry kehilangan semua undead-nya. Kecuali, 2 undead minotaur yang ia punya.


“Aku harus berusaha lebih keras lagi, seleksi masuk akademi Lorenz sebentar lagi. Aku harus semangat yosh”


Malam mulai datang ketika Larry berlari menuju rumah paman Asmos. Larry tidak sabar memberikan kejutan kepada saudaranya itu. Di sepanjang jalan Larry berpikir dan menyusun rencana yang matang tentang apa yang akan ia lakukan ke depannya. Hanya saja…


“Bukankah aku kesini untukmenjalani sebuah quest ?”


“Tapi, dunia ini terasa lebih nyaman daripada dunia awalku”


“Jika aku bisa menyelesaikan quest ini, apakah aku bisa kembali kesini ?”


“Disini, aku bisa merubah nasibku”


“Disini, aku punya orang-orang yang menyayangiku”


“Walau hidup tak se-instan dulu”


“Tapi-…”


Larry berpikir keras tentang apa tujuan sebenarnya dia pergi ke dunia yang ia sebut dunia fantasi. Dimana sihir,


magical beast, elf dan demon berada. Tak terasa, Larry telah sampai ke rumah paman Asmos. Dia kemudian berbaring, memikirkan hal yang tak kunjung ia pahami.


Satu yang ia tanyakan,


“Apakah tak apa, jika aku memilih meninggalkan quest dan hidup bersama Bunda, Mark, Naomy dan anak-anak panti lainnya ?”


“Tapi, apakah ayah dan mama akan rindu pada-…”


“Oi, Larry. Bangun !”


“Woiiiiii, Larry, Bangun oi”


“…zzzz..”


‘Byurrr, bluk’


Sebuah air terjun meluncur dengan bebas menuju muka Larry, lengkap dengan sebuah ember yang menyusul diakhir.


“Banjir, gempa bumi, tsunami, cepet kawin, kiamat datang”


‘hahahahha, kau lucu Larry, duh perutku sakit’ Dua suara yang ia kenal terbahak-bahak melihat respon Larry


“Tidak, bidadariku”


“Kalian, kenapa sih gak suka banget liat aku bahagia sama para bidadari”


‘ahahaha, pagi-pagi dia masih berkhayal. Naomy, sepertinya airmu kurang banyak agar bisa membangunkannya dari mimpi’


“Benarkah itu, baiklah. Wahai yang menjadi tanda akan kasih sayang, berikan aku kelembutanmu, water buble”


Sebuah gelembung berwarna biru keluar dari sebuah rune ketika Naomy menjulurkan tangannya ke depan dan membaca mantra. Gelembung itu mendekat menuju wajah Larry dan ketika jarak gelembung itu menyentuk ujung hidung Larry


‘Brussh’


Sebuah air memuncrat dari gelembung tersebut. Semua baju Larry bahas tanpa sehelaipun yang kering.


“Jadi, ada perlu apa kalian kesini ?” Larry menatap tajam teman-temannya


“Sebelumnya aku minta maaf telah mengganggumu. Tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan”


“haah, ada apa emang ?”


“Bunda sakit, dia terbaring lemas di tempat tidur” Jelas Naomy dengan suara murung


Seketika Larry bergegas pergi menuju panti untuk melihat kondisi bunda tanpa memerhatikan kondisinya yang basah kuyup.


“Bunda”


“Eh, Larry. Kamu sudah pulang ?”


“Bunda, apa yang terjadi dengan Bunda” seketika air menggenang di kelopak mata Larry, isak tangisnya tak kuasa


ia bending.


“Bunda baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar sudah baikan kok”


“Kalau begitu, bunda istirahat dulu saja ya”


Larry keluar dari rumah panti bersama dua orang anak berusia 9 tahun.


“Carla, Rieka, tolong panggilkan tabib ya. Minta beliau untuk segera kesini. Kakak akan menunggu Bunda”


“Baik kak, kami berangkat” Jawab serentak kedua anak tersebut, mereka belum paham sejauh mana kondisi wanita


yang merawat mereka selama ini, yang mereka ketahui adalah Bunda yang sangat mereka cintai dan hormati sedang terbaring lemah di tempat tidur.


20 menit kemudian Tabib datang bersama kedua anak yang menjemputnya. Larry langsung meminta kedua anak


tersebut untuk sarapan bersama anak lainnya. Naomy dan Mark setelah membereskan rumah Paman Asmos langsung membuat sarapan untuk semua.


“Bagaimana tuan, kondisi Bunda ?” Tanya Naomy setelah tabib keluar dari kamar