The Returning Point Of The Legend

The Returning Point Of The Legend
Episode 27 Racun



Larry melesat maju dengan tambahan delapan undeadnya. Satu demi satu para zombie yang ada didepan gua mati tercabik atau hancur dengan kepalan tinju milik Larry. Dia masih belum menggunakan kekuatan sepenuhnya, baik para undead maupun mode black knight miliknya. Larry juga tengah belajar mengalirkan dan mengontrol mananya untuk melindungi kepalan tinjunya ketika memukul dan menghancurkan pasa pasukan tulang yang dibalut seonggok daging.


Dengan bantuan Larry dan sepuluh pasukan undeadnya, para zombie yang menjaga pintu masuk telah jatuh sepenuhnya. Kini Larry melanjutkan penjelajahannya memasuki kedalaman dungeon yang sedang ia tantang. Tak lupa ia juga menghabiskan rasa penasarannya dengan mencoba membangkitkan zombie yang telah ia bunuh. Hasilnya, para zombie tak dapat ia ubah menjadi undead. Dengan demikian, satu fakta telah Larry peroleh kembali, bahwa untuk membangkitkan undead miliknya terlepas dari harus ia sendiri atau pasukan undednya yang membunuh target maka tergetpun harus murni makhluk hidup.


Lebar gua yang hanya sepanjang dua meter dengan ketinggian hanya 3 meter membuat pergerakan Larry menjadi terbatas. Hal itu juga mempengaruhi pasukan undead yang ia panggil, dari tiga puluh pasukan undeadnya, yang dapat membantu menaklukan dungeon ini hanya dua belas yang memiliki ukuran cocok untuk dapat bertarung. Itupun pergerakan mereka sangat terbatas, hanya Larry tak memiliki banyak pilihan selain bertarung seadanya.


“Haaah, sepertinya dungeon ini akan sedikit merepotkan” Larry hanya bisa menghela napas ketika memikirkan keadaannya saat ini. Untuk dapat datang ke gunung kematian saja telah membuatnya kehabisan senjata dan kehabisan undead sebelumnya. Kini, ia hanya bisa menggunakan 12 undeadnya dan tak memiliki sebilah senjata apapun.


“Tunggu, ada yang salah dengan ini” Larry memeriksa kembali keadaannya. Dia menoleh ke belakang, samping dan depan lebih waspada dari sebelumnya. Terakhir ketika ia melawan para zombie yang menjaga depan gua sampai ketika ia memasuki kedalaman gua, ia tak bertemu dengan musuh apapun.


Dalam pertempuran, terlalu mudah dan terlalu sulit bukanlah hal bagus. Jika pertempuran terlalu sulit  itu adalah tanda konfrontasi yang jelas dimana ia harus mengerahkan semua kekuatannya untuk mengalahkan musuh. Akan tetapi, jika pertemputan terlalu mudah sampai tak ada musuh yang menghadang ketika kita memasuki sarang musuh itu adalah tanda konfrontasi tersembunyi, lebih jelasnya terdapat jebakan yang mengintai, yang sewaktu waktu dapat merenggut kehidupannya.


Tak lama ketika Larry menjelajah lebih dalam menujua gua, ia memasuki sebuah tempat yang mirip dengan aula. Ketika ia dengan hati-hati menuju ke tengah aula, ia tak menemukan apapun. Larry semakin meningkatkan penjagaannya.


“Brukkk”


Sebuah batu besar tiba-tiba menutupi lorong jalan yang ia lewati tadi. Kini, Larry terjebak dalam dungeon tersebut tanpa tahu harus melakukan apa.


“Brrrrr”


Tak lama setelah pintu keluar satu-satunya tertutup, 5 buah pintu terbuka dari dinding-dinding gua. Ratusan zombie melesat keluar menerjang menuju Larry dan para undeadnya. Karena aula gua tersebut memiliki luasnya yang lumayan, Larry dapat menggunakan 10 undeadnya secara serentak. Dengan posisi melingkar, satu demi satu zombie yang menyerang dimusnahkan oleh para undeadnya. Setelah konfrontasi beberapa lama, undead milik Larry mulai menelan korban. Larry dengan sigap langsung mengganti undead yang telah mati. Setelah sekian lama, keadaan masih dalam kondisi yang dapat Larry kendalikan. Akan tetapi, sebuah gas hijau mulai mengalir dari pintu masuk yang terbuka di dinding gua.


“Sial, itu racun” Larry hanya dapat mendengus kesal melihat gas hijau yang mulai mendekati dirinya. Sebagai seorang alkemis, tentunya ia paham dengan mudah tentang racun yang sebentar lagi akan menyerangnya.