The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 34 Kunjungan Malam



Larry telah jauh melangkahkan kaki ketika lolongan seorang pria terdengar olehnya. Ia menuju sebuah rumah paling elit di Desa carne. Setiap 10 langkah, sebuah sosok muncul dari bayangan Larry. Sosok-sosok itu kemudian mengelilingi seluruh pemukiman warga. Menunggu untuk diberi perintah.


Tak lama kemudian Larry telah sampai di sebuah kediaman bertingkat dua yang dijaga oleh dua pria yang memegang tombak di lengan kanannya. Kedua pria tersebut memicingkan mata mereka ketika melihat seseorang mendekat ke arah mereka.


“Hmmm.. Larry ada  apa kau kemari ? Cepat pergi ******** kecil, bersyukurlah kau tidak mati seperti bocah-bocah nakal panti asuhan itu, hahaha”


 “Sayangnya aku tidak melihat bagaimana ekspresi mereka ketika dipanggang kemarin” keluh rekan penjaga yang baru saja mengutuk Larry.


“Yang aku sayangkan bukan itu kawan, yang aku sayangkan adalah tidak bisa menikmati gadis yang baru tumbuh itu”


"Gadis kecil bernama Naomy itukan ? Dia cukup cantik untuk kita gilir berdua"


‘ahahahaha……ahhh’


Keduanya tertawa dengan ringannya seakan kedatangan Larry hanyalah angin berlalu. Akan tetapi tawa keduanya berhenti -seketika- melihat dua sosok setinggi satu setengah kali tinggi orang dewasa yang muncul tiba-tiba di belakang Larry. Dua sosok itu berwujud seperti manusia, kecuali bulunya yang tumbuh disekujur tubuhnya dan matanya yang merah menyala.


“Apakah tidak dapat bersenang-senang yang kalian sesalkan ? Tenang saja kalau begitu, kedua bawahanku ini akan memuaskan hasrat kalian” Larry melangkah begitu saja melewati dua penjaga yang kini masih membelalakan mata mereka melihat dua sosok itu.


‘Tunggu, sepertinya aku lupa memastikan jenis kelamin kedua Dark Ape tersebut. Biarlah, terserah kreativitas mereka saja’ Larry terhenti sejenak ketika menggumamkan hal tersebut. Ia langsung menuju sebuah kamar terbesar yang ada di lantai kedua. Samar-samar terdengar deru napas berat yang saling bersahutan di balik pintu kamar itu.


‘brakk’ Sebuah pintu hancur begitu saja ketika Larry menendangnya.


“Ooops.. Apakah aku mengganggu aktivitas nokturnalmu, Kepala Desa ?” Larry hanya tersenyum ringan ketika melihat kepala desa sedang duduk dengan posisi yang cukup canggung.


“Hmmm, Apa yang kulakukan ? Hanya berkunjung” Jawab Larry dengan ringannya.


“BERKUNJUNG ? APA KAU BERCANDA. PENJAGA…PENJAGA..DIMANA MEREKA ?” Wajah kepala desa semakin merah ketika mendengar jawaban ringan Larry. Padahal ia tengah berada dalam posisi yang nanggung ketika pintu kamarnya didobrak paksa.


“Penjaga ya ? Sepertinya mereka melakukan apa yang kau lakukan barusan dengan bawahanku..ooops, hehe” Larry terkekeh kecil ketika melihat sesuatu menciut diantara kedua kaki kepala desa. Ia tidak dapat menggunakan selimut karena selimut tersebut sudah digunakan oleh istrinya.


“Akh, santai  aja tuan kepala desa. Saya berkunjung kesini hanya ingin menanyakan yang terjadi dengan panti asuhan saya”


“Ah iya, tadi saya sudah mengunjungi tabib di desa kita. Tapi dia mengabaikan saya dan malah bermain dengan kucingnya” Larry tertunduk sebentar sebelum mengangkat kepalanya kembali seraya memberikan senyum lebarnya.


“Jadi, apa anda bisa menjelaskan kepada saya apa yang terjadi, TUAN KEPALA DESA ?” Larry bertanya dengan nada yang ditekan pada akhir ucapannya. Tak lupa seringai khas yang selalu menggantung di bibirnya sejak kepulangannya ke Desa Carne.


“Kau meminta penjelasan, akan kujelaskan dengan ini”


‘dubbb’


“FIRE BALL”


Kepala desa mengeluarkan bola api merah dari kedua tangannya dan menembakkannya kepada Larry. Larry yang telah terbiasa bertarung dengan magical beast langsung menghindari serangan itu dengan mudahnya.


“Hooo, sepertinya anda ingin sedikit bermain, tuan kepala desa”