The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Camp Goblin



Setelah selesai berlatih pedang


di Training Hall, Joe di wajibkan untuk mengambil sebuah misi kepada NPC oleh


instrukturnya. Misi tersebut meminta Joe untuk membasmi 3 goblin berlevel 7.


Merasa levelnya lebih tinggi, tanpa pikit panjang Joe langsung pergi menuju camp goblin . Camp tersebut


Joe ketahui dari salah satu NPC yang iya tanya.


30 detik setelah menerobos camp,


Joe di teleport kembali ke kota Sofis. Joe terbunuh oleh salah satu goblin


warrior berlevel 25. Camp tersebut merupakan camp kecil, hanya dihuni oleh 20


goblin biasa, 5 goblin warrior dan 1 goblin shaman, tetapi jika menerobos


langsung tanpa rencana maka itu bunuh diri namanya.


“Dimana aku ?”


“Ech, kepalaku menyambung kembali”


Joe masih mengingat ketika dia dengan gagahnya berlari memasuki camp goblin


sambil mengacungkan pedangnya.


“Jleg” sebuah tebasan pedang


tiba-tiba memutuskan saluran pernapasan Joe.


Sesaat setelah Joe kehilangan


kepalanya, Joe terbangun di sebuah altar. Altar tersebut berada di bangunan


yang berada di tengah kota Sofis. Setiap player yang terbunuh akan langsung di


teleport ke altar yang ada di Balai Kota di kota terakhir yang ia kunjungi.


Selain itu, setiap player yang terbunuh juga akan kehilangan 1 level dan 2 poin


statusnya.


Joe sangat geram ketika


mengetahui bahwa levelnya turun. Joe merasa frustasi dan membatalkan quest yang


ia terima. Joe menyalahkan HP (Health Point) miliknya yang sangat kecil. HP


yang Joe miliki hanya 50, akhirnya Joe memasukkan semua sisa poin-nya ke VIT


sehingga HP-nya kini sebanyak 124. Setiap satu poin status akan menaikkan poin


VIT sebanyak 4. Hari itu Joe langsung Log-out karena kesal dengan levelnya yang


menurun.


“Joe, kamu telah berlatih selama


4 hari, tetapi kamu sama sekali belum bisa menghancurkan satu boneka kayu pun.”


Biasanya setiap player baru yang


mengambil Job knight sudah bisa menghancurkan 1 boneka pada hari pertama atau


kedua. Joe hanya terdiam mendengarkan ceramah panjang kali lebar yang diberikan


oleh instrukturnya.


Hari itu, Joe pergi ke pinggir


hutan yang sepi dan berlatih berpedang sendiri. Selama 3 hari dia hanya


“Sepertinya aku tidak berbakat


dalam berpedang. Sepertinya aku harus merubah job-ku.” Batin Joe meratapi


latihannya 3 hari berturut-turut tidak membuahkan hasil apapun


“Arghh, sial” Joe membanting keras pedangnya.


‘Teng Tong’ tiba-tiba layar notikasi muncul didepan Joe


“Ech”, sejenak nafas Joe terhenti


Level Up !


Sword Mastery Lv. 2


“Aku berhasiiiilll”


“horeeee” sorak kebahagiaan Joe


menggema sampai  ke kedalaman hutan.


Seperti kata pepatah Selama kita


berusaha, maka semua akan ada jalannya.


Joe kembali ke kota dengan wajah


ceria. Hari itu, Joe berniat untuk menjual potion yang ia buat dengan skill


alkemisnya. Setiap selesai berlatih pedang, Joe akan memetik bahan dasar untuk


membuat  potion kemudian menukarnya


dengan beberapa botol kecil kosong dan sisanya ia buat potion. Tak disangka,


ternyata potion buatan Joe memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Selain


kebodohannya, Joe ternyata memiliki kelebihan yaitu keberuntungan yang tinggi.


Mungkin ini stau-satunya hal yang dapat Joe banggakan.


Tak lupa Joe menggelar dagangannya berupa 20


botol potion kecil yang dia hargakan 20 Forint untuk setiap botolnya. Tak butuh


waktu lama sebelum semua potion tersebut habis terjual. Joe memang sedikit


telat dalam berpikir, tetapi itu menjadi motivasinya untuk lebih giat lagi.


Hari itu Joe mendapatkan 400 Forint dengan usahanya sendiri.


Potion merupakan item yang sering


digunakan oleh para player maupun NPC, tetapi stok-nya sering kali habis.


Banyak para guild yang membutuhkan banyak potion untuk memudahkanya ketika


melakukan perburuan. Hal ini memang bisa diantisipasi dengan player ber-job


Healer tetapi keterbatasan mana dan lemahnya para Healer menjadi pertimbangan


sendiri.


Hari selanjutnya ketika Joe


hendak menggelar dagangannya, seorang demi-beast berjirah keperakan dengan


pedang besar dipungguhnya mendekat menghampiri Joe.