
Larry kembali ke rumah Nenek Lian dan Lily setelah berhasil menaklukan dungeon zombie dipuncak gunung. Hanya saja, setelah kembali ia terkapar selama tiga hari sebelum siuman kembali. Larry mengobati patah tulangnya dengan potion penyembuh kelas rendah yang ia buat sebelum berangkat ke gunung kematian. Walau kurang efektif, tapi dengan jumlah yang lumayan banyak ia dapat menyingkat waktu penyembuhannya dalam empat hari.
“Larry, waktunya makan lagi. Ayo buka mulutnya …Aaaa”
Wajah Larry memerah menerima perawatan dari Lily. Selama sakit, Lily-lah yang selalu menjaganya. Selama Larry pergi menantang dungeon, Lily tak henti-hentinya mengkhawatirkan Larry. Walaupun ia tahu bahwa kepergian Larry sebagai syarat mendapatkan air mata black witch miliknya. Air mata black witch merupakan tetesan air mata berwarna hitam berkilau. Itu merupakan sesuatu yang hanya didapat dari seorang black magician ketika menginjak usia remaja.
Malam ketika seorang perempuan black magician menginjak usia remaja, ia akan merasakan sakit yang luar biasa sampai mengeluarkan air mata yang dikenal dengan air mata black witch. Orang-orang percaya bahwa malam itu adalah malam pembaptisan seorang black magician oleh para iblis.
“Larry, kemarilah” Nenek Lian memanggil Larry.
“Apa yang kau dapat setelah mengalahkan dungeon zombie ?”
Larry mengulurkan sebuah buku tua, sepasang pedang pendek dan sebuah cincin. Nenek Lian memeriksa semua barang satu persatu. Ia tertegun melihat buku tua yang ia pegang. Nenek Lian berpikir sejenak sebelum memberikannya kembali kepada Larry.
“Pelajarilah, ini akan membantu seorang Necromancer sepertimu”
“Nek, apa nenek tahu kegunaan dari grimoire ini ?” Larry menanyakan kegunaan buku tersebut, hal ini karena Larry merasa suatu panggilan dari grimoire tua dihadapannya. Ia merasakan sesuatu yang tak asing darinya.
“Apa kamu tau apa saja unsur penyusun makhluk hidup ?” Larry diam mengamati wanita tua dihadapannya. Larry tak memberikan jawaban karena ia tahu bahwa pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab, tapi sebagai pengantar penjelasannya. Nenek Lian melanjutkan.
“Secara umum, makhluk hidup terdiri dari dua unsur, tubuh dan jiwa”
“Ketika terkumpulnya jiwa dan tubuh maka kita dapat membentuk suatu organisme kehidupan” Terang Nenek Lian.
“Bukankah kamu merasa bahwa tubuh para undeadmu sangat lemah ?”
“Grimoire dihadapanmu adalah grimoire kegelapan yang dapat merekontruksi jasad makhluk hidup”
“Asal kamu tahu, ketika kamu melakukan pemanggilan jiwa, tubuh asli dari monster yang kamu panggil jiwanya dijadikan persembahan sebagai pertukaran antara jiwa yang kau panggil.”
“Baiklah nek, aku akan gunakan grimoire ini” Larry menatap lekat grimoire dihadapannya.
“Sebelum itu, serahkan dulu semua barang dari dungeon kepadaku” Pinta Nenek Lian
“Malam ini, kita akan melakukan sebuah upacara. Baiklah, kamu dapat melakukan aktivitas kembali”
Setelah melakukan pembicaraan dengan Nenek Lian, Larry dan Lily pergi ke tepi danau. Mereka menyusuri keindahan dari hamparan aie tanpa ombak yang ada dihadapannya. Sesekali riak air akan terlihat diikuti ikan-ikan kecil yang melompat riang seakan menyeponsori keromantisan dari dua sejoli yang kini sedang menumbuhkan gelora-gelora asmaranya.
“Larry, kamu kenapa ?” Lily menatap pria dihadapannya yang kini tampak mencemaskan sesuatu. Matanya menatap jauh menuju arah Desa Carne.
“Entahlah Lily, sejujurnya hatiku sedang gelisah”
“Eh, bukan aku gelisah karena rencana pernikahan kita. Aku, .. aku sedang terpikirkan keluarga pantiku. Entah kenapa hari ini aku merasa hatiku sangat sakit, cemas, khawatir dan bingung. Aku gak tau kenapa” Larry buru-buru mengoreksi ucapannya, takut bidadari dihadapannya akan salah paham akan suasana hatinya yang kacau.
“Emmzt, Larry. Kamu yang sabar ya. Aku yakin bahwa keluargamu disana akan baik-baik saja. Nenek bilang tiga hari setelah pernikahan kita kamu dapat kembali ke Desa Carne. Ta-tapi, maafkan aku. Nenek juga bilang aku belum boleh ikut ke Desa menemani kamu”
“Iya, tak apa. Makasih ya, SAYANG”
Hari itu, pertama kalinya Larry memeluk seorang gadis perempuan. Lily menyandarkan kepalanya di bahu Larry. Menatap masa depan yang sebentar lagi akan dipertaruhkan kepada lelaki si pencuri hati.