The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 31 Kebakaran



Malam itu, bertepatan dengan malam purnama. Bulan membulat indah, dengan cahaya kilau yang tak menyakiti mata. Seakan berjanjian dengan Lily yang kini telah memakai baju putih panjang dan kerudung yang menutupi hitamnya rambut. Di gunung itu, malam itu, di puncak itu, Larry mengucap janji suci untuk setia sampai mati bersama Lily.


“Dengan rembulan sebagai saksi, aku Larry berjanji untuk selalu setia kepada istriku Lily. Dikala susah aku akan menanggungnya bersama Lily, dikala senang aku akan berbagi dengan Lily, dikala sakit aku akan setia menjaganya. Dengan rembulan sebagai saksi dan darahku sebagai bukti, Aku akan setia selamanya kepada Lily” Darah menetes diatas dua buah cincin yang telah disiapkan Nenek Lian.


“Dengan rembulan sebagai saksi, aku Lily berjanji untuk selalu setia kepada suamiku Larry. Dikala susah aku akan menanggungnya bersama Larry, dikala senang aku akan berbagi dengan Larry, dikala sakit aku akan setia menjaganya. Dengan rembulan sebagai saksi dan darahku sebagai bukti, Aku akan setia selamanya kepada Larry” Lily juga meneteskan darahnya sebagai bukti suci atas janji pernikahannya.


Entah kenapa semua darah langsung terserap oleh kedua cincin, seakan-akan menyutujui kedua sumpah mereka. Setelah itu, Larry memakaikan salah satu cincin di jemari manis Lily. Cincin itu adalah cincin yang Larry dapatkan dari hasil menaklukan dungeon. Lily juga memakaikan sebuah cincin kepada Larry, cincin itu adalah cincin berpola yang terbuat dari logam khusus.


Larry menatap lekat istrinya sebelum memberikan kecupan mesra di dahi Lily. Pelukan hangat ia berikan, hatinya berdebar saling beresonansi dengan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Keduanya berlutut setengah kaki menghadap Nenek Lian, tanda bakti dan terima kasih telah menjaga Lily selama ini.


“Baiklah, aku berharap kalian menjadi pasangan yang dapat selalu bersama dikala senang dan sedih” Nenek Lian menghadap Larry sebelum melanjutkan.


“Lily, berikan apa yang tadi telah disiapkan”


Lily mengambil sebuah baki yang diatasnya terdapat sebuah grimoire dan sepasang pedang hitam dan memberikannya kepada Larry


“Larry, ini adalah barang yang menjadi syarat sebelum kamu dapat memperoleh air mata black witch. Dengarkanlah, kamu gunakan kedua barang ini untuk menemanimu menyelamatkan ibu Lily” Larry tersentak ketika mendengar penyelamatan ibu dari istrinya.


“Baiklah Nek, aku berjanji akan menyelamatkan ibu” Larry memandang Lily yang kini matanya memerah, teringat akan ibunya yang telah berpisah belasan tahun.


“Aku pasti menyelamatkan ibumu, sayang” Larry memeluk Lily yang tubuhnya menggigil.


***


Tiga hari waktu berlalu begitu saja, kebahagiaan memang membuat waktu berjalan sesaat. Setelah berpamitan dengan istri dan Neneknya, Larry kembali ke Desa Carne dengan membawa air mata black witch. Larry mempercepat langkahnya menuju desa, dia telah menempuh perjalanan selama tiga minggu untuk mendapatkan obat penawar dari penyakit yang diderita oleh bundanya.


Ketika Larry memasuki gerbang desa, Larry terkejut menemukan sikap warga yang memandangnya dengan aneh. Tatapan mereka menghina dan merendahkan, tak seperti biasanya yang selalu tersenyum hangat kepada semua anak-anak panti. Merasa ada yang aneh, Larry semakin mempercepat langkahnya menuju panti. Setelah beberapa meter dari bangunan panti, Larry langsung terjatuh, air matanya berlinang, ia berteriak histeris.


“A…APA YANG TERJADI ?”


“Seseorang, tolong jelaskan apa yang terjadi ?”


Suara Larry semakin parau melihat bangunan panti yang habis terbakai, didekat bangunan itu terdapat banyak bekas darah yang telah mongering. Asap masih mengepul perlahan dari sisa-sisa kayu yang kini telah menghitam.