
“Huaaa, semalaman aku tak bisa tidur”
“Malam ini aku harus bisa tidur bagaimanapun caranya”
Selesai sarapan dengan bekal terakhir yang ia bawa, Larry mulai melanjutkan perjalanannya. Sesekali ketika bertemu magical besat level 2 dia memburunya dan menjadikannya bawahan.
“Sial, aku ceroboh”
“Aku lupa bahwa persediaan airku juga telah menipis, kalau begini caranya bagaimana aku sampai ke puncak gunung ?”
Sebagaimana pepatah berkata, habis gelap terbitlah terang. Jika kemarin penuh dengan kesialan, maka keberuntungan Larry terletak dihari ini. Selang 1 jam Larry menggumamkan masalah persediaan airnya, Larry menemukan danau yang besar yang menempati kawah gunung kematian. Gunung kematian bukanlah gunung yang tinggi, tetapi dikelilingi berbagai fenomena aneh yang menyebabkan banyak orang bernasib nahas ketika ingin menjelajahinya. Termasuk danau yang sekarang ada dihadapan Larry. Jika tadi Larry bersorak ria karena masalah persediaan minumnya teratasi, maka sekarang giliran Larry menatap gusar bagaimana dia harus melewati danau tersebut. Satu fakta yang Larry ketahui, dia tak bisa berenang.
“Dulu badanku sangat gemuk, makanya aku gak pernah berenang”
“Jika aku berenang, pasti dibully, dikatain pelampunglah, gentong mengapunglah”
“Sialan, aku jadi gak bisa berenang sekarang”
“Gimana dong ?”
Berjam-jam Larry menatap danau yang ukurannya sangat besar karena mampu mengelilingi sebuah gunung. Tiba-tiba, muncul riak air yang semakin lama semakin membesar tak jauh dari tepi danau tempat Larry melamun.
‘Grooahhh’
Seekor magical beast lv. 3 dengan wujud buaya raksasa menampakkan kepalanya. Larry tersentak dari lamunannya, dia kemudian bergerak menjauhi Raksasa bertubuh kehijauan itu. Buaya itu semakin lama semakin menunjukkan ukurannya yang sesungguhnya, dengan panjang mencapai 20 meter dan kekuatan magical beast lv. 3 membuat semua bulu kuduk Larry merinding. Bagaimana tidak, kekuatan yang Larry punya saat ini hanya terdiri dari magical beast lv. 1 dan 2.
‘siall’
‘bagaimana aku bisa menyeberangi danau itu sekarang ?’
‘Eh, tunggu…’
Sambil menjauhi Buaya raksasa yang menjaga tepi danau, Larry terpikirkan sesuatu.
‘Ternyata, walaupun air danau tersebut tenang. Tersimpan monster ganas dibaliknya’
“Oh Tuhan, ternyata kau sangat memperhatikan aku. Jika kau memperbolehkanku untuk dapat berenang, pastinya aku sudah jadi santapan buaya tersebut.”
“Haaah, ternyata gara-gara aku tak bisa berenang menyelamatkan nyawaku, ahahah”
Larry bersyukur karena tidak memaksakan diri untuk berenang, walaupun jarak yang ditempuhnya tidak akan jauh
jika berenang akan tetapi tidak ada yang tahu apa yang ada dibalik ketenangan air danau tersebut.
“Eh, sepertinya aku terpikirkan suatu rencana”
“Ahahahaha, aku memang jeniussssss”
Malam datang menghampiri kembali, akan tetapi entah kenapa suhu lingkungan didekat danau tidak sedingin ketika
melewati lautan pohon mati. Padahal, jarak antara keduanya tidaklah jauh. Bahkan, Larry dapat tertidur dengan nyenyak diatas ranting pohon yang cukup besar. Seakan, alam membiarkan dia untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Larry bangun pagi-pagi sekali, dia kemudian mendekat kembali ke tepi danau. Memastikan bahwa makhluk besar
berwarna kehijauan itu tidak kemana-mana. Selepas memastikan bahwa makhluk itu tidak kemana-mana, Larry kemudian mendekat ke hutan pohon mati. Dia menggerakan undeadnya untuk membuat keributan sehingga memancing para magical beast yang menghuni tempat tersebut. Sekitar 10 magical beast lv. 2 datang menghampiri
undeadnya, mereka berniat menyerang undead tersebut. Tetapi, undead tersebut langsung meloloskan diri. Tentu saja, para magical beast tersebut tidak mendiamkan hal tersebut. Mereka mengejar undead Larry.
Dilain sisi, Larry memerintahkan undead Black Minotaurnya untuk memancing Buaya hijau itu untuk menjauhi teritori-nya.
‘Ah, rencanaku berjalan dengan mulus’
Sebuah seringai keluar dari seorang pemuda yang memperhatikan para undead menggiring 2 musuhnya untuk saling bertemu.