The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 37 Berita



'Mari biasakan meninggalkan jejak berupa like dan komen 😊😊'


***


Keesokan harinya, tragedi tragis yang dialami Desa Carne mulai menyebar ke desa-desa di sekitarnya. Beberapa petugas pun mulai berdatangan melihat kondisi Desa Carne yang tak menyisakan satupun jiwa yang bernapas.


“Hei, kau sudah dengar apa yang terjadi dengan Desa Carne ?” Seorang penduduk lokal mulai berceloteh sambil menikmati hidangan yang tersedia dihadapannya.


“Tentu saja. Aku sangat merinding ketika mendengar cerita seorang petugas yang menyelidiki desa itu. Mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun korban jiwa yang memiliki tubuh yang utuh”


“hiiiih, aku juga jadi merinding. Tapi, bukankah sangat aneh jika tiba-tiba semua magical beast yang ada di hutan dekat desa itu menyerang begitu saja. Apalagi itu bukan dari koloni yang sama. Kok bisa-bisanya para magical beast yang biasanya saling beradu malah bekerja sama untuk membantai seisi desa itu”


“sssst… sebenarnya banyak orang mengatakan bahwa kejadian itu terjadi tak lama setelah para warga dan kepala desa disana menuduh dan membakar hidup-hidup anak-anak satu panti” laki-laki itu menunduk dan berbicara secara samar kepada kawan dihadapannya.


“JANGAN-JANGAN….. itu adalah AZAB” pasangan bicara laki-laki yang berbisik tadi langsung terhentak dari tempat duduknya.


“Jangan berisik bodoh… sekarang cerita itu dianggap tabu” Laki-laki yang berbisik tadi langsung memukul kepala kawannya.


Hanya saja, mereka tak menyadari bahwa ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka. Sampai beberapa hari kemudian booming sebuah surat kabar yang bertajuk


“AZAB : Karena Membakar Sebuah Panti, Satu Desa Dibantai”


***


Dilain tempat, di sebuah hutan yang rindang seorang pemuda berjubah hitam sedang melihat koleksi yang baru ia dapatkan beberapa hari yang lalu. Ia melihat-lihat sebuah pedang panjang dengan gagang kemerahan. Panjang pedang itu sekitar 4 kaki dan memiliki bilah yang tajam.


Larry kemudian beralih menuju cincin yang sebelumnya dipakai oleh kepala desa. Itu adalah sebuah cincin spasial yang memiliki ruang sebesar 3 x 3 meter persegi. Ia mengetahui fungsi cincin itu setelah mempelajari catatan yang ia peroleh dari perpustakaan kepala desa. Sebelumnya, Larry harus berjalan di malam hari karena ia membawa banyak barang yang dibawa oleh para undeadnya. Oleh karena itu, setiap siang hari dia selalu beristirahat dan menghabiskan waktu untuk membawa berbagai buku sampailah ia tahu bahwa cincin dihadapannya adalah sebuah cincin spasial.


‘Haaah, dunia memang luas ya. Mungkin pengetahuan umumku terbatas karena Larry yang sebelumnya tak pernah keluar dari desa’ gumam Larry sambil memalingkan wajahnya menghadap langit.


‘Yaahh. Pada akhirnya aku tak bisa menyalahkan siapapun. Tapi ….’


‘dengan ilmu hidup jadi lebih mudah ya’


“Baiklah, selanjutnya bagaimana aku menggunakan grimoire api ini?” Larry kembali termenung memandangi grimoire dihadapannya. Sebelumnya ketika ia mempelajari grimoire kegelapan, ia dibantu oleh sistem. Sayangnya, setelah itu ia tak lagi mendengar bunyi sistem atau dapat melihat statusnya. Ia seakan-akan sudah terintegrasi dengan dunia ini.


‘Bukankah aku memiliki title The king of magician ya ?’


‘Tapi mengapa aku tak dapat memahami apapun setelah berulang kali mempraktekan grimoire itu ?’


‘hmmm, tunggu, apakah ada yang aku lewatkan ?’


“Arghhhhh.. entahlah. Sebaiknya aku menyimpan semua barangku di cincin spasial dan melanjutkan perjalanan. Menurut karavan yang aku lewati, sepertinya di depan ada sebuah kota kecil. Aku bisa mencari informasi yang lebih banyak disana” Larry kemudian bergegas melanjutkan perjalanannya menuju ke utara.


“Sudah waktunya aku membebaskan ibu mertuaku dan memenuhi janji ketigaku ketika mendapatkan air mata black witch ini”


Tetesan air tergenang disudut mata Larry ketika ia memandang jauh ke langit senja.


‘Bunda….’