
Malam datang secara perlahan, bulan sabit mulai memancarkan sinarnya yang elok dan menawan. Larry, kini sedang mendekat menuju suatu rumah dengan pekarangan penuh tanaman herbal. Ya, Larry kini sedang mendekati rumah tabib yang pernah merawat bundanya.
‘tok tok tok’
“Baik.. baik, tunggu sebentar,… eh.., kaamuuu” Seorang pria paruh baya dengan baju putih dibalut jubah yang sedikit lusuh dan penuh aroma herbal membukakan pintu sebelum tertegun dengan orang yang mengetuk pintunya.
“Lama tak jumpa tuan tabib, bolehkah saya masuk ?” Larry menunjukkan senyum lebar dengan tatapan yang dingin.
“Untuk apa kamu datang kesini, cepat pergi”
“Ahh, jangan sungkan gitu tuan tabib. Wahh, rumah tuan tabib bagus juga ya” Larry langsung menerobos masuk dan duduk di sebuah kursi yang ada di tengah rumah.
“Silahkan duduk tuan tabib, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri ya”
“ …..”
Tabib itu terpaksa duduk bersebrangan dengan Larry, sejak awal dia telah merasa gelisah dengan kedatangan Larry.
“Baiklah, tentunya anda sudah tau apa tujuan saya kesini bukan ? TU-AN TA-BIB”
“a-a-ku tidak tau untuk apa kamu kesini, se-seabaiknya kamu cepat pergi. A-a-ku sibuk saat ini” Tabib itu semakin gemetar melihat Larry memanggil namanya dengan kepala miring dan senyum lebar yang sejak tadi selalu diperlihatkannya.
“Jangan begitu tuan tabib, kita hanya akan berbincang-bincang sebentar. Sesungguhnya, saya baru pulang hari ini dengan membawa air mata black witch sebagaimana yang diminta tuan tabib. Tetapi…, rumah dan keluarga saya tak ada. Apa tuan tabib tahu kemana mereka pergi ?”
Larry mengeluarkan hawa membunuh yang kuat ketika mengatakan keluarganya hilang entah kemana. Ia kini mengambil seekor kucing peliharaan tabib itu, ia membelainya dengan lembut dihadapan si pemiliknya.
“Aku tidak tahu, cepat pergi”
“Benarkah begitu tuan tabib ?”
‘meongg…, krekk’ suara kucing tersebut tertahan ketika kepalanya terkulai lemas karena salah satu tulang penyangga kepalanya patah.
“Ataukah anda ingin mengatakannya nanti kepada saya ?”
“Raise undead” Sebuah lingkaran yang mengeluarkan asap hitam tebal muncul dibawah tubuh kucing tersebut dan mulai menyelimuti semua tubuhnya.
‘meooong’
Kucing tersebut bangun dan menggosokan kepalanya ke tangan Larry.
“Seperti ini” tambah Larry.
“….” Tabib tersebut tersentak menatap kejadian yang ada dihadapannya.
“Bagaimana tuan tabib ?” Larry kembali menatap pria paruh baya yang ada dihadapannya.
“Tidakkk, aku tidak tau apa-apa, tolong cepat pergi, cepat pergi dari sini”
“Baiklah kalau begitu, tak apa. Kita bisa mengobrol kapan saja. Ah iya, mungkin nanti kita bisa berkunjung ke rumah tuan tabib. Iya kan, kucing ?” Larry menatap kucing yang kini telah menjadi undeadnya.
Tabib itu kembali tersentak dan tubuhnya menggigil.
“Itu, itu kepala desa. Kepala desa memintaku untuk mencari lokasi penyimpanan pedang di panti itu. Setelah itu, ia memintaku untuk meracuni semua anak-anak panti termasuk bundamu. Setelah itu, ia datang membawa warga-mengatakan bunda panti adalah seorang pemuja iblis. Ia masuk ke dalam panti dan mengambil pedang tersebut, setelah itu ia menyembunyikannya dan memperlihatkan sebuah kalung kepada warga. Kalung tersebut adalah kalung yang dapat menyembunyikan aura kegelapan secara sempurna. Setelah itu…”
‘glek’
“hmmm ?”
“setelah itu semua warga melempari mereka dengan batu dan membakar mereka hidup-hidup”
“Baiklah, terima kasih atas penjelasannya ya TUAN TABIB, sampai jumpa kembali”
Larry kemudian keluar dari rumah tabib tersebut. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkah kakinya. Dilain sisi, tabib itu terjatuh begitu saja dengan badan tertindih sesuatu. Ia memutar kepalanya dan melihat seekor magical beast duduk begitu saja ditubuhnya. Dari jauh, seekor kucing mendekat ke tubuh tabib tersebut. Kucing itu menjilati tubuhnya sebelum sedikit demi sedikit daging tabib tersebut terkoyak dengan giginya yang tajam.
“Uaahhhhh…”