
“Mark, ada apa denganmu ? Kau tampak murung hari ini” Mark bersandar di pohon usai menuntaskan latihan harian yang diwajibkan paman asmos kepadanya.
“Sebenarnya, aku merasa pedang bukan jalanku Lar. Walaupun aku menguasainya dengan baik, tapi sering kali aku melakukan kesalahan kesalahan”
“Baiklah, mau coba hal baru ?”
“Maksudmu ?” Mark menatap Larry penuh kebingungan, saudaranya ini semakin lama semakin misterius dimatanya.
“Bangun dan letakkan pedang kayumu”
Ketika mark bangun…
“Terima ini ..” Sebuah tinju meluncur lurus menuju wajah Mark. Sontak Mark menyilangkan kedua tangannya untuk menahan serangan tersebut.
“Apa-apaan ? Kau ingin merusak wajah tampanku ?”
“Hahahaha,, Mark, sepertinya kau lebih cocok menjadi petarung langsung daripada menggunakan senjata”
“Bertarung dengan tangan kosong tentunya memerlukan kelincahan, daya serang dan pertahanan yang besar secara bersamaan”
“Berbeda dengan pedang satu tangan yang lebih memfokuskan pada serangan dan kelincahan daripada pertahanan”
“Bagaimana jika dalam satu minggu ini aku akan melatihmu, aku sedikit paham beladiri tanpa senjata. Apa kau
tertarik ?”
“Hei hei, kalaupun aku bisa bertarung tapi bagaimana aku menghadapi musuh yang menggunakan senjata hah ?” Mark menunjukan ketertarikan dengan usulan Larry, hanya saja dia jarang melihat pendekar tanpa senjata sehingga berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
“Ah, kalau itu, tunggu besok saja, hehehe”
“Aku akan membawakan sesuatu yang menarik untukmu. Aku pergi dulu ya, dadah”
Larry bergegas masuk ke dalam hutan untuk melihat para binatang berbulu putih yang ia ambil dari ternak warga pasca penyerangan para bandit.
“Sepertinya, aku jual saja. Yosh !”
Larry menuntun 2 domba untuk dijual di desa sebelah, dia berhati-hati untuk tidak bertemu warga desanya. Tentunya jadi pertanyaan besar darimana Larry mempunyai domba, pasalnya panti asuhan tempat Larry tinggal tidak mempunyai hewan ternak.
“Kok aku kaya maling ya sembunyi-sembunyi gini”
“Tapi, ini hasil rampasan dari warga juga sih”
“Entahlah, anggap saja bayaran menyelamatkan desa. Ini juga aku lakukan demi kebaikan mereka”
“Permisi, ada orang disini ?” Larry berteriak di sebuah toko yang penuh dengan berbagai macam senjata
“Heh bocah, jangan bermain di toko senjata. Berbahaya. Bermainlah bersama teman-temanmu” Seorang pria berotot tanpa memakai baju mengusir Larry yang sedang memilih senjata.
“Paman, usiaku sudah 15 tahun. Aku bukan bocah, ehehe”
“Ciih, pria dewasapun seperti bocah di mataku. Ada perlu apa kau kemari, kalau hanya melihat-lihat lebih baik kau pergi saja”
“Aku ingin membeli sebuah gauntlet paman. Tapi, untuk senjata utama”
“Hahaha, bocah, permintaanmu sungguh menarik. Ini pertama kalinya sejak aku mendirikan toko pandai besi ada pendekar yang memesan gauntlet sebagai senjata utama”
“Hehehe, bagaimana paman. Apa paman memiliki atau bisa membuat gauntlet seperti itu ?”
“Tentu saja, hanya saja aku tidak memiliki bahan yang cocok. Jika kau dapat menyediakan bahannya, aku akan
menyelesaikannya dalam satu malam, hahaha” Sang pandai besi menepuk dadanya, menunjukan kebanggaannya sebagai pandai besi professional yang memiliki berbagai pengalaman di bidangnya.
“Memangnya apa bahan yang paman butuhkan ?”
“Tanduk Black Minotaur, magical beast level 2”
“Emmzh, bukankah itu sedikit berlebihan paman. Akan sangat sulit mencarinya, tentunya melawannya juga”
“Heh bocah, senjata berkualitas ditempa dari bahan yang berkualitas. Jika kau dapat memberikan sepasang tanduk
Black Minotaur kepadaku, aku pastikan memberikan senjata yang bagus padamu, hahaha”
Larry berpikir sejenak, dia belum tentu mampu melawan Black minotaur sendirian.
‘Jika aku masuk ke mode black Knight dan menggunakan pasukan undeadku, sepertinya masih ada harapan’
“Baiklah, dimana aku bisa menemukan makhluk itu ?”
“Tidak jauh dari sini ada sebuah gunung, biasanya mereka hidup di gua-gua di lereng pegunungan. Ingat jangan sampai kau masuk ke puncak gunung, disana tempat magical beast level 3 berada”
“Baiklah, aku berangkat sekarang paman”
“Hati-hati nak, jangan sampai kau terbunuh. Hahahaha”