
--aUTHOR POV--
Castor tengah menggandeng tangan Vivi sekarang, diikuti oleh Helios dan Blaze di belakang mereka.
"Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi, sebaiknya kita menunggu di ruangan yang ada di dekat aula Pesta sambil menunggu Ibu dan juga Kaisar" kata Castor yang di anggukki oleh Helios dan Blaze.
"aku setuju, akan lebih baik jika kita masuk secara bersamaan" kata Helios yang menyetujui usulan dari Castor tadi.
mereka berempat pun masuk ke dalam ruangan yang tepat berada di sebelah aula Utama nanti, Vivi langsung berjalan menuju balkon di ruangan itu. matanya terbelalak dengan kagum dengan hiasan-hiasan yang menyala dengan sangat indah yang menyinari sepanjang jalan di istana. Terlihat juga begitu banyak kereta kuda yang di naiki oleh para bangsawan yang berlalu lalang di bawah sana.
Ruangan ini memang berada di lantai tiga, jadi mereka bisa melihat para keluarga bangsawan yang mulai berdatangan.
"Uahh... mereka sudah mulai berdatangan ya" kata Blaze yang sudah berada di sebelah Vivi dan membuat Vivi terlonjak kaget.
"a---Kak Blaze mengejutkanku...." kata Vivi dengan nada yang pelan namun masih jelas terdengar di telinga Blaze.
Blaze nyengir tanpa dosa, "maaf, maaf... aku sama sekali tidak berniat untuk mengejutkan Vivi kok"
Vivi yang melihat Blaze yang tersenyum seperti itu pun menghela nafas, "baiklah, aku akan memaafkan Kakak untuk yang satu ini"
Blaze pun tertawa kecil, "terimakasih adikku tersayang!"
Hening...
Selanjutnya keheningan terjadi di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara hiruk pikuk di bawah sana.
"Oh ya Vivi... apa kamu percaya dengan yang namanya takdir?" tanya Blaze tiba-tiba.
Vivi mengangkat alisnya, ia mendadak merasa aneh dengan pertanyaan dari Blaze yang tiba-tiba saja membahas takdir.
"Tentu aku percaya dengan adanya takdir Kak, memangnya kenapa?" kata Vivi balik bertanya.
"Apa kau percaya jika manusia bisa merubah takdir?" Blaze bertanya lagi dengan nada yang pelan dan membuat Vivi langsung tersentak.
Apa maksudnya. Blaze, mengubah takdir? Itu memang sudah Vivi rencanakan ketika ia pertama kali kembali ke masa lalu. Berusaha menjadi lebih kuat untuk melindungi Ibunya dan juga Diana. Ia ingin mencegah kematian mereka dan itu saja ia melawan takdir.
Vivi mengigit bibirnya, ia sudah kembali ke masa lalu, ia tidak boleh membiarkan semuanya sama seperti yang ada di kehidupan sebelumnya. Keluarganya yang hancur setelah kedatangan Emira dan Kayla di tengah-tengah mereka. Rasa curiga yang semakin kuat lagi pada Emira dan Kayla yang memiliki sihir kegelapan setelah Vivi mendalami lagi pengetahuannya tentang sihir kegelapan.
Vivi seketika menyadarinya, cara halus seperti ini tidak akan bisa melawan takdir. Ia harus lebih agresif lagi untuk melawan takdir. Ia.... Harus lebih menguatkan mentalnya lagi. Karena ia tahu, saat ini musuhnya adalah Kaisar karena ia sudah merencanakan untuk memperkenalkan Emira dan juga Kayla.
Ia harus melakukan sesuatu yang lebih nekat lagi....
Sebuah rencana terbesit di benak Vivi, benar! Itu caranya! Dengan mata yang memancarkan kecerdikan itu, ia tersenyum ke arah Blaze, "banyak orang yang mengatakan kalau takdir memang tidak bisa di rubah, hanya nasiblah yang bisa. Namun aku tidak peduli akan hal itu, jika memang aku ingin merubah takdir yang ada, aku harus berusaha untuk mengubahnya. Meski gagal, aku tidak akan pernah menyerah!"
"Hehe, kau benar. Kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha dengan maksimal. meski gagal jangan menyerah" ujar Blaze dengan senyumannya itu.
Vivi menatap ke arah Blaze, sekarang Vivi merasa benar-benar berterimakasih pada Blaze karena percakapan ini akhirnya membuatnya ia tersadar. cara halus atau kekanakan seperti caranya saat ini tidak akan bisa merubah takdir yang ia ingin rubah. Dan... Untuk itu, langkah pertama adalah jangan biarkan kedua pasangan Ibu dan anak itu sampai masuk ke dalam keluarga mereka dan di akui sebagai anggota keluarga Kekaisaran!
