
Mari biasakan meninggalkan jejak berupa like dan komen. Terima kasih 😊😊
‘Tranggg’
Larry yang sejak awal merasa ada yang aneh dengan sikap kepala desa yang arogan telah waspada sepanjang waktu. Ia mengambil kedua pedang hitam yang ia dapatkan dari dungeon di puncak gunung dan menyilangkannya di dadanya. Kali ini, Larry hanya terdorong mundur tanpa menghancurkan pedangnya.
‘hmmm, karena kualitas pedangnya berbeda, kali ini pedangnya tidak hancur ya, hehe’ Larry bergumam memandangi kedua pedangnya yang tak memiliki goresan apapun.
“Ahhh, sepertinya serangan menyelinap anda gagal, tuan kepala desa”
“Kalau begitu, aku anggap itu sebagai jawaban atas pertukaran dengan istrimu. Emmmm, dark ape-chan mohon bantuannya, hehe”
“Kyaaa… tidakkk..menjauh darii..kuuu” Dark ape yang tadi membawa anak kepala desa kini mendekat kepada istrinya. Kepala desa yang telah kehabisan mana untuk kedua kalinya hanya bisa pasrah ketika tulang leher istrinya remuk ditangan seekor monster.
‘krekkk’
“ITSRIKUUUU…. Kau bangs*t gila. Akan kubunuh kau,,, arggggghhhh”
“Ibuuuu…tidakkkk…ibuuu.. hikss”
“Apakah kalian sangat mencintai wanita itu ? Kalau begitu aku akan berbaik hati untuk mempertemukan kalian kembali, hahaha”
“Emmmzt, nyonya kepala desa karena anak dan istrimu sangat mencintaimu, tolong peluk erat keduanya ya, saya akan berkeliling sebentar” Sontak undead dari istri kepala desa merentangkan tangannya dan menahan pasangan anak dan ayah itu. Dilain itu, Larry bergerak ,menuju ruang kerja kepala desa dan mengambil apapun yang ia anggap penting. Tak lupa ia mampir menuju perpustakaan dan mengambil semua koleksi buku milik kepala desa. Akibat dari ulahnya itu, lima ekor undead dark ape beralih tugas menjadi pembawa barang. Setelah selesai berkeliling, ia kembali ke kamar kepala desa untuk mengucapkan salam perpisahan.
“Hai lagi tuan kepala desa. Saya disini akan undur diri dari rumah anda. Saya harap anda akan baik-baik saja ya setelah kepergian saya, hehe”
“Ah iya, saya ingin meminta salam perpisahan dari anda. Sepertinya pedang yang anda ambil dari panti dan cincin yang anda kenakan cukup untuk salam perpisahan kita. Benarkan nyonya kepala desa ?” Tangan istri kepala desa semakin erat mencengkeram leher keduanya.
“Ahhh..iya-iya.. tentu saja. Semoga anda sehat selalu, tuan Larry. I-iini barangnya” Kepala desa langsung menyerahkan begitu saja cincin yang ia pakai dan pedang yang ia dapat setelah melakukan konspirasi untuk melenyapkan panti asuhan.
“Ahh, terima kasih banyak kalau begitu, hehe. Nyonya kepala desa, saya titip mereka ya. Selamat tinggal” Larry melambaikan tangannya dan berjalan keluar dengan membawa semua hasil jarahannya.
“Bakar rumah itu” Tak lama jeritan demi jeritan terdengar dari rumah kepala desa. Api semakin berkobar ketika satu demi satu obor dilemparkan menuju rumah itu. Anehnya, yang mengeluarkan lolongan jeritan bukan hanya kepala desa dan anaknya. Akan tetapi seluruh warga Desa Carne saling bersahutan melolong kesakitan dan berteriak minta tolong.
Selain suara jeritan para warga, terjadi juga jeritan dari magical beast dari hutan yang dikejar oleh beberapa sosok hitam. Para magical beast itu diarahkan menuju desa yang kini semua penghuninya telah beristirahat untuk selamanya. Kecuali, sepasang ibu dan anak yang saat ini berada di pinggiran hutan. Menatap desa yang telah menjadi tempat mereka bernaung selama bertahun-tahun. Di masing-masing tangan mereka terdapat beberapa kantung uang yang berisi ratusan koin emas.
“Baiklah nak, waktunya kita pergi. Ingat, kita tak pernah menjadi warga dari Desa Carne”
“Baik bu” Seorang wanita paruh baya mengingatkan anaknya agar tak pernah membicarakan hal yang telah mereka saksikan malam itu.