The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 20 Gunung Kematian



 “Akh, ternyata Gunung kematian tidak tampak menakutkan sama sekali, bukankah orang-orang terlalu berlebihan menganggap gunung yang rindang dengan pepohonan seindah ini sebuah gunung yang mematikan ?”


Larry mematung melihat pemandangan gunung yang sangat indah, walau jaraknya masih jauh tapi gunung tersebut memancarkan pesona keindahannya. Apalagi, setelah dua hari menempuh perjalanan Larry tidak menemukan rintangan yang berarti kecuali bertemu seekor magical beast lv. 2 yang kini menjadi salah satu undeadnya.


“Sepertinya jaraknya tidak jauh lagi untuk sampai di puncak gunung”


“Dalam dua hari aku pasti sampai nih”


Larry bersenandung ria menikmati perjalanannya kali ini, bukan bersantai-santai, tetapi dia tahu bahwa jika dia buru-buru maka sering terjadi sesuatu yang tak diharapkan.


“hmmmmm..hmmmm..mmmmm” sfx : Nisa Sabyan, ehehe


“Ech,..”


“Apa yang terjadi ?”


Larry mendadak histeris menerima perubahan lingkungan yang terjadi seketika. Baru saja dia masih merasakan ketenangan dari sebuah hutan dengan popohan yang rindang, tapi kini dihadapannya membentang lautan pohon mati dengan hawa yang mencekam.


Sialnya, ketika dia menengok ke belakang, hutan rindang yang baru saja ia lewati kini berubah menjadi pohon mati juga.


Larry berusaha menenangkan pikirannya, ia kemudian mulai menyusuri hutan pohon mati tersebut. Suasananya yang mencekam membuat hutan tersebut nyaris seperti tak berpenghuni.


‘Ah, sepertinya ini yang membuat gunung kematian menjadi salah satu tempat yang paling mematikan’


‘Apakah aku akan mati di tempat ini ya ?’


Malam datang lebih awal ditempat itu, seakan menyambut kedatangan Larry dan menggirngnya menuju jurang keputus asaan. Udara yang awalnya panas dan gersang mendadak berubah menjadi dingin membuat tubuh Larry menggigil. Pakaian Larry yang tidak terlalu tebal memaksa Larry untuk membuat api unggun. Udara di sekitar Larry kembali hangat ketika Larry berhasil memotong salah satu batang pohon mati yang berada disana dan menggunakannya sebagai kayu bakar. Lepas dari mulut harimau, masuk kedalam mulut buaya. Mungkin, kalimat ini paling cocok menggambarkan keadaan Larry saat ini. Api unggun yang ia buat ternyata memancing beberapa magical beast yang bersembunyi didalam tanah keluar, selain itu cahaya yang dipancarkan api unggun juga menarik perhatian magical beast yang berada di hutan tersebut.


“Karena aku berlari sekuat tenaga, sekarang tidak terlalu dingin ya”


“Dasar magical beast sialan, setelah tugasku selesai, akan kuburu kalian semua dan kujadikan bawahanku”


Larry sangat geram dengan kejadian yang menimpanya hari ini, seakan kejutan demi kejutan yang membahayakan nyawa datang dan mementaskannya kepada Larry.


‘Sabar Larry, kamu pasti bisa. Demi bunda, ya demi Bunda’


Larry mulai menenangkan emosi dan pernapasannya.  Dia tahu, bahwa dengan emosi sekalipun tidak akan mengeluarkannya dari masalah dihadapannya.


Larry kemudian memanjat sebuah pohon dan bersandar diatasnya, setidaknya dia tidak akan rawan terserang dari magical beast yang bersembunyi didalam tanah.


Malam terasa sangat lama bagi Larry. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menggosok-gosokan tangan dan menahan rasa dingin yang menjalar ke tubuhnya.


“Eh, tak kusangka bulan malam ini sangat indah”


“Dulu aku juga sering menatap bulan seperti ini, menatap cahaya yang indah dan berdo’a, berharap besok kedua orang tuaku bisa meluangkan waktunya untuk bermain denganku”


Tak terasa Larry terbuai dalam lamunannya, bahkan dinginnya malam itu tak sanggup mengeluarkan Larry dari


lamunannya.


Yoo Minna, maaf ya udah lama gak update. Agak sibuk dan agak males nulis akhir-akhir ini, Banyak tugas kuliah juga, ehehe