
“Berhentilah menatap cucuku dengan wajah bodohmu anak muda” Sebuah suara yang sedikit serak menandakan usianya yang mulai renta membangunkan Larry dari lamunannya.
“Nenek, nenek sudah kembali ?” Gadis muda yang tadi merawat Larry langsung beranjak menemui seorang wanita tua.
“Permisi nek, bolehkah saya bertanya. Dimana kiranya saya berada sekarang ?” Larry berusaha bangun dari tempat tidurnya yang hanya beralas sebuah kain yang menutupi tumpukkan dedaunan dibawahnya. Walaupun begitu, itu cukup nyaman untuk digunakan menjadi alas tidur.
“Kau sekarang berada di lereng gunung kematian. Ah, kalau dari tempatmu kemarin berarti disebrang danau kehampaan” Jelas wanita tua yang membawa tongkat
“Nenek, sebaiknya kita makan terlebih dahulu” Lily datang dari ruang sebelah yang hanya disekat dengan anyaman bambu dan daun seadanya.
“Tuan muda, apakah anda sudah bisa bangun ?” Lily menyodorkan sepiring makanan dengan lauk seadanya. Tentunya apa yang bisa dimakan di lereng sebuah gunung kalau bukan hasil alam yang hanya diolah dengan sederhana.
“Ah, tentu” Larry berjalan perlahan untuk ikut makan bersama dengan pasangan cucu dan nenek yang tinggal di lereng hutan tersebut.
“Ah iya, dimana sopan santun saya. Saya belum memperkenalkan diri, padahal Lily dan nenek telah menyelamatkan saya”
“Perkenalkan, saya Larry. Saya berasal dari desa Carne”
“Ah iya, mungkin tuan Larry telah mengetahui nama saya, saya Lily” Setelah kepulangan neneknya, Lily tidak bermalu-malu lagi berbicara dengan orang asing dihadapannya.
“Kau bisa memanggilku Nenek Lian”
“Lily, setelah ini antar dia untuk istirahat. Kamu bisa istirahat di kamar nenek”
Nenek Lian pergi keluar dari rumah dan meninggalkan Lily berdua dengan Larry.
“Tu-an Lar-ry, mari sa-ya antar untuk istirahat” Lily mengantar Larry kembali ke kamar miliknya, setelah itu Lily beranjak ke kamar neneknya.
__
“siapa anak itu ? Bagaimana bisa dia membunuh magical beast lv. 3 dengan kekuatannya yang seperti itu. Apalagi magical beast ini memiliki pertahanan yang sangat kuat untuk magical beast dilevelnya”
Seorang nenek tua dengan rambut yang telah memutih seutuhnya memeriksa kembali jasad buaya raksasa hijau yang memiliki berbagai luka disekujur tubuhnya. Termasuk luka dari dalam perut buaya tersebut, dimana ia menemukan tubuh seorang bocah laki-laki yang seusia dengan cucunya.
“Apa yang ia cari kesini sesungguhnya? Batin si nenek menyelidiki pemuda yang kini menjadi tamu di gubuknya.
Malam datang begitu saja, Larry hanya dapat melamun dan memikirkan bagaimana nasib bundanya. Waktu yang ia habiskan sudah sepertiga dari tenggang waktu untuk mencari obat bagi bunda. Larry tak bisa mengajak Lily untuk berbincang-bincang, karena sifat malu-malunya akan datang ketika dia tidak bersama neneknya.
_ _ _
“Tuan Larry, mari sarapan”
“Ah, baiklah” Larry beranjak dari kamar menuju tempat makan. Disana, Nampak Nenek Lian sedang menikmati teh hangatnya. Memang karena iklim di lereng gunung tentunya sangat dingin, sehingga segelas teh hangat akan sangat terasa nikmat.
“Anak muda, setelah sarapan mari kita berbincang-bincang sebentar. Ada hal yang ingin aku tanyakan”
“Baik nek” Jawab singkat Larry, bingung memikirkan jawaban dan tindakan apa yang akan ia berikan nanti.
“Anak muda, apa yang kau cari di gunung ini ?”
“Saya sebenarnya mencari obat untuk penyakit bunda saya nek”
“Obat apa yang kau maksud ?” Nenek Lian mulai menyelidiki asal usul dan tujuan pemuda dihadapannya. Bukan apa, karena selama hidup di lereng gunung kematian Nenek Lian jarang menemui anak semuda dia. Tak heran jika yang datang adalah para penyihir atau pendekar yang mencari keberuntungan dengan berbagai tanaman obat atau sumber daya yang dapat ia gunakan untuk meningkatkan kekuatannya.
“Air mata, … seorang black witch” Jawab Larry setengah ragu, entah kenapa dia merasa canggung ketika mengatakan itu.
“Apa ?” Nada ucapan Nenek Lian meninggi. Larry bingung dengan sikap lawan bicaranya yang tiba-tiba
membentaknya.
“Bukan apa-apa, maaf aku hanya kaget” Nenek Lian menyusul perkataannya.
“Bocah, bagaimana kamu bisa berada dalam perut buaya tersebut tanpa terbunuh ?” Nenek Lian kembali menyelidiki identitas bocah dihadapannya.
“Ah, kalau itu …” Larry menjelaskan tentang kekuatannya yang berelemen kegelapan dan bagaimana ia bisa berhadapan dengan magical beast itu.
“Hahahaha, sungguh menarik” Nenek Lian tertawa mendengar penuturan dari pemuda dihadapannya.
“Anak muda, bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa menjadikan bangkai magical beast menjadi pasukanmu ? Apa kau menipuku ?” Tantang Nenek Lian setengah tidak percaya dengan anak didepannya. Kekuatan memanggil atau menjadikan undead adalah salah satu legenda dari para iblis dan penyihir hitam. Kekuatan itu telah hilang sejak peperangan ratusan tahun lalu.
Larry sedikit menggigil, karena aliran mana disekitarnya terkonsentrasi pada tubuh Nenek Lian dan berubah menjadi aura gelap yang mengelilinginya dan mengintimidasi Larry.
“Ah…, kalau itu …” Larry bingung karena semua undeadnya telah binasa ketika melawan magical beast buaya raksasa level 3.
“Sebenarnya undeadku telah binasa ketika melawan buaya itu Nek” Jawab Larry dengan ragu karena aura intimidasi yang menyelimuti Nenek Lian masih diarahkan kepadanya.
“Ikut denganku …” Nenek Lian beranjak dari tempat duduknya dan membawa Larry ke tepi danau.
“Apa kau disana ?” Nenek Lian memandang bayangan tubuhnya. Tiba-tiba sesuatu melompat keluar dari bayangan tersebut.
“Apa itu ?” Larry terkesima melihat seekor rubah seukuran anjing dewasa dengan kulit gelap sedang menjilati tangan Nenek Lian.
“Itu adalah shadow fox, spirit beast milik Nenek” Terang Lily menanggapi pertanyaan Larry.
“Apa aku juga bisa melakukan itu ya ?” gumam Larry memandangi rubah berekor 3 didepannya.
“Antarkan kami ke sebrang danau ya” Nenek lian mengusap kepala partnernya. Tiba-tiba shadow fox tersebut memperbesar ukurannya, Nenek Lian, Lily di susul oleh Larry naik ke punggung shadow fox.
“Ini bangkai buaya yang kau kalahkan waktu itu, sekarang lakukanlah”
“Raise Undead” Larry menengadahkan tangannya kearah buaya tersebut.