The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Awal Mula Segalanya



“Dasar **** gendut, sana main sama pembantumu”


“Dasar bodoh”


“hoi, si gendut lemot  udah datang tuh”


Hinaan demi hinaan adalah hal biasa yang Joe nikmati di setiap sudut kehidupan sekolahnya. Entah mengapa Joe masih saja dapat bertahan menghadapi sinisan para siswa konglomerat itu. Mungkin saja karena dia telah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Terkadang bersikap bodo amat adalah jalan hidup paling selamat. Hanya saja, sering kali kita tak selamanya dapat mengeraskan hati untuk terbiasa, apalagi usia muda yang mulai mengenal kata cinta.


Suatu hari Joe menyatakan cinta kepada salah satu  teman sekelasnya, Reina. Dengan mempertaruhkan semua tekad dan keberaniannya, ia mengungkapkan semua isi hatinya yang berbunga.


“R-Reina. K-Kau tahu. S-Sudah lama aku mengagumimu. T-Tolong baca surat ini” Hati Joe berdetak kencang ketika dia dengan gagahnya berjalan ke meja Reina dan menyerahkan sepucuk surat cinta. Reina adalah teman sekelas Joe, bahkan mereka sudah saling mengenal  sejak sekolah dasar. Apakah itu takdir ? entah, mungkin sebuah kebetulan. Yang pasti, inilah drama kehidupan.


Reina, si cantik nomor satu di kelas Joe berjalan mendekati papan tulis. Ia memegang surat yang Joe berikan. Dengan santainya ia membuka amplop surat itu dan membacanya dengan keras.


“Dear Reina. Seiring daun berguguran kau adalah pengisi hatiku. Panasnya musim panas aku berharap dapat mencairkan hatimu. Aku telah menyukaimu sejak kita memasuki sekolah SMP yang sama. Ingatkah engkau, ketika kelulusan kita di SD lalu. Kau pernah membantuku untuk tidak tampil di panggung. Maukah kau menjalani sisa hidupmu bersamaku dan bereproduksi bersama, Reina ? Tertanda Joe, si pemuja hatimu”


'pfft'


‘hahahaha’ seisi kelas bergemuruh dengan suara yang tak dibuat-buat.


“Jika aku tidak melihatnya langsung Joe memberikannya kepada Reina. Aku akan menganggap reina sedang membaca naskah komedi” Celoteh seorang siswi sambil mengusap air mata di sudut matanya. Ia tertawa sampai menangis mendengar isi surat cinta dari Joe.


“oi, joe. Apa kamu gak punya cermin ?” Reina mulai berjalan mendekati meja tempat Joe duduk.


“A-Aku punya kok, bahkan aku punya yang besar di kamarku” Jawab polos Joe diiringi dengan sinar mata penuh harapan melihat Reina mendekatinya.


“Terus kenapa kamu gak ngaca dulu, kamu pikir kamu pantas buat aku ,hah. Wanita gila mana yang sudi dengan cowok idiot kaya kamu”


Deg, Joe hanya bisa tersenyum tipis dengan tanggapan Reina. Memang Joe adalah anak orang kaya terpandang di kotanya. Tapi di sekolah yang sekarang Joe tempati, siswa tajir merupakan hal biasa dan lumrah.


 “Eh kamu tau gak Joe yang dari kelas 8 B ?”


“Iya, emang ada apa sama si idiot itu ?”


“Dia naksir sama Reina. Kemarin dia nembak Reina”


“Apaaaa… Aku yakin dia bukan idiot lagi. Dia gila”


Keesokan harinya, sekolah Joe gempar dengan berita Joe yang menyatakan cinta kepada Reina. Sebagai salah satu idol di sekolah itu, Reina memiliki reputasi yang sangat tinggi di sekolah. Tentu saja siapapun akan menyukainya dan bersaing untuk mendekatinya, itu adalah hal yang normal dan semua orang tau itu. Tapi, jika sudah si pangeran kodok idiot yang mendekatinya, semua orang serempak bersatu untuk mengolok-olok dia.


Joe hanya dapat menjalani harinya seperti biasa. Joe yang tak pernah merasakan kehangatan keluarga, Joe yang sedikit lambat dalam berpikir dan Joe yang tak pernah menerima perhatian seorangan teman, tak seorang pun.


Setelah beberapa hari, ketika ia dalam perjalanan pulang dari sekolah, Joe tiba-tiba teringat sebuah game yang pernah ditawarkan ibunya kepada Joe. Dulu Joe belum terpikir untuk memainkannya, karena Joe harus mengikuti berbagai les dan pelajaran tambahan untuk mengejar ketertinggalannya karena IQ-nya yang rendah. Dulu Joe tidak pernah berpikiran untuk bermain game, karena menyadari bakat dan prosesor otaknya yang lambat. Joe memang siswa yang dibawah rata-rata dalam pelajaran, tetapi dia selalu sungguh-sungguh dalam belajar. Tetapi, apa yang kita usahakan belum tentu menghasilkan seperti yang kita inginkan.


“tok tok”


“tok tok”


“Tuan muda, paket anda sudah datang” suara pembantu Joe memecah lamunan Joe yang tengah sibuk berpikir.


“Ini…” Mata Joe berbinar memandangi peralatan yang ada di depannya. Alat ini yang akan mengantarkannya ke dunia baru. Dunia dimana dia dapat melampiaskan semua yang dirasakannya selama ini. Dunia dimana dia bebas berekpresi tanpa harus terbebani dengan bentuk tubuh bulat dan berjerawat.


“Duniaku akan berubah”, teriak Joe memecah keheningan kamarnya.


Fantasia Online merupakan game yang resmi di luncurkan 3 bulan lalu. Walaupun begitu, penjualan pertama fantasia gear mencapai 10 juta pembelian dalam 1 bulan terakhir. Tak heran game ini menjadi game yang sangat terkenal di berbagai Negara di Asia dan Eropa.


Setelah makan malam, Joe langsung membaringkan tubuhnya dan memasangkan fantasia gear di kepalanya. Joe akan memulai petualangannya di Gracia. Gracia merupakan nama benua yang sangat luas dan dihuni oleh berbagai macam ras.


 ‘Welcome in Fantasia Online”


‘Sebelum memulai petualangan, silahkan memilih karakter anda’


‘Fantasia Online menyediakan beberapa pilihan karakter,yaitu Human, Elf, demi-beast, vampire, dragonewt, demon, dwarf, dan gnome’ Lanjut suara pemandu yang terdengar suara perempuan yang merdu dan sedikit kaku.


“Human”


Apakah karakter anda ingin disesuaikan dengan postur anda di dunia nyata ?


Deg, ‘tubuh ini yang menjadi beban dalam hidupku. Aku harus merubahnya.’ Pikiran Joe meyakinkan dirinya untuk merubah semuanya.


“Tidak”


‘Silakan untuk menyetel karakter anda’


“Supaya terlihat keren, aku harus berpenampilan kurus dengan rambut biru memukau” gumam Joe dalam hati. Joe mengotak atik bagian tubuhnya sambil mengkhayal memiliki postur tubuh seperti pahlawan di acara TV kesukaannya, Saitama.


‘Silakan masukan nama karakter anda’


“Joe”


‘Pemain Joe terkonfirmasi. Anda akan dikirim menuju kota  Sofis. Selamat menikmati petualangan anda’


Tiba-tiba pandangan Joe berubah gelap sebelum cahaya terang menyelimutinya. Ketika ia membuka matanya lagi, ia berada di tengah sebuah keramaian kota.