Pintu ruangan itu terbuka, di sana terlihat Ivona yang berjalan masuk ke ruangan itu dan di belakangnya ada Kaisar yang sudah memakai setelan pakaian yang dengan mereka semua.
Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sebelum acara pesta di mulai, jadi Kaisar memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan camilan ringan untuk mereka semua. Setelah sama-sama duduk di sofa yang ada di ruangan itu, Vivi pun mulai menjalankan rencananya.
"Kalian tahu, sebulan yang lalu aku datang ke tempat seorang Gipsi pengembara lohh" kata Vivi yang memulai pembicaraan.
"Eh, kenapa Vivi ke tempat seperti itu?" tanya Helios.
"Tentu saja untuk di ramal!" Seru Vivi dengan nada cerianya.
"Heh... Jadi apa yang di katakan oleh gipsi pengembara itu kepada Vivi?" tanya Ivona dengan senyuman lembutnya.
"Aku akan menjadi sangat kuat dan menikah dengan pria yang sangat tampan hehehe" seru Vivi lagi.
Mendengar kata 'menikah' itu membuat para pria di keluarga Kekaisaran diam mematung.
'Me-menikah?! Vivi akan menikah?!' batin ketiga Kakaknya.
'Putriku itu milikku... ' pikir Kaisar yang mulai geram dan mulai berencana untuk mencari gipsi pengembara itu yang sudah meracuni otak polos Vivi-nya.
"Tapi.... " dengan mendadak, Vivi sangat murung, "meski aku menjadi kuat dan menikah dengan pria tampan, ada sebuah halangan yang menghalangi cintaku dengan pria yang akan menjadi suamiku nanti. Katanya ada seorang wanita yang sangat jahat yang membenciku dan juga mengancam nyawaku dan juga pria itu... Gipsi itu tidak menjelaskan kalau aku akan hidup bahagia nantinya karena wanita itu akan merebut semua hak milikku, posisiku sebagai satu-satunya Tuan Putri, para Kakak, Ibu, Ayah dan cinta rakyat akan di rebut oleh wanita itu dan seakan tidak puas, wanita itu ingin merebut pria yang sangat ku cintai nantinya"
Ivona menatap tidak percaya pada Putrinya itu, bagaimana bisa seseorang meramalkan masa depan Vivi yang begitu tragis seperti ini?
Sementara Castor dan Helios juga tampak marah karena berani-beraninya ada seseorang yang meramalkan Vivi seperti itu!
Horus sendiri. juga semakin geram, ia sudah berencana untuk mencari gipsi pengembara itu lalu aku ia bunuh saat ia menemukannya nanti.
Dan Blaze, ia menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya. Merasa sedikit dejavu yang di ceritanya oleh Vivi itu.
"Ah! Gipsi itu juga menyebutkan nama dan ciri-ciri sekilas wanita yang sangat jahat itu!" seru Vivi dengan nada yang seperti ia mengingat sesuatu dan kelima anggota keluarganya itu pun memasang telinga mereka baik-baik, "wanita itu memiliki rambut panjang bergelombang dan berwarna bagaikan mawar merah namun memiliki kepribadian yang sangat busuk dan memiliki dendam tersendiri padaku, aku bertanya pada Gipsi itu kenapa wanita itu membenciku tapi Gipsi itu tidak memberitahu apapun karena katanya ia sudah sedikit berlebihan mengungkapkan masa depanku tapi sebagai gantinya Gipsi itu memberitahuku nama wanita itu sebagai peringatan bahaya jika wanita itu masuk ke dalam kehidupanku. Nama wanita itu adalah Emira"
Seketika saja semuanya (minus Blaze) membeku. Nama yang mereka sudah tahu dan memang memiliki hubungan dengan Vivi.
"Ah, iya. Sudah waktunya kita ke pesta! Ayo kita ke sana bersama-sama!" kata Vivi yang langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu.
Sebelum ia membuka pintu, Vivi membalikkan badannya dan berkata dengan senyuman percaya dirinya, Dan.... Jika ada wanita yang bernama Emira di sana, aku akan langsung mengusirnya dari istana ini karena aku takut jika ramalan itu menjadi kenyataan. Karena, aku adalah satu-satunya Putri Kekaisaran Eilidh dan juga yang menjadi pilihan dari Sang Dewa Matahari!"